Apa Peran Guru Sesungguhnya ?

Blangkejeren, Investigasi.news-Guru sebagai penjaga moral atau kekuatan moral yang sangat kokoh. Untuk itu, tampaknya perlu diurai tentang peran, fungsi, dan posisi guru saat ini, yakni guru harus menjadi penjaga moral bangsa.

Hal ini disadari wilayah tugas guru berkaitan dengan aspek nilai-nilai kemanusiaan.

Salah-salah ketidakharmonisan tatanan masyarakat dipersalahkan kepada sistem pendidikan, yang guru salah satu penentunya.

Tugas guru sebagai penjaga moral atau kekuatan moral (moral of force) harus disadari sepenuhnya oleh para guru.

Mengingat, tuntutan ketiga kompetensi dari empat kompetensi yang harus dimiliki guru bermuara pada tuntutan nilai-nilai kemanusiaan dan nilai moral, baik kompetensi pedagogik, kepribadian, maupun sosial.

Oleh karena itu, kompetensi profesional menyangkut bidang keahliannya harus dibungkus oleh wilayah moral.

Dalam konteks ini sungguh mulia tugas guru yang notabene kesejahteraan masih wilayah tarik-ulur.

Kemuliaan ini tentu saja didasarkan pada tantangan tugas pasukan guru.

Mulai pergaulan seks bebas (free sex) dikalangan remaja yang sudah taraf sangat mengkhawatirkan (baca “Gelombang kejahatan seks remaja Moderen” yang diantaranya mengutip hasil penelitian , terbukti mereka ada yang berhubungan intim disekolah, selain dirumah , taman, mobil, dan hotel.

Selain itu, kebrutalan pelajar ingat salah satu kasus siswa STM di Jakarta yang dibacok kepalanya saat naik bus yang kebetulan naik dibagian pintu sampai narkoba yang telah merambah sebagai pelajar.

Ditambah pula, adanya pergeseran-pergeseran perilaku siswa yang diindikasikan terjadinya degradasi moral, seperti: kurang hormat pada guru, pergaulan diantara siswa yang begitu bebas, sampai masalah pornografi dari hand phone yang dimiliki siswa.

Membenahi realitas ini tidaklah mudah.
Guru harus memiliki komitmen yang sangat kuat dalam bidang tugasnya.

Selain itu, guru harus memiliki landasan pedagogis yang sangat kuat.

Lebih dari itu, guru harus memiliki kepribadian sebagai insan Kamil, yang secara konkret dapat dijadikan acuan oleh para siswa dalam menemukan contoh pribadi yang memiliki religiusitas, moral, dan etika.

Personifikasi guru yang demikian diharapkan akan berdampak pada adanya jalinan, pikir, rasa, dan hati.

Lebih lanjut, siswi sekolah kejuruan dimakassar juga pernah terjadi akibat pergaulan diantara siswa yang begitu bebas, sampai juga masalah pornografi dari hand phone yang dimiliki siswa.

Sekali lagi, pendidikan tidak sekedar dimaknai sebagai transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), tetapi pemindahan rasa dan juga jalinan hati.

Tentu saja sang guru pun harus punya pribadi yang diteladani.

Sebaik-baik teladan bagi muslim yaitu Nabi Muhammad Rasulullah Saw.

Keberhasilan Muhammad Saw, dalam berbagi bidang, termasuk bidang pendidikan bermuara pada satu resep yang sangat jitu: “beliau menyuruh sesuatu yang sudah dikerjakannya, dan menjauhi apa yang dilarangnya” (hadish).

Kata kuncinya, bersatunya kata dan perbuatan.

( T A F S I R )