Prilaku Tantrum Anak Usia Dini

More articles

spot_img

 

Desi Eli Marlita

Pendidikan Anak Usia Dini, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Padang

Email: desielimarlita90@gmail.com

Dosen : Dr. Setiyo Utoyo,M.Pd

 

 

ABSTRAK

 

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran prilaku emosi pada anak usia dini. Setiap manusia tentunya memiliki perilaku yang berbeda-benda, misalnya penuh dengan kesabaran dalam menghadapi masalah. Namun ada juga dengan luapan emosional yang tidak dapat dikendalikan. Hal ini dikenal dengan istilah perilaku perilaku tantrum. Penelitian yang dilaksanakan merupakan observasi atau pengamatan. Tujuan penulisan ini untuk mengetahui dan mendeskripsikan emosi pada anak usia dini.

 

Katakunci : Prilaku Tantrum Anak Usia Dini

 

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa agar menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. Hal ini sejalan dengan pendapat Munib, dkk (2006:29) yang berpendapat bahwa: Pendidikan merupakan sarana utama dalam membentuk dan menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, baik melalui pendidikan informal maupun pendidikan formal. Pendidikan sebagai sistem terdiri dari tiga komponen, yaitu masukan (input), proses (process), dan keluaran (output).

Pendidikan mengemban tugas untuk menghasilkan generasi yang baik, manusia-manusia yang lebih berkebudayaan, manusia sebagai individu yang memiliki kepribadian yang lebih baik. Pendidikan terbagi menjadi tiga bidang yaitu pendidikan formal, pendidikan non formal dan pendidikan informal. Salah satu contoh pendidikan formal adalah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 14 bahwa:

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Berdasarkan perkembangannya, masyarakat telah menunjukkan kepedulian terhadap masalah pendidikan, pengasuhan, dan perlindungan anak usia dini untuk usia 0 sampai dengan 6 tahun dengan berbagai jenis layanan sesuai dengan kondisi dan kemampuan yang ada, baik dalam jalur pendidikan formal maupun non formal.

Anak merupakan karunia dan amanah Tuhan Yang Maha Esa. Anak memiliki potensi yang perlu ditumbuh kembangkan seluas-luasnya secara optimal, baik fisik, mental maupun sosial-emosional. Dalam setiap pertumbuhan dan perkembangannya, setiap anak memiliki perbedaan karakteristik individual masing-masing, sedangkan pertumbuhan dan perkembangan tidak dapat dipisahkan. Ketika anak menginjak usia 1 – 6 tahun, anak sangat peka dan sensitif terhadap berbagai rangsangan dan pengaruh dari luar. Anak mengalami tingkat perkembangan yang sangat cepat, dimulai dari perkembangan berpikir, perkembangan emosi, perkembangan motorik, perkembangan fisik dan perkembangan sosial.

Peran orang tua dalam perkembangan sangat penting, karena dengan keterampilan orang tua yang baik maka diharapkan pemantauan anak dapat dilakukan dengan baik pula. Namun, anak juga perlu bimbingan dari luar lingkungan keluarga, salah satunya adalah pendidikan anak usia dini. Pendidikan anak usia dini akan memberikan rangsangan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani serta diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak ke arah yang lebih baik sesuai dengan harapan.

Menurut Djalii (2012:37), perkembangan emosional mencakup: Pengendalian diri, ketentuan, dan satu kemampuan untuk memotifasi diri sendiri. Sebagai pakar menyatakan bahwa EQ disebut juga sebagai kecerdasan bersikap. Emosi adalah pengalaman yang efektif yang disertai oleh penyesuaian batin secara menyeluruh, di mana keadaan mental dan fisiologi sedang dalam kondisi yang meluap-luap juga dapat di perhatikan dengan tingkah laku yang jelas dan nyata. Biasanya emosi yang terjadi pada anak usia dini sangat dahsyat yang disebabkan berbagai macam faktor, baik dari pola asuh orang tua, lingkungan sosial tempat tinggal bahkan karena keterbatasan ekonomi. Luapan emosi yang tidak terkontrol baik pada anak maupun orang dewasa biasanya dikenal dengan istilah perilaku “tantrum”.

