Bantu Anak Usia Dini Melabeli Emosi

More articles

spot_img

 

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran kemampuan anak prasekolah mengekspresikan emosi yang terdiri dari aspek verbal berupa pengungkapan secara verbal mengenai apa yang dirasakan, aspek nonverbal yang dapat teramati berupa gesture dan ekspresi wajah serta pemahaman emosi berupa memberikan label mengenai emosi yang dirasakan oleh mereka serta hal-hal yang dapat memunculkan reaksi emosi tersebut. Penelitian dilaksanakan di TK Lignita 1 terhadap 1 orang anak. Penelitian yang dilaksanakan ini merupakan penelitian dengan pendekatan penelitian kualitatif, serta menggunakan metode studi pustaka atau library research.Tujuan penulisan ini untuk mengetahui dan mendeskripsikan emosi anak usia dini.

Katakunci:Emosi Anak Usia Dini

Abstract

Thisresearchaimstoprovideanoverviewofpreschoolchildren’sabilitytoexpress emotionswhichconsistsofverbalaspectsintheformofverbalexpressionsofwhat theyfeel,non-verbalaspectsthatcanbeobservedintheformofgesturesandfacial expressionsaswellasunderstandingemotionsintheformoflabelingtheemotions they feel as well as other things. things that can trigger these emotional reactions. The research carried out is research with a qualitative research approach, and uses thelibraryresearchmethod.Thepurposeofthiswritingistofindoutanddescribe the emotions of early childhood.

Keywords:EarlyChildhoodEmotions

PENDAHULUAN

Anak usia dini adalah generasi penerus bangsa yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan selama masa kehidupannya. Pada masa usia dini anak merupakan masa anak mulai peka atau sensitif untuk menerima berbagai rangsangan untuk semua aspek perkembangannya agar tumbuh secara optimal. Menurut Suryana (2013:25)anak usia dini adalah sosok individu sebagai makhluk sosio kultural yang sedang mengalami proses perkembangan yang sangat fudamental bagi kehidupan selanjutnya dan memiliki beberapa karakteristik.

Pendidikan merupakan upaya bagaimana aktivitas pendidikan yang dapat memberikan bekal ilmu pengetahuan dan pengembangannya, penanaman nilai-nilai dan bekal keterampilan mengatasi masa depan hingga generasi penerus mempunyai bekal kemampuan dan kesiapan untuk menghadapi tantangan masa kini dan mendatang.

Emosi adalah perasaan atau afeksi yang muncul ketika seseorang sedang berada dalam suatu keadaan atau interaksi yang dianggap penting olehnya, terutama kesejahteraan dirinya (Campos, 2004; Sarni, dkk.,2006 dalam Santrock 2007). Emosi ditampilkan dalam bentuk perilaku yang mengekspresikan kenyamanan atau ketidaknyamanan seseorang terhadap keadaan atau interaksi yang sedang dialami.Emosi juga berbentuk sesuatu yang spesifik sepertirasasenang,takut,marahdsb, juga berbeda dalam intensitasnya (Santrock, 2007). Emosi meliputi perubahan fisiologis yang spesifik, proses kognitif, ekspresi verbal dan nonverbal serta kecenderungan untuk bersikap (Oatley & Jenkins, 1996 dalam Prosen & Vitulic, 2017).

Menurut Lewis(2002),emosi terdiri dari dua tipe. Pertama, emosi primer, misalnya terkejut, senang, marah, sedih, takut dan jijik. Emosi primer ini juga muncul pada hewan, dan pada manusia akan mulai muncul mulai dari 6 bulan pertama kehidupannya. Kedua, emosi yang disadari (self conscious emotion) yaitu empati, cemburu dan kebingungan (1,5-2 tahun); bangga, malu dan bersalah yang muncul di Usia 2,5 tahun. Emosi ini memerlukan kognisi, terutama kesadaran diri. Kompetensi emosional merujuk kepada kemampuan seseorang untuk mengekspresikan, memahami dan meregulasi emosinya (Denham, 1998 pada Bosacki & Moore, 2004). Pada anak usia dini, kemampuan untuk memahami dan meregulasi perasaannya merupakan satu kunci kemajuan (Dennis, 2006). Anak yang mampu memahami emosinya akan lebih mampu untuk mengendalikan cara mengekspresikannya serta memiliki kepekaan terhadap perasaan orang lain (Garner & Power, 1996 dalam Morris dkk., 2007).

