Kawasan Mangrove di sungai Perimping Butuh Perhatian, Jangan Biarkan di Hajar Ponton PIP yang Tidak Bertanggung jawab

Kabupaten Bangka. Investigasi.news – Nasib hutan mangrove yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mulai terancam dan terabaikan.

Sebagian orang yang perduli lingkungan terus berusaha dan berupaya menanam mangrove, Namum sebagian lagi merusak
tanpa belas kasihan.

Padahal Hutan mangrove mampu jadi pelindung dari bencana seperti tsunami hingga bisa mengurangi korban jiwa dan harta benda, Ketika tsunami datang, selain itu mangrove bisa menahan dan memecah gelombang pasang.

Salah satu kerusakan mangrove yang ada di Babel, disebabkan secara langsung oleh aktivitas Tambang.

Permasalahan itu jelas sekali, bahwa kerusakan mangrove oleh aktivitas tambang adalah usaha eksploitasi yang hanya memperhatikan keuntungan jangka pendek saja, daripada eksploitasi jangka panjang yang berkelanjutan.

Hal seperti itu terus berulang, belum ada kebijakan strategis untuk menyelamatkan hutan mangrove yang masih tersisa di Bumi Serumpun Sebalai ini.

Seperti yang terjadi sepekan ini di kawasan Laut Perimping desa Berbura kecamatan Riau Silip kab. Bangka. Investigasi yang dilakukan Tim Media Jobber (Journalis Babel Bergerak) terlihat ratusan penambang sedang beraktifitas di kawasan Mangrove Laut Perimping desa Berbura Kecamatan Riau Silip, Kab. Bangka, yang mengancam keberadaan hutan Mangrove tanpa belas kasihan.

Mangrove yang dahulunya rimbun kini luluh lantak. Demikian pula para nelayan yang mendapatkan ikan dari menjaring dan tuguk (perangkap ikan tradisional), kini jauh dari kata berhasil, ulah aktivitas tambang tersebut.

Deru mesin Tl, seakan memberi kabar kepada dunia bahwa hutan mangrove di kawasan Laut Perimping ini sedang sekarat dan terabaikan.

Bagaimana dengan kebijakan yang dipegang oleh para pemimpin yang berada di Bangka Belitung saat
ini. Sementara Kerusakan hutan mangrove yang masif dibantai para penambang sekarang ini,

Apakah hanya diselesaikan dengan cara penanaman bibit Mangrove baru ?.

Sementara sejumlah warga diwilayah itu mengeluh kondisi saat ini, karena hasil tangkapnya jauh berkurang.

“Kami lah payah nyarik ikan pak, muket lah jauh, tuguk dak ngasil, sejak ade tambang disitu,” keluh sumber kepada tim media Jobber, Minggu (7/8/2022).

Pantauan Tim Jobber, ratusan ponton isap produksi (PIP) asik meluluh lantakan Kawasan mangrove Laut Perimping desa Berbura.

Sementara, Tim Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) Babel, yang dibentuk Gubernur Ridwan Djamaluddin, Elly Robuin yang focus terhadap perbaikan dan menjaga mangrove di Babel yang masih excite mengatakan tidak hanya mangrove di wilayah Perimping yang harus dijaga dari kerusakan, tetapi ada 80.761 hektare ekosistem mangrove di Babel dalam kondisi rusak (data Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) yang harus dijaga.

Dirinya menghimbau jangan lagi menambah kerusakan mangrove, karena dengan adanya aktivitas tambang diwilayah tersebut semakin bertambah besar jumlah kerusakan mangrove.

“Jadi tolong jangan ditambah lagi kerusakan, dengan menambang di wilayah Mangrove, dan kehidupan itu bukan berasal dari menambang saja, akan tetapi bisa dari nelayan dan petani, untuk itu mari kita jaga bersama ekosistem mangrove di Babel,” ujarnya. ( Zli )

Laporan : En_dos // editor : Bintang.