Pentingnya Perlibatan Keluarga Dalam Pendidikan Anak Usia Dini

More articles

spot_img

 

Analisis Kebijakan Permendikbud No. 30 Tahun 2017 Tentang Pendidikan Keluarga Dan Masyarakat Dengan Model CIPP

Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang sanggup menghantar subjek menjadi seperti dirinya sendiri selaku anggota masyarakat. Selanjutnya pengembangan yang utuh dapat dilihat dari berbagai segi, yaitu wujud dimensi dan arahnya (Suryana, 2018). Tuhan  telah  memberi  kita  tanggung  jawab  untuk  merawat  dan  mengasuh  anak-anak  sebaik mungkin. Masa yang paling optimal untuk mendorong pertumbuhan jasmani dan rohani anak adalah pada usia dini.

Pendidikan anak usia dini adalah pendidikan pra-sekolah dasar yang menargetkan anak-anak  antara usia 0 dan 6  tahun, yang dikenal sebagai Golden Age. Pendidikan  anak usia  dini sangat penting bagi tumbuh kembang anak  agar dapat memajukan mereka ke jenjang yang lebih tinggi. Ini termasuk komponen keyakinan  agama, perkembangan fisik, perkembangan kognitif, perkembangan linguistik, perkembangan sosial dan emosional, dan perkembangan kreatif (Yenti, Suryana, dan Mahyuddin 2023: 3042).

Maka dari itu disini kami akan membahas mengenai pentingnya perlibatan orang tua dalam pendidikan anak usia dini dengan menggunakan model CIPP (Context, Input, Process, Product). Yang hasilkan nanti akan tergambar melalui model ini. Model CIPP (Context, Input, Process, Product) adalah suatu kerangka kerja evaluasi yang digunakan untuk menganalisis dan meningkatkan program, kebijakan, atau proses. Diterapkan pada konteks pendidikan anak usia dini dan peran orang tua di dalamnya, berikut adalah analisis mengenai pentingnya keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak menggunakan model CIPP.

Context (Konteks):

Konteks ini melibatkan lingkungan sosial, budaya, dan ekonomi di mana pendidikan anak usia dini berlangsung. Orang tua merupakan bagian integral dari konteks ini. Mereka membawa pengalaman, nilai, dan keyakinan mereka sendiri ke dalam proses pendidikan anak. Keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak usia dini dapat memperkuat hubungan antara sekolah dan keluarga serta memperluas dukungan yang tersedia untuk anak-anak di luar lingkungan sekolah. Perlibatan orang tua dalam pendidikan anak usia dini merupakan bagian yang penting dalam mencapai tujuan pendidikan. Orang tua adalah pemangku kepribadian dan pengarah yang mempengaruhi anak dalam pendidikan. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui apakah tujuan pendidikan yang diingikan telah tercapai atau tidak.

Evaluasi konteks berfokus pada penilaian dalam konteks  yang dilakukan di suatu lembaga pendidikan, khususnya yang  berkaitan dengan kekuatan dan kelemahan dari apa yang dinilai. Oleh karena itu, tugas utama penilaian konteks adalah  melakukan analisis kebutuhan dan mempertimbangkan program  yang dilaksanakan (Sangadji, 2014). Tujuan dari penilaian konteks adalah untuk menilai seluruh kondisi yang muncul dalam suatu program, mengidentifikasi kelemahan-kelemahannya, menginventarisasi kelebihan-kelebihannya, menutupi kelemahan-kelemahannya, mendiagnosis permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh program tersebut dan mencari solusi yang tepat.

Selain itu, penilaian konteks juga bertujuan untuk menilai apakah tujuan dan  prioritas yang  ditetapkan sesuai dengan kebutuhan (Mahmudi, 2011). Penilaian Konteks adalah Analisis Kebutuhan “Penilaian Kebutuhan”. Program , Peran orang tua dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler untuk pengembangan diri anaknya, “Apa yang dibutuhkan orang tua dalam program  Yang baru  pertanyaan muncul. Bagaimana peran orang tua  dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler untuk  pengembangan diri anak ?

Bagaimana peran keterlibatan orang tua dalam kegiatan ekstrakurikuler ? Perkembangan Pribadi Anak akan dimainkan. Mengajukan pertanyaan seperti ini akan membantu Anda dengan mudah mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan  program yang ingin Anda laksanakan (Zulherma, 2019). Kedua, penilaian konteks juga berfungsi untuk memahami masalah, isi, dan peluang yang membantu dalam mengambil  keputusan yang tepat, sehingga memudahkan dalam memetakan  tujuan  program yang dilaksanakan (Pramesti, 2020).