Menurut Chaplin (2009:502) “tantrum merupakan suatu ledakan emosi yang kuat sekali, disertai rasa marah, serangan agresif, menangis, menjerit-jerit, menghentak-hentakkan kedua kaki dan tangan pada lantai atau tanah”. Menurut Mah (2008:2) menjelaskan bahwa “anak-anak yang berusia lebih dari 4 tahun namun masih memiliki tantrum, harus dievaluasi oleh seorang profesional”.

Perilaku tantrum pada anak-anak antara usia 1-4 adalah normal. Perilaku tantrum yang melampaui usia terutama jika kadarnya sering, berat, dan yang berhubungan dengan perilaku anak adalah tanda dari masalah perilaku yang lebih besar. Anak-anak ini beresiko mengalami masalah perilaku yang lebih serius di kemudian hari. Meskipun mencari konsultasi profesional mungkin bijaksana bagi beberapa anak, namun peran orang dewasa juga penting untuk mengevaluasi amukan anak.

Umumnya perilaku tantrum merupakan perilaku wajar yang terjadi pada anak-anak usia dini karena merupakan fase perkembangan fisik, kognitif, serta emosi anak. Di sisi lain, perilaku tantrum juga dapat menjadi masalah tersendiri ketika muncul dengan frekuensi, intensitas, dan dalam waktu yang relatif melebihi yang biasanya terjadi pada anak seusianya.

PEMBAHASAN

  1. Prilaku tantrum
  2. Pengertian prilaku tantrum

Setiap manusia tentunya memiliki perilaku yang berbeda-benda, misalnya penuh dengan kesabaran dalam menghadapi masalah. Namun ada juga dengan luapan emosional yang tidak dapat dikendalikan. Hal ini dikenal dengan istilah perilaku perilaku tantrum.

Ada beberapa pendapat ahli di bawah ini tentang perilaku tantrum, yaitu sebagai berikut : Pertama, menurut Wiyani (dalam Esti Lusiana, 2015:37) bahwa: Kata temper berasal dari bahasa inggris yang berarti tendency to be angry atau mudah marah sedangkan tantrum berarti marah. Sementara secara istilah temper tantrum berarti perilaku mudah marah dengan kadar marah yang berlebihan.

Sedangkan menurut (Chaplin, 2009: 502), “tantrum merupakan suatu ledakan emosi yang kuat sekali, disertai rasa marah, serangan agresif, menangis, menjerit-jerit, menghentak-hentakkan kedua kaki dan tangan pada lantai atau tanah”. Mashar (2011:92) menyebutkan bahwa tantrum adalah “suatu letupan kemarahan anak yang sering terjadi pada saat anak menunjukkan sikap negativistik atau penolakan”. Perilaku ini sering diikuti dengan tingkah seperti menangis dengan keras, berguling- guling di lantai, menjerit, melempar barang, memukul-mukul, menendang, dan berbagai kegiatan.

Baca Juga :  Bupati Asahan Buka Rakorpem Bulan Oktober

Berdasarkan pendapat di atas, disimpulkan bahwa perilaku tantrum merupakan luapan emosi yang tidak terkendali disertai dengan rasa marah menjerit-jerit dan menangis.

 

  1. Jenis-jenis prilaku tantrum

Perilaku tantrum tidak hanya terjadi pada anak yang sedang frustasi, melainkan karena banyak hal, mulai dari tidak terpenuhnya keningin hingga kesulitan dalam meyampaikan perasaannya. Hal inilah terkang membuat anak menjadi sulit dalam beradaptasi dengan lingkungannya.

Di bawah ini ada beberapa jenis perilaku tantrum menurut para ahli, yaitu : Menurut Wiyani (2014) ada tiga jenis temper tantrum antara lain :

  1. Manipulative tantrum

Manipulative tantrum terjadi jika seorang anak tidak memperoleh apa yang dia inginkan. Perilaku ini akan berhenti saat keinginannya terpenuhi. Contoh perilaku manipulative tantrum menurut Amin, 2010 seperti saat menginginkan sesuatu cemberut dan melotot sambil menghentakkan kaki, jika tidak dituruti kemudian teriakannya semakin keras dan gerakannya tidak terkendali, setelah keinginanya terpenuhi akan berhenti.