 

KAJIAN TEORI

Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan anak usia dini memberikan upaya untuk mestimulasi, membimbing, mengasah, dan pemberian kegiatan yang akan menghasilkan kemampuan,sertaketerampilananak. Sesuaidengankeunikanpertumbuhan dan perkembangan anak usia dini maka penyelenggaraan pendidikan anak usia dini disesuaikan dengan tahapan-tahapanperkembanganyang dilalui oleh anak usia dini (Ahmad, 2017:15).

Pendidikan anak usia dini tidak sekedar berfungsi untuk memberikan pengalaman belajar kepada anak, tetapi yang lebih penting berfungsi untuk mengoptimalkanperkembanganotak. Menurut Djoko &Anies (2017: 2) Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar kerarah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosial emosional (sikap, dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalaui anak usia dini.

Pendidikan anak usia dini dapat berlangsung dimana saja dan kapan saja seperti halnya interaksi manusia yang terjadi di dalam keluarga, teman sebaya, dan dari hubungan kemasyarakatan. Menurut suryana (2019:47) pendidikan anak usia dini pada dasarnya meliputi seluruh upaya dan tindakan yang dialakukan oleh pendidik dan orangtua dalam proses perawatan, pengasuhan dan pendidikan pada anak dengan menciptakan aura dan lingkungan dimana anak dapat mengeksplorasi pengalaman yang memberikan kesempatan kepadanya untuk mengetahui dan memahami pengalaman belajar yang diperolehnya dari lingkungan.

Dapat disimpulkan bahwa anak usia dini merupakan anak yang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan melalui rangsangan pendidikan agar berkembang secara optimaldenganmengikutipendidikan anak usia dini baik formal maupun nonformal.Pendidikan anak usia dini sebagai satuan pendidikan untuk menyiapkan generasi penerus bangsa yang berkualitas.

Jenis Layanan Satuan Pendidikan Anak Usia Dini

Satuan pendidikan anak usia dini merupakan institusi pendidikan anak usia dini yang memberikan layanan pendidikan bagi anak usia lahirsampai dengan 6 tahun ( Djoko & Anies, 2017: 4). Di indonesia ada beberapa lembaga pendidikan anak Usia dini yang selama ini sudah dikenal oleh masyarakat yaitu:

Taman kanak-kanak (TK) Raudhatul Atfal (RA),merupakan bentuk satuan pendidikan bagi anak usia dini pada jalur formal yang menyelenggarakan penddikan bagi anak usia 4 sampai 6 tahun, yang terbagi menjadi 2 kelompok; keompok A usia 4-5 tahun dan kelompok B anak usia 5-6 tahun.

Baca Juga :  Implementasi PP No. 57 Tahun 2021 Tentang Standar Pendidikan Nasional Di Taman Kanak-kanak Harapan Kita

Kelompok Bermain (Play Group),merupakansalahsatubentuk pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan sekaligus program kesejahteraan bagi anak usia 2 sampai dengan 4 tahun.

Taman Penitipan Anak (TPA), merupakan salah satu bentuk pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan sekaligus pengasuhan dn kesejahteraan anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun. TPA adalah wahana pendidikan dan pembinaan kesejahteraan anak yang berfungsi sebagai pengganti keluarga untuk jangka waktu tertentu selama orangtuamya berhalangan atau tidak memiliki waktu yang cukup dalam mengasuh anaknya karena bekerja atau sebab lain.

Satuaa PAUD Sejenis (SPS) adalah layanan minimal yang hanya dilakukan l-2 kali/minggu, atau merupakan layanan PAUD yang diintegrasikan dengan program layanan lain. Peserta didik pada SPS adalah anak 2-4 tahun. SPS dilaksanakan minimal satu minggu sekali dengan jam layanan minimal dua jam. Kekurangan jam layanan pada SPS dilengkapi dengan program pengasuhan yang dilakukan orangtua sehingga jumlah layanan keseluruhan setara dengan 144 hari dalam satu tahun (Suryana, 2019:51).

