Pasaman Bumi Khatulistiwa Dideklarasikan, Masyarakat Harus Siap Terhadap Perubahan

Tekad mewujudkan Pasaman menjadi daerah tujuan wisata, akhirnya ”dipatronkkan” Pemerintah Kabupaten Pasaman bersama masyarakat daerah ini. Tekad itu “menggema” ke seluruh penjuru Pasaman setelah dideklarasikannya Pasaman: Land of the Equator, Kamis (16/6) di Taman Wisata Equator Bonjol.

“Deklarasi ini menjadi momentum kebangkitan pembangunan pariwisata Kabupaten Pasaman ke depan,” kata Bupati H. Benny Utama, dihadapan Wakil Gubernur Sumbar, pejabat kementerian, kepala OPD Pemprov Sumbar, Wakil Bupati dan Forkopimda Pasaman, kepala OPD, barisan ninik mamak, wali nagari dan tokoh perantau Pasaman, serta penggiat pariwisata serta grup kesenian di daerah itu.

Dalam pidatonya, Bupati Benny Utama menyebut Pasaman Land of the Equator akan ditetapkan menjadi Icon pariwisata Pasaman, dan akan dipatentkan sebagai potensi pariwisata milik daerah ini.

Keunikan yang terdapat di ranah Pasaman merupakan rahmat dan karunia dari Sang Maha Pencipta. Tidak banyak daerah yang memiliki potensi besar ini, apalagi didukung jejak sejarah perjuangan Pahlawan Tuanku Imam Bonjol,” ujarnya.

Tekad dan komitmen Pemerintah Kabupaten Pasaman itu, diapresiasi langsung Wakil Gubernur Sumbar Audy Joinaldy.

Wagub Sumbar Audy tampak hadir didampingi Kadis Pariwisata Sumbar Luhur Budianda, Kadis Kebudayaan Syaifullah serta sejumlah pejabat Pemprov Sumbar lainnya, termasuk Kepala Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Sari Lenggogeni.

Acara deklarasi Pasaman Land of The Equator terbilang akbar, karena dipadu pagelaran Pasaman Equator Festival (PasEFest) 2022 selama empat hari berturut-turut, di empat daerah berbeda, dari tanggal 16 hingga 19 Juni 2022.

“PasEFest menjadi salah satu perayaan anak nagari Pasaman dalam menyambut deklarasi Pasaman Land of the Equator ini,” ujar bupati.

Untuk itu Bupati Benny minta, deklarasi jangan hanya sebatas seremonial, namun harus ada tindak lanjut ke depannya.

“Pengembangan pariwisata tidak bisa mengandalkan pemerintah semata, namun butuh peran serta masyarakat dan masyarakat harus terbuka terhadap pengembangan pariwisata itu sendiri,” jelasnya.

Dikatakan, dengan selesainya pembangunan akses jalan Bonjol – Suliki (Kabupaten 50 Kota) nantinya, masyarakat Pasaman harus bisa mengambil peluang kunjungan wisatawan dari Riau, yang selama ini tumpah di Bukittinggi.

“Sudah saatnya Pasaman menjadikan sektor pariwisata sebagai sektor unggulan pertumbuhan ekonomi daerah. Kemudian menjual pariwisata yang ada ke dunia luar sehingga mendongkrak pendapatan daerah dan masyarakatnya,” ujarnya.

Menurut Bupati, di Kabupaten Pasaman banyak sekali terdapat objek wisata potensial, salah satunya di Bonjol ini. Selain tempat kelahiran pahlawan nasional Tuanku Imam Bonjol, Kecamatan Bonjol juga menjadi salah satu kawasan yang dilintasi garis khatulistiwa.

Dan dalam dua kali setahun, digelar perayaan Titik Kulminasi (titik nol derjat) matahari melintas bumi, atau tidak ada bayangan. Mitosnya, jika sering melintas di garis khatulistiwa, akan membuat seseorang awet muda.

“Jadi kalau kita sering-sering melintas di Bonjol ini Pak Wagub, maka akan awet muda kita. Saya terlihat masih muda saat ini, ya karena sering bolak balik lewat sini,” seloroh bupati kepada wakil gubernur Audy, yang disambut gelak tawa.

Sempat disingkap bupati tentang rencana pembangunan Planetorium di kawasan objek wisata Equator Bonjol tahun 2023 depan, dengan alokasi anggaran Rp.20 milyar. Pembangunan yang cukup prestisius ini, hasil kerjasama Pemkab Pasaman dengan Pemprov Sumbar.