  1. Verbal frustation tantrum

Tantrum jenis ini terjadi jika anak tahu apa yang dia inginkan, tetapi tidak tahu bagaimana cara menyampaikan keinginannya dengan jelas kepada orang lain (misalnya, orang tua). Pada kejadian ini anak akan mengalami frustasi. Namun tantrum jenis ini akan menghilang dengan peningkatan kemampuan komunikasi anak, apabila komunikasi anak semakin meningkat maka anak akan mampu untuk menjelaskan kesulitan yang dialami. Contoh dari perilaku Verbal frustation tantrum saat memegang sesuatu kemudian membuangnya semakin marah disertai membuang benda-benda yang ada disekitarnya jika orang tua berteriak marah maka anak akan semakin marah menjatuhkan diri di lantai, biasanya terjadi karena anak tidak bisa menyelesaikan permainan misalnya seperti puzzle.

  1. Tempra mental tantrum

Tantrum ini dapat terjadi jika tingkat frustasi anak mencapai tahap yang sangat tinggi dan anak menjadi sangat tidak terkontrol, serta sangat emosional. Anak sulit untuk berkonsentrasi, anak tampak bingung dan mengalami disorientasi. Meskipun mereka tidak meminta tolong sesungguhnya mereka sangat membutuhkannya. Contoh perilaku temperamental tantrum pada saat anak sedang menginginkan sesuatu anak akan menangis, mengigit bibirnya, berteriak dengan keras, memukul, duduk ditanah sambil menghentakkan kakinya.

Berdasarkan pendapat di atas, maka disimpulkan bahwa perilaku tantrum memiliki beberapa jenis yaitu, pertama manipulative tantrum yang terjadi jika seorang anak tidak memperoleh apa yang dia inginkan. Kedua, Verbal Frustation Tantrum anak akan mengalami frustasi jika anak tahu apa yang dia inginkan, tetapi tidak tahu bagaimana cara menyampaikan keinginannya dengan jelas kepada orang lain (misalnya, orang tua). Ketiga, temperamental tantrum terjadi ketika tingkat frustasi anak mencapai tahap yang sangat tinggi, anak menjadi sangat tidak terkontrol dan sangat emosional.

 

  1. Ciri-ciri prilaku tantrum

Perilaku tantrum sebenarnya bagian dari tahap perkembangan anak pada usia pra-sekolah yang ditandai dengan ledakan emosi. Anak-anak yang mengalami ledakan emosi ketika tantrum ini biasanya akan menunjukkan ciri-ciri seperti tiba-tiba berteriak, menangis dengan keras, berguling-guling, menendang, memukul, melempar bahkan kejang-kejang menyerupai orang yang terkena penyakit ayan. Bahkan mereka tidak segan untuk melakukan perbuatan yang menyakiti diri sendiri seperti membenturkan kepala dan memukul-mukul tubuhnya.

Menurut Zaviere (2008:54) menjelaskan mengenai ciri-ciri tantrum berdasarkan kelompok usia. Dalam hal ini dijelaskan mulai dari usia 3-5 tahun ke atas. Berdasarkan kelompok usia tantrum dibedakan menjadi:

  1. Di bawah 3 tahun, anak dengan usia di bawah 3 tahun ini bentuk tantrumnya adalah menangis, menggigit, memukul, menendang, menjerit, memekik-mekik, melengkungkan punggung, melempar badan ke lantai, memukul-mukulkan tangan, menahan napas, membentur-benturkan kepala dan melempar-lempar barang.
  2. Usia 3-4 tahun, anak dengan rentang usia antara 3 tahun sampai dengan 4 tahun bentuk tantrumnya meliputi perilaku pada anak usia di bawah 3 tahun ditambah dengan menghentak-hentakkan kaki, berteriak-teriak, meninju, membanting pintu, mengkritik dan merengek.
  3. Usia 5 tahun ke atas bentuk tantrum pada anak usia 5 tahun ke atas semakin meluas yang meliputi perilaku pertama dan kedua ditambah dengan memaki, menyumpah, memukul, mengkritik diri sendiri, memecahkan barang dengan sengaja dan mengancam.