Dari pemaparan diatas bahwa bentuk satuan layanan PAUD secara umum diselenggarakan melalui jalur formal dan nonformal dengan berbagai program yag dilaksnakan secara fleksibel. Oleh karena itu layanan pendidikan anak usia dini menjadi salah satu prioritas pembangunan pendidikan nasional.

 

Melabeli Emosi Anak

Setiap anak membutuhkan perasaandicintai,dihargai,diterima, tetapi sering kali orang tua menggunakan cara yang salah untuk mendisiplikan anaknya. Sering kali orangtua memberikan julukan negatif pada anak. Dan juga ucapan yang mengecilkan arti si anak. Misalnya orangtua menyebut anak sebagai”tak berguna dan lain sebagainya. Semua hal tersebut dapat berakibat bagi si anak, dapat menurunkan harga diri dan juga kepercayaan dirinya.Ketika itu terjadi, si anak dapat mengalami perilaku yang tidak baik bahkan dapat mengikuti perilaku sesuai dengan julukan yang diterima dan ini dapat mengganggu hubungannya dengan teman dan lingkungannya dan bisa memegaruhi prestasi belajar anak.

 

Melabeli anak sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak karena dengan melabeli baik itu positif maupun negatif akan memberikan persepsi didalam diri anak bahwa dia adalah seseorang seperti yang dilabelkan oleh orang tua maupun orang orang yang ada disekitamya. Contohnya apabila anak tidak sengaja menjatuhkan benda yang dipegangnya lalu orang tua melabelinya ceroboh maka ia akan berpresepsi bahwa dia adalah seseorang yang ceroboh dan menjatuhkan benda- benda merupakan kecerobohan yang biasa ia lakukan dan begitupula sebaliknya.

Citra diri negatif dapat membentuknya tumbuh sebagai pribadi pemberontak, kasar, bodoh, jorok, lamban, pengacau, dan sebagainya. Pendek kata, anak akan menampilkan diri sesuai dengan julukan yang diberikan kepadanya oleh orangtua. Anak-anak itu sangat percaya pada ucapan yang berkali- kali keluar dari mulut ayah ibu mereka. Dengan kata lain, jika kita sebagai orangtua mengharapkan anak-anak tumbuh sebagai pribadi yang baik, sehat, cerdas berbudi luhur, tentunya kata-kata, sikap, dan perilakukitapunharussesuaidengan harapan tersebut.Apabila hali tu telah terjadi, yang perlu dilakukan adalah pertama meminta maaf pada anak dan meyakinkan lagi bahwa sebagai anak dia sangat dicintai.

 

Mendisplinkan anak memang menjadi tugas orangtua.Tetapi,kata- kata kasar, julukan jelek bagi sianak tidak boleh pernah keluar dari mulut orangtua karena dampаk nya sangat besar bagi perkembangan anak dan juga psikologonya. Apabila kita ingin mendisiplinkan anak, lebih baik menggunakan cara yang lain seperti mengambil mainan sianak sampai sanak mengubali perilakunya. Misalnya, berikan satu bintang dari kertas padanya setiap dia melakukan perilaku yang baik dan bila sudah terkumpul lima bintang berikan hadiah padanya. Ketika anak sudah tenang, peluk dan berikan penjelasan padanya kenapa hal tersebut dilakukan. Kata-Kata dapat memberikan dampak negatif dan positif bagi anak.

Mengkaitkan Pengalaman Anak Dengan Emosi Tertentu

Menurut hurlock (1978:211) emosi memengaruhi penyesuaian pribadi sosial dan anak. Pengaruh tersebut antara lain tampak dari peranan emosi sebagai berikut:

Emosi menambah rasa nikmat bagi pengalaman sehari hari. Salah satu bentuk emosi adalah luapan perasaan, misalnya kegembiraan, ketakutan ataupun kecemasan.

