Rindu Seorang Santri: Kisah Haru Noval di Pondok Pesantren Darul Inqilabi

More articles

spot_img

 

Noval adalah santri pertama Pondok Pesantren Alquran Darul Inqilabi di Lubukbasung. Sebagai anak yang baru pertama kali jauh dari rumah, adaptasinya tidak mudah. Baru beberapa hari berada di pondok, Noval sudah minta pulang. Sebagai pimpinan pondok, saya menyadari bahwa ini adalah masa yang sulit baginya. Saya berusaha membujuknya dengan penuh kasih sayang, berharap bisa menenangkan hatinya yang rindu akan rumah dan orang tuanya.

Setiap kali saya bertanya tentang perasaannya, Noval selalu menjawab dengan lirih bahwa ia sangat kangen dengan bundanya. Saya tahu perasaan itu berat baginya, tapi saya juga tahu bahwa di sinilah ia bisa belajar banyak hal yang akan berguna untuk masa depannya. Saya pun berusaha mendampinginya dengan penuh perhatian, memberikan dukungan moral dan spiritual yang ia butuhkan. Setiap harinya, saya berusaha membuat Noval merasa lebih nyaman dan diterima di lingkungan pondok.

Seiring berjalannya waktu, hampir satu bulan Noval berada di pondok, dan akhirnya saya melihat senyum mulai menghiasi wajahnya. Ada perubahan signifikan dalam sikapnya, ia mulai menikmati aktivitas di pondok dan berbaur dengan teman-teman barunya. Saya sangat bangga melihat perkembangan ini. Di pondok ini, semua santri saya perlakukan seperti anak sendiri, tanpa membeda-bedakan. Saya percaya bahwa setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang sama.

Baca Juga :  Renungan Hati Seorang Wartawan

Namun, suatu hari cobaan datang ketika sakit maag Noval kambuh. Saya segera membawanya ke RSUD bersama salah satu ustad. Perhatian saya kepada Noval yang begitu besar membuat hampir semua pegawai di rumah sakit mengira Noval adalah anak kandung saya. Mereka terkejut melihat betapa besar kasih sayang yang saya berikan kepadanya. Padahal, Noval hanyalah seorang santri di pondok yang saya pimpin. Setiap kali Noval menangis dan ingin pulang, saya selalu menghiburnya dan memberikan nasihat agar ia bisa betah dan bertahan di pondok. Saya yakin, dengan kasih sayang dan bimbingan yang tepat, Noval bisa melewati masa-masa sulit ini.

Waktu berlalu dengan cepat, dan tibalah saatnya Noval harus berpisah dengan pondok, guru, dan teman-temannya karena telah menyelesaikan pendidikannya di sini dan harus melanjutkan ke tempat lain. Suatu malam, dengan mata berlinang air mata, Noval menghampiri saya di sudut mushala. “Ayah, bolehkah Noval bertanya?” tanyanya dengan suara bergetar. Saya menjawab, “Boleh, Noval.” Ia melanjutkan dengan pertanyaan yang menyentuh hati, “Nanti kalau Noval tidak di sini lagi, bolehkah Noval melihat ayah dan teman-teman ke pondok?” Saya tersenyum dan menjawab, “Tentu saja boleh, Noval.” Mendengar jawaban saya, Noval pun tersenyum lega, seolah beban di hatinya berkurang.

Baca Juga :  Ada Hikmah Luar Biasa Dari Setiap Kehilangan

Lima belas hari setelah libur, Noval mengirim pesan melalui WhatsApp. “Ayah, apakah sehat? Noval selalu mendoakan ayah tetap sehat. InshaAllah, Noval akan selalu ingat dan akan main ke asrama sambil melihat ayah dan teman-teman.” Pesan singkat itu membuat hati saya hangat. Noval menunjukkan betapa besar perhatiannya dan betapa ia tidak melupakan masa-masa yang telah ia lewati di pondok ini.

Dan benar saja, saat santri baru datang, Noval langsung mencari saya. Ia bersalaman dengan penuh hormat dan menanyakan kabar saya. Saya melihat di matanya bahwa Noval telah tumbuh menjadi anak yang lebih kuat dan mandiri.

Di Pondok PADI, kami mengutamakan adab, baik dari pusat hingga ke cabang-cabangnya. Di cabang Lubukbasung, santri sering diingatkan untuk menjaga adab mereka. Saya selalu mengatakan kepada mereka, “Jaga adabmu, karena adab itu lebih tinggi dari ilmu.” Alhamdulillah, semua santri di Pondok Pesantren Alquran Darul Inqilabi, termasuk Noval, selalu santun dan beradab. Keberhasilan ini tidak hanya terlihat dalam aspek akademis, tetapi juga dalam karakter dan akhlak mereka. Semoga Noval dan semua santri lainnya terus berjuang dan sukses di masa depan. Aamiin.

Baca Juga :  Rezeki dan Sedekah Itu Ibarat Raga Dengan Nyawa

Penulis: Hasneril, SE
Pimpinan Pondok Pesantren Alquran Darul Inqilabi

spot_img
spot_img

Latest

spot_img