DPMPTSP Kota Payakumbuh Dapat “Rapor Merah” Dari HIPMI, Walikota Meradang

Payakumbuh,Investigasi.News – Berawal dari ‘Rapor Merah’ yang diberikan Badan Pengurus Cabang (BPC) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Payakumbuh terhadap kinerja Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Payakumbuh.

Ternyata pemberian ‘Rapor Merah’ tersebut memancing reaksi keras dari Walikota Payakumbuh, Riza Falepi.

Buktinya, melalui press release resmi Pemko Payakumbuh yang dikirim staf Humas Pemko ke grup WhatsApp media online 2022, Walikota Riza Falepi tidak hanya sekadar marah besar atas diberikannya ‘Rapor Merah’ oleh HIPMI Payakumbuh tersebut.

Namun, Walikota Riza Falepi juga menyerang pribadi Ketua HIPMI Payakumbuh, Dika Sacend, sekaligus mengatakan bahwa sebagian pengurus HIPMI Payakumbuh masih pengusaha ecek-ecek.

“Memberikan penilaian jelek terhadap Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Payakumbuh, sama dengan menepuk air di dulang, yang memberi nilai juga yang akan diukur orang,” kata Riza kepada media, Minggu (10/7).

Padahal, kata Riza, pihaknya baru saja bertemu dengan pengurus Kamar Dagang dan Industri Kota Payakumbuh terpilih periode 2022-2027 setelah mereka melaksanakan Mukota. Kadin dan Riza bertemu hari Kamis (7/7) di kantor wali kota.

“Saat itu pernyataan pertama saya adalah menyampaikan nasehat agar para pengurus menyadari bahwa Kadin adalah organisasi pengusaha yang tentu wadah sekaligus tempat berhimpun pengusaha,” jelasnya.

Tentunya, kata Riza, sambil tersenyum wali kota dua periode itu menyampaikan pesan jangan sampai masuk kadin dulu baru jadi pengusaha. Biasanya yang demikian bukanlah pengusaha, tapi mungkin politisi yang lagi cari suara, atau calo, atau orang yang ingin mengacau saja. Akan hilang marwah kadin kalau sampai demikian.

“Artinya pengusaha sukses dulu baru jadi pengurus atau Ketua Kadin. Karena dia akan menjadi teladan bagi kita semua,” ujar Riza.

Walaupun Riza menyatakan itu kepada Kadin, sambil tersenyum, tapi makna penyampaian Riza sangat sarat dengan filosofi yang mendalam. Karena Riza menyadari keberadaan pengusaha mempengaruhi 80 persen perekonomian daerah, pemda hanya berkontribusi dengan regulasi yang ada, hanya 1/5 persen saja.

“Sangat berbeda dengan himpunan pengusaha anak muda di Payakumbuh, sebagian pengurusnya masih pengusaha ecek-ecek, kalau nggak, dianggap pengangguran, kemudian jadi pengurus, malah membuat cerita yang lucu-lucu. Mungkin lagi cari cara jadi politisi, tapi salah tempat. Di kampungnya saja tidak diakui sebagai pengusaha, apalagi di level nasional. Buat acara dan kegiatan masih “menyusu” ke pemda, pinjam tempatlah, minta dibantu biaya makanlah, masih minta proposal lah dan lain-lain,” sindir Riza.

Riza menambahkan, harusnya pengusaha itu mengisi proposal, bukan minta proposal ke pemda. Namun sebaliknya justru kejadian, minta proposal ke pemda.

“Hilang dong marwah, hari gini masih minta proposal ke pemda sekelas pengusaha. Selanjutnya yang lebih lucu, Mal Pelayanan Publik serta kantor perizinan Payakumbuh dinilai sangat jelek oleh yang bersangkutan, padahal terbaik nasional sehingga wali kota menerima penghargaan dari Presiden Jokowi,” tukuknya.

Riza juga membeberkan, bahkan hampir setiap minggu pemkab, pemko, serta DPRD daerah lain datang ke Kota Payakumbuh untuk studi banding.

“Kemudian dinilai oleh pengusaha muda ini dengan nilai yang sangat rendah, seolah olah kantor perizinan Payakumbuh sama dengan kandang kambing. Harusnya pengusaha muda ini ngaca dululah, ibarat kata orang label pengusaha rasanya belum pantas dilekatkan ke yang bersangkutan, karena pengusaha apalagi pemimpinnya sangat membutuhkan pemerintah sebagai mitra,” ujarnya.

“Demikianlah kalau organisasi pengusaha kalau dimasuki orang yang masih rendah jam terbangnya, atau orang yang sebenarnya bukan pengusaha tapi sok pengusaha, yang bukan benar-benar pengusaha, memberikan contoh dan perilaku bukan pengusaha,” tambahnya.

Riza menegaskan, salah satu sikap pengusaha adalah menjaga silaturahim kepada banyak pihak, bukan mencari musuh banyak banyak, apalagi pemda yang berkuasa atas pengeluaran berbagai ijin dimusuhi.

“Itu menunjukkan pada yang bersangkutan bahwa dia sebenarnya bukan pengusaha, mungkin politisi, mungkin orang baru belajar berusaha tapi gurunya mungkin mantan pejabat yang nggak ngerti bisnis dan masih feodal, atau bisa jadi dengan covid begini yang bersangkutan usahanya sedang nggak baik dan sebagainya. Tapi apapun itu bukanlah sikap pengusaha sejati dan tidak boleh ditiru,” jelas Riza.