Emosi menyiapkan tubuh untuk melakukan tindakan. Emosi dapat mempengaruhi keseimbangan dalam tubuh, terutama emosi yang muncul sangat kuat sebagai contoh kemarahan yang cukup besar.

Ketegangan emosi mengganggu keterampilan motorik. Emosi yang memuncak mengganggu kemampuanmotorikanak.Anak yang terlalu tegang akan memiliki gerakan yang kurang terarah, dan apabila ini berlangsung lama dapat menganggu keterampilan motorik anak.

Emosi merupakan bentuk komunikasi Perubahan mimik wajah bahasa tubuh,suasanadan sebagainya merupakan alat komunikasi yang dapat digunakan untuk menyatakan perasaan dan pikiran.

Emosi menganggu aktivitas mental. Kegiatan mental seperti berpikir, berkonsentrasi belajar, sangat dipengaruhi oleh kestabilan emosi.

Emosi merupakan sumber penilaian diri dan sosial. Pengelolaan emosi oleh anak sangat mempenganhi perlakuan orang dewasa terhadap anak,dan ini menjadi dasar bagi anak dalam menilai dirinya sendiri

Emosi mewarnai pandangan anak terhadap kehidupan.Peran- peran anak dalam aktivitas sosial seperti keluarga, sekolah masyarakat sangat dipengaruhi oleh perkembangan emosi mereka

Emosi mempengaruhi interaksi sosial. Kematangan emosi anak mempengaruhi anak berinteraksi dengan lingkungannya. Dilain pihak emosi juga mengajarkan kepada anak anak cara berperilaku sehingga sesuai dengan ukuran dan tuntutan lingkungan

Emosi memperlihatkan kesannya pada ekspresi wajah Misalnya tersenyum, murung, atau cemberut. Ekspresi wajah ini akan mempengaruhi penerimaan sosial terhadap anak.

Baca Juga :  Belajar Budaya Jawa Lewat Suasana Rumah Makan, Ini Sosok Mantan Rektor Yang Dirikan Rumah Makan Edukatif

Emosi mempengaruhi suasana psikologis. Dengan emosi anak akan memberikan umpan balik jika ada sesuatu yang tidak enak bagi anak, reaksi emosi apabila diulang ulang akan berkembang menjadi kebiasaan dan pada titik tertentu akan sangat sulit untuk diubah ubah. Dengan demikian anak perlu dibiasakan dengan mengulang ulang perilaku yang bersifatpositif,sehinggamenjadi kebiasaan yang positif pula.

 

Mengenalkan Bahasa Emosi Anak

 

Kemampuan berbahasa yang baiksetidaknyadapatmembantuanak mengendalikan emosinya dalam dua aspek. Pertama kemampuan berbahasa yang baik memungkinkan mereka untuk meminta dukungan pada orangtua mereka saat menghadapi situasi frustasi,misalnya dengan menanyakan pada ibu mereka sudahkah selesai dengan pekerjaanya. Kedua kemampuan berbahasa yang baik juga dapat mengalihkan mereka dari situasi frustasi seperti berbicara pada diri mereka sendiri.

Berikut bentuk emosi yang sering ditemukan pada anak :

Takut. Rangsangan takut ialah bahwa hal itu terjadi secara mendadak dan tidak diduga-duga dan anak hanya mempunyai kesempatan yang kecil sekali untuk menyesuaikan diri dengan situasi situasi tersebut. Rasa takut yang muncul pada diri anak bisa jadi anak tidak menyesuaikan diri dengan orang yang belum dia kenal.Namun dengan seiringnya waktu dan perkembangan, rasa takut pada anak akan mulai hilang kecuali pada saat saat tertentu.

Rasa malu. Rasa malu merupakan bentuk ketakutan yangditandaiolehpenarikandiri dari hubungan dengan oranglain yang tidak dikenal atau tidak sering jumpa. Rasa malu pada anak umumnya terjadi karena anak merasa kurang percaya diri dan dihantui dengan rasa takut, apalagi di lingkungan yang baru untuk anak. Bila orang tua membiarkan hal ini maka akan berdampak pada sosial anak kedepannya.

