Imbas Lean Clearing Pembangunan TOL, Masyarakat Parit Malintang Bakal Demo

Paritmalintang, investigasi.news – imbas dari Lean Clearing pembangunan jalan tol Padang-Sicincin tepatnya pada KM 23 Kanagarian Paritmalintang, lahan pertanian warga tertimbun dan tak bisa digarap lagi. Lahan produktif yang keseharian ditanami Padi oleh warga korong pasadama itu kini rusak dan sawah milik mereka tertimbum akibat longsoran pengerjaan lean clearing pembangunan jalan Tol.

Kejadian tersebut tepatnya Pada hari Senin 19 September 2022 sekitar pukul 13.30 siang dan berlokasi di Korong Pasadama, Kanagarian Parit Malintang, Kab. Padang Pariaman.

Informasi yang dihimpun di lapangan bahwa adanya potensi unjuk rasa yang bakal digelar oleh masyarakat Kanagarian Parit Malintang terkait dengan rusaknya sawah milik mereka imbas material pengerjaan lean clearing pembangunan jalan yang dikerjakan oleh PT. Petronesia Berlindo yang diketahui merupakan cucu dari Perusahaan PT. Hutama Karya Persero.

Diketahui sebelumnya, Sawah masyarakat tersebut tertimbun longsoran material pengerjaan pembangunan jalan tol sejak tahun 2021 tahun lalu. sejak awal pengerjaan pembangunan jalan Tol tepatnya di KM 23, aliran air yang membawa tanah traz dan mengendap di sawah garapan masyarakat Nagari Parit Malintang dan itu belum ditanggapi oleh PT. Petronesia Berlindo sebagai Vendor pelaksana yang ditunjuk oleh PT. HKi anak perusahaan dari PT. Hutama Karya Persero.

Kepada media ini Zulfahmi (50) mengatakan Sawahnya yang tertimbun longsoran material pengerjaan lean clearing pembangunan jalan tol itu terdapat dua bidang yang dimiliki oleh kaum panyalai dan Kaum Sikumbang dengan perkiraan luas kurang lebih 5 hektar

“Akibat dari longsoran material pengerjaan pembangunan jalan tol ini, sawah yang saya garap tidak bisa lagi di fungsikan dan ini sejak tahun lalu, dan saya sudah pernah melaporkan kejadian ini ke PT. HKi” katanya

Sekarang yang jadi tuntutan saya kepada pihak PT. HKI ataupun PT. Petronesia ini adalah, Agar pihak perusahaan PT. Petronesia Berlindo mau melakukan mediasi dengan masyarakat penggarap sawah, kami minta PT. Petronesia untuk dapat membuatkan saluran aliran irigasi sehingga sawah yang belum tertimbun oleh material dapat berfungsi dengan baik.

Dan kami juga minta Agar pihak PT. Petronesia mengganti kerugian masyarakat yang tidak bisa menanam Padi sejak mulai pengerjaan jalan Tol tahun 2021 sampai sekarang.

Dan Apabila pihak perusahaan dan Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman tidak menindak lanjuti permasalahan ini, maka kami sebagai penggarap sawah akan melakukan aksi unjuk rasa ke kantor Bupati dan Gubernur Sumbar” pungkasnya.

Kejadian yang masih terus terulang ini sepertinya pihak perusahaan PT. HKi selaku pemegang kontrak utama penugasan pelaksanaan pembangunan proyek strategis nasional Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) abai terhadap persoalan di lapangan, sehingga sub-kont dari PT. HKI sendiri juga tidak merespon apa yang menjadi kendala masyarakat dilapangan.

Terpisah, Pelaksana lapangan PT. Petronesia Berlin Raja dihubungi ponselnya belum memberi tanggapan.

Begitu juga sebaliknya, Project Directur PT. Hutama Karya Marthen Robert Signal dihubungi ponselnya juga tidak memberikan tanggapan.

Tak berhenti disitu, Project Manager PT. HKI Tomi Herlambang pun dihubungi ponselnya juga tidak merespon.

Hingga berita ini diturunkan belum ada pihak terkait yang bertanggung jawab memberikan tanggapan atas kejadian tersebut. Tim