Sedangkan Wiyani (dalam Esti Lusiana, 2015:37), menyampaikan bahwa terdapat tiga ciri anak yang berperilaku tantrum, antara lain :

  1. Suka cemberut dan mudah marah Anak dengan perilaku temper tantrum biasanya menunjukkan sikap suka cemberut dan mudah marah saat sedang bermain dengan teman-temannya.
  2. Suka mengamuk Anak dengan perilaku temper tantrum akan mengamuk jika keinginannya tidak dipenuhi oleh orang tuanya atau pendidik PAUDnya.
  3. Suka menyakiti dirinya sendiri Anak dengan perilaku temper tantrum memiliki kelemahan dalam mengendalikan emosinya, sehingga meluapkannya dalam bentuk kemarahan yang berlebihan.

Berdasarkan beberapa ciri di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa ciri-ciri tantrum yang umum terjadi yaitu mudah marah (memaki, menyumpah, memukul), suka mengamuk seperti memecahkan barang dengan sengaja, menghentak-hentakkan kaki, berteriak teriak, meninju, membanting pintu dan merengek, suka menyakiti diri sendiri diserta dengan melempar badan ke lantai, kepala dan melempar-lempar barang. memukul-mukulkan tangan, menahan napas, membentur-benturkan kepala dan melempar-lempar barang.

 

  1. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Terjadinya Perilaku Tantrum

Pada umumnya, anak usia sekolah dan pra-sekolah yang mengalami tantrum. Perilaku tantrum muncul sebagai bentuk dari rasa frustrasi yang dialami anak karena tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Untuk dapat memecahkan masalahnya, anak kemudian mengekpresikannya dalam bentuk intensitas perasaan yang kemudian muncul dalam perilaku tantrum. Ada beberapa pendapat ahli di bawah ini mengenai penyebab terjadinya perilaku tantrum yaitu sebagai berikut :

Baca Juga :  Rekapitulasi Harian Covid– 19 Per Kecamatan Se Kab.Asahan 17 Juni 2022

Menurut Santi (2014:75), ada beberapa faktor yang menyebabkan tantrum, yaitu:

  1. Faktor anak yaitu terhalangnya keinginan anak mendapatkan sesuatu, ketidakmampuan anak mengungkapkan diri, tidak terpenuhinya kebutuhan, anak merasa lapar, lelah atau dalam keadaan sakit, anak sedang stress (akibat tugas sekolah dll) dan merasa tidak aman (insecure).
  2. Faktor dari orang tua yaitu pola asuh. Cara orang tua mengasuh anak berperan untuk menyebabkan tantrum. Anak terlalu dimanjakan dan selalu mendapatkan apa yang diinginkan, bisa tantrum ketika permintaannya ditolak. Anak yang terlalu dilindungi dan didominasi oleh orang tuanya, sekali waktu bisa bereaksi menentang dominasi orang tua dengan perilaku tantrum.

Hasan (2011:187) mengatakan bahwa pada masa awal kanak kanak ini hampir semua anak mengalami tantrum. Faktor utama yang menyebabkan tantrum pada anak adalah karena anak merasa frustasi dengan keadaannya, sedangkan ia tidak mampu mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata atau ekspresi yang diinginkannya. Sedangkan menurut Zaviera (dalam Esti Lusiana, 2015:22), beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya tantrum:

  1. Terhalangnya keinginan anak mendapatkan sesuatu Anak jika menginginkan sesuatu harus selalu terpenuhi, apabila tidak berhasil terpenuhinya keinginan tersebut maka anak sangat dimungkinkan untuk memakai cara tantrum guna menekan orangtua agar mendapatkan apa yang ia inginkan.
  2. Ketidakmampuan anak mengungkapkan diri Anak mempunyai keterbatasan bahasa, pada saatnya dirinya ingin mengungkapkan sesuatu tapi tidak bisa, dan orang tuapun tidak dapat memahami maka hal ini dapat memicu anak menjadi frustasi dan terungkap dalam bentuk tantrum.
  3. Tidak terpenuhinya kebutuhan Anak yang aktif membutuhkan ruang dan waktu yang cukup untuk selalu bergerak dan tidak bisa diam dalam waktu yang lama. Apabila suatu saat anak tersebut harus menempuh perjalanan panjang dengan mobil, maka anak tersebut merasa stress. Salah satu contoh pelepasan stressnya adalah tantrum.
  4. Pola asuh orang tua Cara orang tua mengasuh anak juga berperan untuk menyebabkan tantrum. Anak yang terlalu dimanja dan selalu mendapatkan apa yang diinginkan bisa tantrum ketika suatu kali permintaannya ditolak. Bagi anak yang terlalu didominasi oleh orang tuanya, sekali waktu anak bisa jadi bereaksi menentang dominasi orangtua dengan perilaku tantrum. Orang tua mengasuh anak secara tidak konsisten juga bisa menyebabkan anak tantrum.
  5. Anak merasa lelah, lapar atau dalam keadaan sakit Kondisi sakit, lelah, serta lapar dapat menyebabkan anak menjadi rewel. Anak yang tidak pandai mengungkapkan apa yang dirasakan maka kecenderungan yang timbul adalah rewel, menangis serta bertindak agresif.
  6. Anak sedang stress dan merasa tidak nyaman Anak yang merasa terancam, tidak nyaman dan stress apabila tidak dapat memecahkan permasalahannya sendiri ditambah lagi lingkungan sekitar yang tidak mendukung menjadi pemicu anak menjadi temper tantrum.
  7. Mencari perhatian Walaupun tantrum jarang dilakukan hanya untuk memanipulasi orangtua, hasil dari tantrum adalah perhatian penuh orang dewasa hal ini memberi alasan untuk menunjukkan tantrum.
  8. Meminta sesuatu yang tidak bisa anak miliki Anak memaksa ingin sarapan es krim atau meminta ibunya memeluknya saat menyiapkan makanan.
  9. Menunjukkan kemandirian Anak ingin mengenakan pakaian yang kurang sesuai dengan cuaca hari itu, seperti kaus di hari-hari yang dingin, atau tidak mau makan makanan yang sudah disiapkan.
  10. Frustasi dengan kemampuan yang terbatas Anak ingin menunjukkan kemampuannya melakukan beberapa hal sendiri, seperti berpakaian,atau menemukan potongan puzzle, tetapi tidak berhasil menyelesaikannya.
  11. Cemburu Biasanya ditunjukkan kepada kakak, adik atau yang lain, anak menginginkan mainan atau buku mereka.
  12. Menentang otoritas Anak tiba-tiba tidak ingin melakukan rutinitas seperti sebelumnya atau menolak berangkat ke penitipan anak, walaupun ia selalu senang di sana.
  13. Semata-mata keras kepala Seorang anak bisa saja menunjukkan tantrum apapun yang terjadi.

Berdasarkan pendapat kedua ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa ada beberapa hal yang menyebabkan perilaku tantrum terjadi diantaranya terhalangnya keinginan anak mendapatkan sesuatu, pola asuh orang tua, anak sedang stress dan merasa tidak nyaman, mencari perhatian, keras kepala dan merasa cemburu terhadap temannya.

 

  1. Gejala-gejala yang Muncul pada Anak Perilaku Tantrum

Banyak gejala-gejala atau penyebab muncurnya perilaku tantrum pada anak, khususnya anak usia dini. Adapun gejala tersebut dapat dilihat dari beberapa pendapat ahli di bawah ini : Menurut Mashar (2011:94) menyampaikan bahwa gejala-gejala yang muncul pada anak tantrum antara lain:

  1. Anak memiliki kebiasaan tidur, makan, dan buang air besar tidak teratur.
  2. Sulit beradaptasi dengan situasi, makanan, dan orang-orang baru.
  3. Lambat beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi.
  4. Mood atau suasana hatinya lebih sering negatif. Anak sering merespons sesuatu dengan penolakan.
  5. Mudah dipengaruhi sehingga timbul perasaan marah atau kesal.
  6. Perhatiannya sulit dialihkan.
  7. Memiliki perilaku yang khas, seperti: menangis, menjerit, membentak, menghentak-hentakkan mencela, mengenalkan tinju, kaki, merengek, membanting pintu, memecahkan benda, memaki, mencela diri sendiri, menyerang kakak/adik atau teman, mengancam, dan perilaku-perilaku negatif lainnya.