Input (Masukan):

Masukan dalam model CIPP mencakup sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan program, dalam hal ini, keterlibatan orang tua membutuhkan dukungan dari pihak sekolah dan komunitas. Sekolah harus menyediakan sarana dan forum yang memungkinkan orang tua terlibat aktif dalam pendidikan anak, seperti pertemuan orang tua-guru, lokakarya pendidikan, atau sumber daya online. Pelatihan dan dukungan bagi staf sekolah diperlukan untuk memfasilitasi keterlibatan orang tua secara efektif.

Baca Juga :  Anak Penjual Tisu Itu Bernama Marfe

Tentu saja evaluasi harus dilakukan ketika melaksanakan program. Penilaian  ini  memudahkan untuk melihat tingkat keberhasilan Anda dan apakah tujuan Anda telah tercapai. Dalam kata-kata Smith (2002) yang diterbitkan dalam majalah Yoga, penilaian ini memudahkan untuk memperbaiki kesalahan dan memotivasi siswa dan guru untuk berbuat lebih baik.  Program yang dilaksanakan selaras dengan aspirasi bersama (Budi Yoga Bhakti, 2017). Model evaluasi CIPP ini sangat berguna untuk program yang sedang berjalan dimana informasi diberikan, akuntabilitas diberikan oleh sekolah, dan diambil langkah-langkah yang tepat dalam pengembangan lebih lanjut program yang ada (Fuadi & Anas, 2019).

Model evaluasi CIPP yang  dikembangkan oleh Stufflebeam dalam jurnal Iskandar dkk menyatakan sangat baik dalam menentukan cakupan program  yang dilaksanakan sehingga memungkinkan seluruh aspek program ditinjau. Berpartisipasi dalam kegiatan  pengembangan diri Program status terkini untuk peran orang tua. Anak-anak mengalami permasalahan yang sangat mengkhawatirkan karena mereka sadar akan permasalahan yang sedang terjadi. Model evaluasi  yang tepat  untuk mengevaluasi suatu program peran orang tua  dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler terhadap pengembangan diri anak  adalah model CIPP (Context, Input, Process, Product).

Model CIPP berfokus pada faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan  program. Santika menyatakan bahwa model evaluasi CIPP mempunyai prinsip tidak hanya membuktikan berhasil atau tidaknya suatu program, tetapi juga meningkatkan  kualitas  program yang dilaksanakan  (Pramesti, 2020). Oleh karena itu, model evaluasi CIPP sangat cocok untuk meningkatkan kualitas program dan peran orang tua  dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler untuk  pengembangan diri anak  di TK An-Nazir. Sebab, model CIPP ini tidak hanya mementingkan kesuksesan saja.

Namun, menggunakannya akan  meningkatkan kualitas dan kuantitas program.

Menurut Endrizal, model evaluasi CIPP sangat cocok diterapkan untuk  memperbaiki, sejauh mana program  telah berjalan, kendala apa saja yang ada, dan apa saja yang perlu dilakukan untuk melaksanakan . Sangat bagus untuk melihat apa yang ada. tersisa dalam program (Waschito, 2021). Mengevaluasi apakah program yang dilaksanakan mencapai tujuannya memudahkan kita mengenali keberhasilan atau kegagalan program. Model evaluasi CIPP untuk mengevaluasi program dari sudut pandang peran orang tua  dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler untuk pengembangan pribadi anak di TK AnNadzir.

Dengan demikian, peran orang tua yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler untuk pengembangan diri anak diharapkan akan semakin meningkat di masa depan. Yang terpenting adalah mengetahui sejauh mana program “Peran Orang Tua Peserta Ekstrakurikuler  Bagi Perkembangan Pribadi  Anak” telah tercapai. Hal ini diharapkan menjadi tolak ukur untuk memperbaiki dan meningkatkan program terhadap peran orang tua  dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler untuk  pengembangan diri anak  di TK An-Nazir , dan berpotensi menjadi  program. Dengan menjalin komunikasi dengan orang tua dan wali siswa kami mengenai pendidikan di rumah dan  apa saja tantangan yang  dihadapi orang tua ini dalam mendidik anaknya di  rumah.

Process (Proses):

Model evaluasi CIIP merupakan model evaluasi yang dikembangkan  oleh Stufflebeam yang tidak hanya membantu penyempurnaan kurikulum , tetapi juga membantu menentukan apakah suatu program harus dihentikan. Model ini mencakup empat komponen: konteks, masukan, proses, dan produk, yang masing-masing memerlukan evaluasi tersendiri. Penilaian kontekstual  mencakup studi tentang lingkungan sekolah dan  pengaruh di luar sekolah. Jika evaluasi kontekstual diperlukan, maka masukan evaluasi, dan strategi  implementasi kurikulum, ditinjau dari sudut pandang efektivitas dan ekonomi. Selanjutnya dilakukan evaluasi terhadap proses dan produk, seperti kesesuaian antara  kegiatan yang direncanakan dengan kegiatan yang sebenarnya.