Riza mengajak para calon-calon pengusaha agar meniru pengusaha sukses yang ada di kota ini, banyak sekali. Dicontohkannya pemilik kafe Kopmil, Gerobak kopi, dan lain-lain, mereka adalah contoh sebagian kecil pengusaha sukses yang ada.

“Bahkan Buya Isnaldi yang barusan saja sebagai khatib Salat Idul Adha di lapangan poliko Balai Kota adalah sebagian contoh pengusaha sukses, bahkan beliau muda, pengurus HIPMI pusat, pengurus Kadin Pusat dan sangat rendah hati,” kata Riza.

“Berbeda dengan pengusaha muda yang memberi kita “rapor merah”, tingkahnya pongah, tinggi hati, ingin minta disapa terus, padahal prestasinya nol besar. Cobalah tunjukkan prestasinya agak satu saja, belum pernah kedengaran selain bertingkah yang asal beda sendiri. Bukan zamannya orang bermental begini didukung dan dipelihara. Kita ingin juatru pengusaha kelas dunia lahir di Payakumbuh dan menjadi Hero bagi Payakumbuh, bukan pengusaha manja yang maunya disapa dan dielus elus,” pungkas Riza.

DIBALAS HIPMI SUMBAR DAN PADANG

Ternyata statemen Walikota Riza Falepi yang terkesan ‘menyerang’ pengurus HIPMI Kota Payakumbuh itu mendapat tanggapan serius dari Ketua Umum HIPMI Sumatera Barat, Brian Putra Bastara.

Menurut Brian Putra Bastara, Riza Falepi terlalu reaktif dan tidak bijak dalam memberikan informasi kepada publik.

“Reaksi Pak Wali Kota berlebihan sampai bilang HIPMI ecek-ecek. Kita ini kan anak-anak muda yang ikut bantu beliau di pemerintahan. Masa gara-gara penilaian objektif kami dihajar dengan statement begitu. Beliau mestinya lebih bijak menanggapi,” ujar Brian Putra Bastara.

Tidak hanya Ketum HIPMI Sumbar, Brian Putra Bastara, yang membalas statemen Waliota Riza Falepi. Namun Ketua Umum BPC HIPMI Kota Padang, Agung Hariyona, juga bereaksi dan ikut merespon ucapan Wali Kota Payakumbuh tersebut.

Agung menyebut, statement yang kurang bijaksana dari Wali Kota Payakumbuh dalam menghadapi anak muda yang penuh dengan semangat dan energik.

“Sudah sepantasnya yang bersangkutan diajari oleh anak muda bagaimana cara bersikap,” ungkap Agung sekaligus menyampaikan kalau membuat statement hanya berdasarkan ego sudah saatnya pemerintah kembali belajar.

GELAR JUMPA PERS

Rupanya pernyataan Walikota Riza Falepi yang terkesan merendahkan martabat HIPMI Kota Payakumbuh itu mendapat tanggapan dari pengurus HIPMI Kota Payakumbuh.

Buktinya, Senin sore (11/7/2022) pengurus HIPMI Kota Payakumbuh tersebut menggelar konfrensi pers di sebuah kafe di kawasan Koto Nan Ampek.

Dalam jumpa pers yang dihadiri Ketua Umum HIPMI Kota Payakumbuh, Dika Sacend dan Sekretaris Khairul Mufti serta pengurus lainnya itu, Dika Sacend sangat menyayangkan sikap Walikota Riza Falepi yang sangat tidak berkualitas sebagai pemimpin itu.

Dikatakan Dika Sacend, penilaian yang dilakukan HIPMI terhadap kinerja DPMPTSP Kota Payakumbuh bukan penilaian asal-asalan, tapi atas dasar instruksi dari Kementerian Investasi dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI yang berkerjasama dengan Badan Pengurus Pusat (BPP) HIPMI.

“Penilaian ini adalah berdasarkan instruksi kementerian. Jadi bukan bisa-bisa kami saja,” kata Dika Sacend diamini Chairul Mufti.

HIPMI Payakumbuh sendiri, kata Dika Secend, sempat memberikan penilaian bagus terhadap DPMPTSP Payakumbuh pada 2021 lalu. Ketika penilaian bagus itu diberikan tidak ada tanggapan bernada menyerang yang dikeluarkan orang nomor satu di Kota Payakumbuh.

“Untuk 2022 tidak ada komunikasi yang coba dijalin DPMPTSP dengan kami selaku HIPMI. Karena itu, kami tidak mengetahui program DPMPTSP Payakumbuh, itu lah yang kami sampaikan saat melakukan penilaian,” terang Dika.

Sementara itu Sekretaris BPC HIPMI Kota Payakumbuh, Chairul Mufti menyebut bahwa sebagai organisasi di daerah dan dihuni oleh pengusaha-pengusaha muda, pihaknya butuh bimbingan dari semua pihak, termasuk Riza Falepi selaku Walikota.

“Kami butuh arahan bukan dipatahkan dengan pernyataan-pernyataan yang menyudutkan seperti itu,” katanya.

HIPMI sendiri menurut dia bukanlah organisasi ecek-ecek seperti yang disampaikan Riza Falepi. Dalam Kabinet Indonesia Bersatu bahkan ada empat menteri yang merupakan kader HIPMI.

“Bahkan Presiden Jokowi juga merupakan kader HIPMI,” tegas Owner Abeja Mart itu. (A)