“Kerjasama anggaran dengan porsi Rp.12 milyar dari APBD Pasaman dan Rp.8 milyar dari APBD Sumbar,” katanya.

Mantan jaksa ini menyebut, tidak hanya Equator Bonjol, objek wisata alam Rimbo Panti juga menjadi destinasi wisata unggulan Pasaman, disamping objek wisata alam potensial lainnya.

Rimbo Panti mempunyai air panas yang bisa dikembangkan. Rencananya Pemkab Pasmaan akan membuat Rimbo Panti seperti kebun raya Bogor, didukung pemandian kolam air panas, yang akan dikelolakan ke pihak ketiga.

“Dua ini kita fokuskan pengembangannya. Kemudian menyusul ke objek wisata lainnya,” jelas bupati.

Untuk mewujudkan itu, masyarakat Pasaman diminta mampu beradaptasi menjadi tuan rumah yang terbuka bagi wisatawan.

“Wisata ini ingin kita maksimalkan ke depan. Tentu ada pilihan-pilihan terbaiknya,” tambahnya.

Tentang pagelaran PasEFest 2022 yang mengangkat kesenian tradisional lokal, merupakan upaya mewujudkan perioritas pembangunan menjadikan Pasaman sebagai tujuan wisata.

“Menyambut transformasi kampung halaman Imam Bonjol itu sebagai Land of The Equator, dalam waktu dekat Pemerintah Pasaman juga akan menyelenggarakan sayembara pembuatan logo dan tugu Pasaman Land of The Equator, sebagai simbol yang akan memperkenalkan Icon Pasaman di kancah pariwisata internasional,” tutup bupati Benny Utama.

Di kesempatan itu, Wagub Audy Joinaldy mendukung penuh program Pemkab Pasaman mengembangkan pariwisata daerahnya. Hal itu juga sejalan dengan pemerintah provinsi.

“Provinsi mendukung daerah-daerah yang ingin membangun. Kami siap menggandeng, dan kita apresiasi Bupati Benny karena ingin membangun bersama pemerintah provinsi,” sambut Audy.

Ia menyarankan agar Tuanku Imam Bonjol dan Equator untuk menjadi ikonnya Pasaman, terutama icon wisata.

Wagub mengatakan, nilai historis yang diwariskan Imam Bonjol dan keunikan geografis Pasaman sebagai Land of The Equator, merupakan sebuah perpaduan icon menarik yang harus dipatenkan dan diangkat sebagai kekayaan intelektual Pasaman dan Sumatera Barat untuk menarik minat wisatawan.

Sebagai Kabupaten yang tengah bergerak secara progresif menjadi destinasi wisata baru, menurut Wagub Audy, potensi besar Pasaman kini tengah di explore dengan dedikasi yang tinggi oleh pemerintah daerah. Belum lagi dalam waktu dekat Pasaman akan membangun planetorium yang diperkirakan akan menjadi yang terbesar di Sumatera, serta rencana kerjasama dengan BKSDA untuk pemugaran taman suaka alam di Rimbo Panti.

Oleh karena itu ia berpesan, agar masyarakat Pasaman bersiap, karena menjadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi membutuhkan perubahan paradigma, terutama berkaitan dengan hospitality, menjadi tuan rumah yang baik dan menjaga kebersihan lingkungan sebagai salah satu kunci keberlangsungan pariwisata.

Ditempat yang sama, Kurator Pasaman Festival, Bung Edy Utama mengatakan, iven PasEfest 2022 adalah salah upaya melestarikan tradisi. Karena dalam ajang ini banyak ditampilkan kesenian dan budaya asli Pasaman. Kegiatan juga melibatkan banyak generasi muda.

“Dengan iven ini, menjadikan anak kemenakan kembali ke tradisi dan budaya yang sudah ditinggalkan, akibat pengaruh perkembangan zaman. Nagari perlu berikan perhatian khusus, sehingga anak kemenakan kembali seperti dulu. Inilah salah satu tujuan iven ini” pungkas Edy Utama.

Disebutkan, PasEFest perdana ini digelar dalam bentuk perayaan anak nagari yang dipusatkan di kawasan terpadu Museum Tuanku Imam Bonjol dan Taman Khatulistiwa Bonjol. Selanjutnya dilaksanakan di tiga desa wisata unggulan Pasaman, yakni Nagari Simpang, Nagari Jambak dan Lubuak Gadang.

“Ini adalah sebuah event yang meramu warisan sejarah, budaya dan keunikan alam yang terdapat di Pasaman,’ tutur budayawan Sumatera Barat ini.

Liputan: Suci Martia, S.IKom