 

Canggung. Rasa canggung adalah reaksi takut terhadap manusia,bukan pada objek atau situasi. Rasa canggung timbul karena adanya keraguan dalam dirimanusia.Termasuk anak usia dini. Anak anak umumnya akan canggung bila berada dilingkungan yang baru. Bahkan dilingkungannya pun anak anak pun terkadang juga memiliki rasa canggung karena takut orang orang lain akan menertawakan dan sebagainya.

 

Khawatir. Rasa khawatir tidak langsung ditimbulkan oleh rangsangan dalam lingkungan tetapi merupakan produk pikiran anak itu sendiri. Pada anak juga akan mengalami rasa khawatir. Salah satu contohnya rasa khawatir anak dengan ayahnya, dia bahkan tidak mau tidur sebelum ayah pulang, ini merupakan bentuk rasa khwatır anak.

 

Cemas. Rasa cemas adalah keadaan mental yang tidak enak berkenaan dengan sakit yang mengancam atau yang dibayangkan. Rasa cemas lebih ke keadaan mental yang membuat anak jadi memikirkan yang membuat anak merasa cemas. Salah satu contohnya pada anak TK. Biasanya pergi sekolah diantar pulang sekolah, dijemput oleh ibunya dan pada suatu hari ketika sudah pulang tapi ibunya belum juga menjemput Maka muncullah rasa cemas pada anak.

 

Marah. Rasa marah adalah ekspresi yang lebih sering diungkapkan pada masa kanak kanak jika dibandingkan dengan rasa takut alasannya ialah karena rangsangan yang menimbulkan rasa marah lebih banyak, dan pada usia yang dini anak tidak mengetahui bahwa kemarahan merupakan cara yang efektif untuk memperoleh perhatian atau memenuhi keinginan mereka.

 

Reaksi kasih sayang. Kasih sayang adalah reaksi emosional terhadap seseorang, hinatang atau benda Anak usa dini juga mempunyai seseorang atau benda yang ia senangi dan ia sayangi Anak akan memunjukkan melalui sikapnya jika mereka menyayangi seseorang atau suatu benda. Contohnya anak akan menyukai guru yang lemah lembut dibandingkan guru yang mempunyai sifat cuck. Contohnya jika seseorang anak mempunyai benda kesayangan seperti boneka,maka ia akan merawat boneka tersebut dengan baik.

 

Cemburu. Rasa cemburu adalah reaksi normal terhadap kehilangan kasih sayang yang nyata, dibayangkan atau ancaman kehilangan kasih sayang rasa cemburu timbul dari kentarahan yang menimbulkan sikap jengkel dan ditunjukkan kepada orang lain.Rasa cemburu pada anak umumnya ditumbuhkan dirumah artinya timbul dari kondisi yang ads dilingkungan rumah.

 

Duka cita. Duka cita adalah trauma fisik suatu kesengsaraan emosional yang disebabkan oleh hilangnya sesuatu yang dicintai. Dalam bentuk yang lebih ringan keadaan ini dikenal sebagai kesusahan atau kesedihan. Kegembiraan, keriangan, kesenangan.Setiap anak berbeda beda dengan intensitas kegembiraan dan jumlah kegembiraanya serta cam mengekspresikannya sampai batas batas tertentu dapat diramalkan

 

METODE PENELITIAN

 

Penelitian yang dilaksanakan ini merupakan penelitian dengan pendekatan penelitian kualitatif,serta menggunakan metode studi pustaka atau library research. Analisisnya merupakan analisis deskriptif, sehingga menghasilkan data yang deskriptif. Sebagaimana dikatakan olehBogdandanTaylor,bahwasanya hasil dari sebuah penelitian dengan desain kualitatif adalah data atau informasi yang bersifat deskriptif (Moleong, 2014).

 

PEMBAHASAN

 

Perkembangan emosi anak prasekolah yang meliputi ekspresi dan regulasi emosi akan berkembang lebih baik dengan hal-hal yang dapat diamati olehnya, sehingga membutuhkan dukungan dan penguatanyanglebihdarilingkungan sosialnya. Menurut Saarni (2011) keterampilanemosianakberkembang sejalan dengan perkembangan kognitifnya, sebagai contoh pemahaman anak terhadap emosi orang lain akan meningkat bersamaan dengan interaksinya untuk menyadari pengalaman emosi seseorang,dengan kemampuan seseorang untuk berempati serta dengan kapasitas untuk mengerti penyebab dari emosi dan konsekuensi perilaku mereka.

