Pagi ini, saat penulis jogging melintasi dua kecamatan—Kamang Magek dan Tilatang Kamang—udara terasa segar, embun pagi masih menempel di dedaunan, dan kicauan burung mengiringi langkah ringan penulis. Saat melewati jalan dekat Pakan Senayan, terdengar suara roda sepeda kecil berdecit dari belakang. Tak lama, seorang anak kecil mengayuh sepedanya dengan semangat, mendekati penulis, lalu tiba-tiba berhenti dan mengulurkan tangannya.
Penulis menyambut uluran tangannya dengan kehangatan, “Mohon maaf lahir dan batin,” ucap penulis, tersenyum.
“Nama saya Arif,” jawabnya dengan suara lembut dan penuh rasa hormat.
Arif tampak cerdas dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Ia langsung melontarkan beberapa pertanyaan, “Siapa nama Om? Di mana rumah Om? Om punya anak berapa?” Penulis menjawab satu per satu, kagum dengan kepolosan dan keberanian anak itu dalam bertanya.
Setelah itu, dengan nada penuh ketulusan, Arif berkata, “Sanang anak Om yo, bisa rayo jo Om.” (Senang anak Om ya, bisa Lebaran bersama Om.)
Penulis pun bertanya, “Arif juga senang, kan?”
Namun, senyum kecil di wajahnya sedikit memudar. Ia menggeleng pelan. “Tidak, Om. Papa Arif di Palembang. Arif tinggal sama Bunda di rumah.”
Ada kesedihan yang terpancar di matanya, tetapi ia tetap berusaha tegar. “Tadi Arif lihat Om lari sambil angkat tangan ke Arif pas lewat depan rumah. Terus Arif kejar, ingin salam sama Om.”
Jawaban itu seketika membuat penulis terdiam. Di usia sekecil itu, Arif sudah merasakan kehilangan dan rindu yang mendalam kepada sosok ayahnya. Namun, ia tetap berusaha untuk tersenyum dan berbagi kebahagiaan di hari yang fitri ini.
Arif kini duduk di kelas 6 di SD Pakan Senayan. Dengan antusias, ia bercerita tentang impiannya. “Nanti setelah tamat SD, Arif mau lanjut ke Yati, Om. Doakan ya, Om, semoga Arif bisa jadi ustaz dan kita bisa ketemu lagi.”
Percakapan terus berlanjut di sepanjang perjalanan. Arif begitu ramah, penuh semangat, dan santun. Meski baru pertama kali bertemu, ia sudah memperlihatkan sikap hormat dan rasa persaudaraan yang begitu erat. Penulis dapat merasakan betul bagaimana rindunya ia terhadap sang ayah yang jauh di perantauan.
Saat tiba di Masjid Muhammadiyah Pakan Senayan, penulis mengajak Arif untuk sarapan bersama. Namun, dengan sopan ia menolak, “Arif sudah makan pagi, Om.”
Penulis pun berniat memberinya THR sebagai tanda kasih. Namun, sekali lagi, dengan lembut Arif menolak. “Kemarin Arif sudah dapat THR, Om. Cukup untuk Arif.”
Penulis terdiam sejenak, terharu dengan keteguhan hatinya. Seorang anak kecil yang memiliki rasa syukur yang begitu besar, yang tak serakah, yang begitu memahami arti kecukupan. Dalam hati, penulis berpikir betapa beruntungnya orang tua yang memiliki anak seperti Arif—santun, mandiri, penuh adab, dan memiliki hati yang bersih.
Sebelum berpisah, penulis memberikan alamat kepada Arif, baik di kampung maupun di tempat dinas. “Kalau ada waktu, mampir ya, Arif. Kita bisa berbincang lagi.”
Arif mengangguk dengan senyum lebar. “InshaAllah, Om. Arif senang sekali ketemu Om hari ini. Semoga kita bisa ketemu lagi.”
Penulis melangkah pergi dengan hati yang hangat. Dalam pertemuan singkat ini, Arif telah memberikan pelajaran berharga tentang ketulusan, kesantunan, dan arti syukur yang sesungguhnya. Anak kecil itu telah meninggalkan kesan mendalam, dan penulis yakin, suatu hari nanti, ia akan menjadi seseorang yang membawa kebaikan bagi banyak orang.
Penulis: Hasneril, S.E