Baca Juga :  Perjalanan Bersama SembodoSE902

Model ini mengutamakan penilaian formatif berkelanjutan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan hasil pembelajaran. Namun fokus penelitian tidak hanya pada hasil pembelajaran saja, namun pada kurikulum dan lingkungan secara keseluruhan. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan kinerja aktual dengan standar yang  disepakati. Banyak faktor yang dipertimbangkan ketika menetapkan standar, termasuk kinerja siswa di bidang kognitif, emosional, dan psikomotorik, keterampilan pengajaran guru, manajemen sekolah, fasilitas, bahan dan bahan ajar, kurikulum, strategi pengajaran, penentu kurikulum, dan filosofi perlu dipertimbangkan.

Evaluasi pendidikan adalah proses penyediaan atau perolehan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan  pendidikan. Artinya penilai juga merupakan pemberi informasi dan bukan pengambil  keputusan. Pada dasarnya model CIPP digunakan untuk evaluasi pendidikan. Model penilaian CIPP merupakan model yang paling umum digunakan dan diterapkan oleh penilai. Oleh karena itu, deskripsi relatif panjang dibandingkan model lainnya. Model CIPP  ini  dikembangkan oleh Stufflebeam di Oion State University.

CIPP  adalah akronim dari  empat kata: Konteks Evaluasi : Evaluasi Konteks, Evaluasi Masukan : Evaval Input, Evaluasi Proses : Evaval Proses, Evaluasi Produk : Hasil Evaluasi. Keempat kata yang disebutkan dalam singkatan CIPP adalah tujuan evaluasi yang tidak lain hanyalah komponen  proses kegiatan program. Dengan kata lain model CIPP merupakan model evaluasi yang memandang program yang dievaluasi sebagai suatu sistem. Oleh karena itu, setelah tim evaluasi memutuskan model CIPP sebagai model  yang akan digunakan untuk mengevaluasi program yang ditugaskan kepada mereka, mereka perlu menganalisis program  berdasarkan komponen-komponennya.

Proses dalam model CIPP menyoroti langkah-langkah yang dilakukan untuk menjalankan program. Dalam hal ini, prosesnya adalah bagaimana keterlibatan orang tua diimplementasikan dalam praktik sehari-hari. Pihak sekolah perlu merancang strategi komunikasi yang efektif untuk melibatkan orang tua dalam aktivitas dan perkembangan anak di sekolah. Kegiatan kolaboratif antara guru, orang tua, dan anak dapat meningkatkan pemahaman bersama tentang kebutuhan dan potensi anak. Proses pendidikan anak usia dini yang terlibat orang tua harus dilakukan dengan baik dan efektif. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui apakah proses pendidikan yang dijalankan dengan baik atau tidak.

Product (Produk):

Produk dalam model CIPP merujuk pada hasil yang diinginkan atau diharapkan dari program atau kebijakan. Dalam hal ini, produknya adalah dampak positif yang dihasilkan dari keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak usia dini. Anak-anak cenderung mencapai hasil pendidikan yang lebih baik ketika orang tua aktif terlibat dalam pembelajaran mereka, baik secara akademis maupun sosial.

Keterlibatan orang tua dapat meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi anak, serta menciptakan lingkungan pendidikan yang positif di rumah dan di sekolah. Hasil dari pendidikan anak usia dini yang terlibat orang tua harus sesuai dengan tujuan pendidikan. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui apakah hasil pendidikan yang diperoleh sesuai dengan tujuan pendidikan atau tidak.

Metode 

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik tinjauan literatur sistematis. Penelitian dengan jenis studi kepustakaan ini menggunakan penelitian dengan menggunakan sumber informasi berupa foto, bahan statistik, bahan bacaan dan surat (Yusuf, 2005). Tinjauan Pustaka Sistematis (SLR) adalah metodologi penelitian untuk mengumpulkan, mengidentifikasi, dan menganalisis secara kritis tinjauan penelitian yang tersedia (makalah, prosiding konferensi, buku, artikel, dll) melalui prosedur yang sistematis Pati, D., & Lorusso, L. N. (2018). SLR menginformasikan pembaca tentang literatur terbaru tentang suatu topik.

Tujuannya adalah untuk meninjau poin-poin penting dari pengetahuan terkini mengenai topik-topik yang berkaitan dengan pertanyaan penelitian dan untuk menyarankan area untuk penyelidikan lebih lanjut (Taufik, I., Slamet, C., Wahana, A., & Faizin, B. (2020)). Menentukan “ide orisinal” atau ketertarikan terhadap topik yang akan diteliti merupakan langkah awal sebelum memulai dengan kamera SLR. Pencarian awal terhadap literatur yang relevan akan membantu untuk menentukan apakah topik tersebut terlalu luas untuk dibahas secara memadai dalam jangka waktu tertentu atau apakah perlu mempersempit fokus. Membaca beberapa makalah dapat membantu menentukan arah tinjauan formal dan membantu merumuskan pertanyaan penelitian potensial (misalnya, peran apa yang akan dimainkan semantik  dalam Industri.