 

Ketika anak-anak belajar tentang bagaimana dan mengapa orang bertindak, maka anak-anak mengembangkan kemampuan untuk menyimpulkan apa yang sedang terjadi untuk diri mereka sendiri secara emosional. Kompetensi emosi berkembang selama tahun- tahun prasekolah dan membantu anak-anak prasekolah untuk berhasil dalam tugas-tugas perkembangan penting pada masa itu; mempertahankan keterlibatan emosional dan perilaku yang positif dalam lingkungan fisik dan sosial, menciptakan dan memelihara hubungan dengan anak- anak dan orang dewasa lainnya, dan berurusan dengan emosi dalam konteks kelompok yang menuntut mereka untuk dudukdiam,mengikuti arahan dalam kelompok bermain (Howes, 1987; Parker &  Gottman, 1989 dalam Den ham & Bassett 2018).

Baca Juga :  Ziarah Kubur: Kisah perjalanan Syekh Muhammad Arsyad Batuhampar di Timur Tengah (Al kausar, Aisiah )

 

Menurut Papalia (2001), anak-anak pada usia 4-5 tahun mulai mampu memahami emosi mereka namun mereka masih perlu banyak belajar terutama tentang penghayatan emosi, penamaan emosi yang dirasakan, bagaimana mengekspresikan emosi diri sendiri dan juga orang orang lain. Kemampuan mereka untuk mengembangkan emosi ini akan sangat membantu mereka dalam kehidupan sosialnya kelak.Sehingga, perlunya pendampingan dari guru ataupun orang tua mengenai pembelajaran emosi bagi anak usia prasekolah agar mereka mencapai keterampilan emosi yang dapat bermanfaat bagi kehidupan mereka kelak.

 

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran kemampuan anak prasekolah mengekspresikan emosi yang terdiri dari aspek verbal berupa pengungkapan secara verbal mengenai apa yang dirasakan, aspek non verbal yang dapat teramati berupa gesture dan ekspresi wajah serta pemahaman emosi berupa memberikan label mengenai emosi yang dirasakan oleh mereka serta hal- hal yang dapat memunculkan reaksi emosi tersebut.

 

Berdasarkan observasi atau hasil pengamatan ,maka dapat dijabarkan perkembangan emosi pada anak “Hatta Adhitama Nugraha” sebagai berikut :

Hatta mampu mengekspresikan emosi secara verbal dan non- verbal pada:

emosi terkejut, Secara non- verbal dan verbal dengan meletakkan tangan di dadanya sambil mengucapkan secara verbal “duh kaget!”, ketika mendengarsuarayangkeras dantiba-tiba seperti petasan.

senang, secara nonverbal dengan mimic wajah tersenyum lebar, ataupun secara verbal dengan mengatakan “aku seneng main ini” pada saat ia bermain mobil- mobilan dengan temannya

marah, mengungkapkan secara non- verbal berupa mimik wajah yang marah (bibir melengkung ke bawah) dan secara verbal “kenapa sih aku ga diajak” atau mengatakan “kemana sih mainan mobil-mobilan aku” takut, Bersembunyi misalnya ketika merasa takutdenganbunyipetirdan mengatakan “ih, takut…”. sedih, berperilaku lebih diam dan kurang aktif seperti biasanya dan tidak mengekspresikan secara verbal kecuali ditanya cemburu, mengatakan “ih kenapa aku gak dikasih?” sambil cemberut ketika ibu sedang asik berbicara dengan temannya malu, “ih, malu tapi aku maukuenya”ketikamelihat kue saat ia sedang duduk dikelas sambil menggigit jarinya.

