Merasa Dirugikan, Masyarakat Dan Ninik Mamak Kecam Exploitasi Timbunan Bukit Palano

50 Kota, Investigasi.News – Terkait adanya
Pengerukan tanah (Exploitasi) Timbunan di Nagari Solok Bio-Bio Kecamatan Harau atau Bukit Palano yang diduga merupakan Hutan Lindung atau Hutan Penyangga menuai protes dari masyarakat banyak.

Hal tersebut terkuak saat Abdul Khalid bersama pemuda serta Niniak Mamak Nagari Solok Bio-Bio menyampaikan keluh kesahnya kepada media ini. Masyarakat berharap pemerintah setempat dapat menghentikan kegiatan Pengerukan tanah (Exploitasi) Timbunan di Nagari Solok Bio-Bio Kecamatan Harau atau Bukit Palano. Selain tempat ini diduga Hutan Lindung atau hutan Penyangga, pengerukan tersebut juga bakal berakibat fatal kepada Masyarakat.

Dikatakannya, pengerukan tanah ini sudah berlangsung lebih kurang satu bulan. Sehingga jika semakin lama pengerukan ini akan semakin berdampak buruk terutama Jalan Utama Nagari Solok Bio-Bio sudah hancur dan memerah pada jalan Raya Sepanjang Solok Bio-Bio, bila hujan datang jalannya becek dan berwarna merah, kalau cuaca Panas Berdebu yang mengakibatkan tidak nyaman lagi bagi warga setempat untuk melalui Jalan.

Mengingat hal tersebut, jadi pengerukan Tanah ini saya anggap Ilegal dan juga merubah ekosistim Hutan, bisa juga mengakibatkan Longsor, karena belum adanya Izin dari Pemuda dan Niniak Mamak Solok Bio-Bio, apalagi masalah jni juga belum ada dibicarakan (musyawarah) bagaimana kontribusi untuk nagari dan dampaknya bagi warga sangat riskan.

Khalid yang mewakili pemuda Solok Bio-Bio serta Niniak Mamak Nagari Solok Bio-Bio atau warga sangat berharap bagi yang berkompeten atau Pemerintah Kabupaten/Nagari untuk menghentikan Kegiatan tersebut, karena dampaknya sangat Buruk dan jalan hancur. “Pernah ditanyakan kepada pemerintahan nagari, galian timbunan ini sudah ada Izinnya dan pihak kontraktor atau pembeli tanah akan berjanji untuk menimbun jalan dengan sirtu tapi Kenyataannya jalan ditimbun dengan Tanah yang mengakibat jalan tambah parah”, kata Khalid kesal.

Kami juga berharap pemerintahan Nagari untuk segera menghentikan proyek ini, kalau wali nagari tidak mau, kami Sebagai warga curiga dalam hal ini, kami menduga Wali Nagaripun terlibat dalam kegiatan tersebut. Seharusnya seorang Wali Nagari prihatin terhadap warga, yang mana dampak lingkungan nya bagi warga sendiri.

“seperti Bundo Kandung Kami sudah banyak yang keluar dari Solok Bio-Bio bersih pakaiannya dan pulang sudah Kotor semua pakaiannya, bahkan ada yang sampai jatuh karena jalan sudah licin dan rusak parah, kalau hari hujan Jalan Balacah (Becek), Kalau panas berdebu, siapa yang bertanggung Jawab”, katanya.

Sementara terpisah,Wali Nagari Andri Helmiadi ketika ditemui wartawan mengatakan Bahwa kegiatan ini sudah ada izinnya dan rekomendasi ke Polres Limapuluh Kota. Dalam hal ini surat tersebut telah diajukan oleh yang punya tanah untuk menggali/Mengeruk tanah longsor dan sudah saya tanda tangani dan saya sebagai wali nagari menyetujui dan surat rekomendasi tersebut sudah diantarkan langsung ke polres. Dan surat tersebut diantar langsung oleh pihak pemborong”, jelas Andri. (Tim)