Baca Juga :  Pornografi Dan Seks Bebas Berdampak Buruk Terhadap Perkembangan Anak

Pembahasan

Orangtua, keluarga dan pendidikan anak merupakan tiga hal yang akan selalu terkait. Orangtua memainkan peranan penting dalam membentuk anak – anak bahkan sejak dalam kandungan, pengaruh orangtua terhadap anak-anak sudah banyak dibuktikan oleh penelitian penelitian terdahulu. Sampai anak-anak tersebut masuk kedalam sistem pendidikan formal atau sekolah, pengaruh terbesar dalam pembentukan diri mereka tetap orangtua dan keluarga. Pendidikan anak usia dini (PAUD) seringkali merupakan langkah awal dalam penentu keterlibatan orangtua.

Seberapa jauh orangtua mau terlibat aktif dalam pendidikan anaknya dan benar-benar memahami bahwa proses pendidikan anak tidaklah selesai sewaktu anak – anak mereka pulang dari sekolah.

Proses pembelajaran tetap akan berlangsung baik itu di rumah maupun di sekolah. Orangtua dan guru, harus terlibat aktif dalam komunikasi dan koordinasi untuk memastikan hasil yang optimal pada anak. Keterlibatan orangtua ini tidak dapat terbangun dalam waktu yang singkat tetapi dalam waktu yang lama dan membutuhkan konsistensi dari orangtua, keluarga dan juga guru.

Guru atau sekolah tetap berperan karena seringkali kurangnya keterlibatan orangtua bukan disebabkan orangtua tidak mau terlibat tetapi juga karena adanya hambatan dari guru itu sendiri maupun dari value budaya. Sebagai contoh, dalam beberapa budaya, guru dianggap sebagai pihak yang sangat memahami bagaimana pendidikan terhadap anak harus diberikan, sehingga tidaklah sopan jika orangtua ikut campur dalam pembelajaran yang diajarkan oleh guru (Hardiyanti, 2021).

Pengaruh dan perubahan sebagai akibat terlibatnya keluarga dalam pendidikan tersebut meliputi, 1) dukungan terhadap prestasi akademik, tingkat kehadiran siswa, timbulnya kesadaran tentang hidup sehat dan peningkatan perilaku positif; 2) persepsi orangtua terhadap sekolah semakin baik sebagai akibat peningkatan kepuasan orangtua terhadap guru, dan semakin eratnya hubungan dengan anak; 3) perbaikan iklim sekolah serta peningkatan kualitas dan disiplin sekolah.

Beberapa peran yang dapat dilakukan oleh keluarga dan masyarakat dalam mendukung pendidikan anak adalah, 1) menciptakan lingkungan belajar di rumah yang menyenangkan dan mendorong perkembangan budaya prestasi anak; 2) menjalin interaksi dan komunikasi yang hangat dan penuh kasih sayang dengan anak; 3) memberikan motivasi dan menanamkan rasa percaya diri pada anak; 4) menjalin hubungan dan komunikasi yang aktif dengan pihak sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif; 5) berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler yang dilakukan anak di sekolah; 6) menyelenggarakan dan menjaga keberlangsungan penyelenggaraan proses pendidikan yang menjadi tanggungjawab bersama antara pemerintah, masyarakat dan keluarga; 7) menyelenggarakan dan mengendalikan mutu layanan pendidikan, baik dilakukan secara perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, dunia usaha, maupun organisasi kemasyarakatan  (Direktorat, 2017).

Kesimpulan

Pelibatan orang tua dalam penyelenggaraan pendidikan anak usia dini perlu tetap dilakukan. Satuan PAUD, baik berbasis agama maupun umum, diharapkan dapat menjaga hubungan baik dengan orang tua. Perlibatan keluarga dalam pendidikan anak usia dini adalah penting karena mereka memiliki peran penting dalam proses pendidikan karakter, yang merupakan bagian dari perawatan.

Orang tua memiliki tugas dalam mengoptimalkan potensi anak dan membantu mereka menyelesaikan tugas perkembangan. Dengan menerapkan model CIPP, pentingnya keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak usia dini menjadi jelas, karena hal itu tidak hanya memperkuat hubungan antara sekolah dan keluarga, tetapi juga meningkatkan hasil pendidikan anak.

Oleh : Zahra Salsabila Universitas Negeri Padang

 

spot_img
spot_img

Latest

spot_img