Hatta mampu memberikan label yang tepat pada hampir semua emosi (5 dari 7 emosi) dan belum mampu memberikan memberikan label yang tepat padaduaemosiyaituemositakut dan emosi sedih, namun ia memahami hal apa saja yang membuat ia merasakan seluruh emosi tersebut. Hatta baru mampu memberikan label yang tepat pada emosi malu, ia mampu menjelaskan hal-hal apa saja yang menyebabkan ia merasakan seluruh emosi-emosi yang disadarinya

 

Pemberian label emosi akan membantu anak mengkomunikasikan emosi yang ia rasakan kepada orangtua ataupun lingkungannya sehingga akan membantu orangtua

ataupun guru untuk mengajarkan bagaimana anak-anak mengelola emosinya dengan tepat. Banyak penelitian yang dilakukan (Harre, 1986; Russell, 1990; Saarni, 1999 dalam Bosacki dan Moore 2004) menegaskan bahwa kata-kata atau label emosi memainkan peran yang besar dalam pengembangan konseptualisasi anak. Kopp (1989) menjelaskan bahwa bahasa emosi memberikan pengaruh yang kuat sebagai alat bagi anak untuk memahami emosinya.

 

Widen (2013) menekankan bahwa label emosi lebih dari sekedarkata-kata untuk memberi label ekspresi wajah; setiap label emosi mengacu pada konsep emosi yang menentukan penyebab, konsekuensi perilaku, ekspresi nonverbal, dan label verbal untuk emosi yang diberikan. Label merupakan isyarat yang lebih kuat untuk menggambarkan penyebab emosi daripada ekspresi wajah atau konsekuensi perilaku untuk anak- anak berusia 4 tahun (Salmon dkk, 2013 dalam Christelle dkk, 2019).

 

KESIMPULAN

 

Anak usia 4-5t ahunt elah memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi- emosi primer maupun emosi-emosi yang disadari secara non verbal melalui gesture dan ekspresi wajah secara tepat, beberapa dari mereka juga sudah mampu mengungkapkan emosi yang disadari secara verbal namun sebagian dari mereka masih belum mampu mengungkapkan emosi secara verbal. Pada kemampuan memberikan label emosi, seluruh subjek memiliki kemampuan sangat terbatas memberikan label yang tepat mulai dari emosi-emosi dasar hingga pada emosi-emosi yang disadari.

 

Mengingat pentingnya anak memiliki kompetensi emosi maka orang tua perlu mengajari anak usia prasekolah untuk memahami dan memberikan label yang tepat pada berbagai emosi-emosi dasar dan emosi yang tidak disadari dan bersikap emotional coaching yang akan membantu anak mengembangkan kompetensi emosinya. Sedangkan bagi sekolah, perlu adanya pembelajaran ataupun program khusus yang lebih terstruktur mengenai kompetensi emosi anak mulai dari pengenalan dan pemberian label emosi secara tepat hingga hal- hal yang berkaitan dengan kompetensi emosi lainnya.

Pemberian label emosiini merupakan dasar bagi anak untuk mengembangkan kompetensi emosinya dan memberikan manfaat dalam kehidupan serta kesehatan psikososialnya kelak. Pembelajaran yang dapat dilakukan disekolah salah satunya dengan mengenalkan emosi pada anak melalui video animasi berikut link video animasi yang telah penulis buat : https://youtu.be/PFQo755F82E?feature=shared

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Denham, S.A. (2019). Children Emotional Competence,Foundation of Their Success: Skills, Outcomes, And Support. MOV-UP International Conference: Policies, Practices and Qualification in Early Childhood Education. F.CansuPala&Charlie Lewis .(2020). Do preschoolers grasp the importance of regulating emotional expression?.European Journal of DevelopmentalPsychology. DOI: 10.1080/17405629.2020.1814251 Papalia, Diane E & Olds, Sally Wendkos & Feldman, Ruth Duskin .(2001). Human Development eight edition. New York : Mc Graw-Hill. Saarni, Carolyn .(2011). Emotional Development in Childhood. Encyclopedia on Early Childhood Development. USA.Sonoma State University. Santrok, John W .(2007).PerkembanganAnak edisi kesebelas jilid 2.Jakarta:Erlangga.

 

Penulis : Dian Maya Sari

Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Negeri Padang 2024

spot_img
spot_img

Latest

spot_img