Sedangkan Menurut Hasan (2011:185) biasanya tantrum terjadi pada anak yang aktif dengan energi berlimpah. Tantrum juga lebih mudah terjadi pada anak-anak yang dianggap “sulit”, dengan ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Memiliki kebiasaan tidur, makan, dan buang air besar tidak teratur.
  2. Sulit menyukai situasi, makanan, dan orang-orang baru.
  3. Lambat beradaptasi terhadap perubahan.
  4. Moodnya (suasana hati) lebih sering negatif.
  5. Mudah terprovokasi, gampang merasa marah/ kesal.
  6. Sulit dialihkan perhatiannya.

Baca Juga :  HPN Kendari, Konsep Budaya Ciamik Helmi Hasan Raih Penghargaan AK – PWI

Gejala yang muncul pada anak yang berperilaku tantrum yaitu memiliki kebiasaan tidur, makan, dan buang air besar tidak teratur, sulit beradaptasi, suasana hati bersifat negatif, mudah terpengaruh, perhatiannya sulit dialihkan dan suka menangis, membentak dan memaki orang lain.

 

  1. Perilaku Tantrum Menurut Tingkatan Usia Setiap bawah ini.

Anak tentunya mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda-beda, begitu juga dengan perilaku yang dimiliki. Semakin bertambahnya usia, maka perilaku anak akan semakin baik. Namun, tidak semua anak mengalami hal yang sama. Hal ini dapat dilihat dari tingkatan usia yang dijelaskan oleh ahli di Menurut Hasan (2011:185) tingkatan usia perilaku tantrum terbagi menjadi:

  1. Perilaku tantrum dibawah usia 3 tahun menangis dengan keras, menendang segala sesuatu yang ada di dekatnya, menjerit-jerit, menggigit, memukul, memekik-mekik, melengkungkan punggung, melemparkan badan ke lantai, memukul mukulkan tangan, menahan nafas, membentur benturkan kepala, dan melempar-lempar barang.
  2. Perilaku tantrum usia 3-4 tahun menghentak-hentakkan kaki, berteriak-teriak, meninju, membanting pintu, mengkritik dan merengek.
  3. Usia 5 tahun ke atas memaki, menyumpah, memukul kakak/ adik atau temannya, mengkritik diri sendiri, memecahkan barang dengan sengaja, dan mengancam.

Bentuk-bentuk perilaku tantrum tidak hanya ditandai dengan adanya tangisan yang keras, namun disertai dengan perbuatan menghentak-hentakkan kaki dan tangan ke lantai, menjerit-jerit, memukul, melemparkan badan ke lantai, menahan nafas, membentur benturkan kepala, melempar barang, berteriak, membanting pintu, mengkritik, merengek, memaki, menyumpah, dan mengancam.

 

 

 

  1. Cara Mengatasi Perilaku Tantrum

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi perilaku tantrum yang terjadi pada anak. Baik dengan cara memberi perhatian perilaku tantrum, yaitu sebagai berikut : khusus maupun memberikan sebuah pujian yang dapat menyenangkan anak. Di bawah ini beberapa pendapat ahli tentang cara mengatasi Menurut Meggit (dalam Albertin 2017:17) ada beberapa cara mengatasi perilaku temper tantrum dengan menyasar langsung ke perilaku temper tantrum yang telah muncul, seperti:

  1. Menghindari penyebab tantrum dan mengalihkan perhatian anak.
  2. Meghiraukan tantrum dengan memberikan perhatian sedikit mungkin terhadap amukannya.
  3. Tetap tenang dalam menghadapi anak yang sedang mengekspresikan tantrum.
  4. Konsisten dengan penghirauan tersebut agar anak tidak mengurangi perilaku tantrum.
  5. Memberi sentuhan yang lembut dengan pelukan kuat dan berbicara dengan tenang.
  6. Memberi instruksi yang sederhana dan jelas untuk meredakan tantrumnya.
  7. Memuji dan memberi hadiah bila anak berprilaku baik.
  8. Menyediakan aktivitas yang menyenangkan.
  9. Memperlakukan „setrap‟atau time out bila tantrum muncul lagi.

Sedangkan menurut Mutiara (2015:64) upaya guru untuk mengatasi tantrum adalah guru bercerita mengenai perilaku yang baik dan tentang cara mengendalikan emosi, menasehati anak dengan mendudukan anak di pangkuannya, mengajarkan anak untuk bertanggung jawab dengan apa yang telah diperbuatnya, memuji anak dengan predikat bintang empat saat anak mampu menjawab pertanyaan guru dengan benar serta mendiamkan anak karena hal tersebut sudah sering terjadi.

Mengahadapi perilaku tantrum harus dilandasi dengan penuh kesabaran, jangan terburu-buru menegur dengan nada suara yang keras. Hal ini akan menyebabkan anak menjadi semakin mengamuk dengan luapan emosi yang semakin dahsyat. Tetap tenang dalam menghadapi anak yang sedang berperilaku tantrum, dengan memberikan sentuhan yang lembut dan memuji anak agar perilaku tantrum dapat tekendali.

 

     METODOLOGI PENELITIAN

Metode yang digunakan adalah pengamatan atau observasi yang bertujuan untuk mengetahui prilaku emosi pada anak.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Ciri-ciri anak tantrum yaitu mudah marah (memaki, teriak, menangis, dan memukul), suka mengamuk seperti memecahkan barang dengan sengaja, menghentak-hentakkan kaki, berteriak teriak, meninju, membanting pintu dan merengek, suka menyakiti diri sendiri disertai dengan menjatuhkan badan ke lantai, mcmukul-mukulkan tangan, menahan napas, membentur benturkan kepala dan melempar-lempar barang.
  2. Prilaku tantrum akan muncul pada anak dikarenakan terhalangnya keinginan anak untuk mendapatkan sesuatu sehingga anak tersebut berusaha memenuhi atau mendapatkan hal yang dia inginkan dengan cara menyakiti diri sendiri atau bahkan teman-temanya. Pola asuh orang tua juga mempunyai andil yang sangat besar dalam munculnya tantrum pada anak, karena dengan pola asuh yang salah maka akan menjadi suatu kebiasaan yang salah dan sulit untuk dirabah.
  3. Upaya yang dapat dilakukan guru dalam menangani anak tantrum yaitu menghindari penyebab tantrum dan mengalihkan perhatian anak, tetap tenang dalam menghadapi anak yang sedang mengekspresikan tantrum, memberi sentuhan yang lembut dengan pelukan kuat dan berbicara dengan tenang, memberi instruksi yang sederhana dan jelas untuk meredakan tantrumnya, memuji dan memberi hadiah bila anak berprilaku baik, menyediakan aktivitas yang menyenangkan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Albertin, Melati Widyaninta. 2017. Pemahaman Ibu Mengenai Temper Tantrum                                                                   Anak. Skripsi tidak diterbitkan. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

 

Ali, Nugraha. 2008. Metode Pengembangan Sosial Emosional. Jakarta:                                                               Universitas Terbuka.

 

Chaplin. 2009. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: Rajawali Pers.

 

Djalii. 2012. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.

 

Esti, Lusiana. 2015. Perbedaan Risiko Temper Tantrum Anak Usia                                                       Prasekolahantara Ibu Bekerja dan tidak Bekerjadi di Roudlotul Atfalman 2 Kelurahan Gebang                Kecamatan Patrangkabupaten Jember. Skripsi tidak diterbitkan. Jember: Universitas Jember.

 

Hasan, M. 2011. Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta: DIVA Press.

 

Hurlock, E.B. 2009. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga

 

Mutiara, Wulansari. 2015. Perilaku Tantrum Anak Usia 5-6 Tahun di TK                                                                     Marditama Timbulharjo Sewon Bantul. Skripsi tidak diterbitkan. Yogyakarta: Universitas Negeri                Yogyakarta.

 

Puspita Seni dan Dina Fariza. SULUH Jurnal Bimbingan Konseling. Perilaku                                                                      Tantrum Pada Anak Tk Rahmat Al-Falah Kelompok B Palangka Raya, (Online), 3(1): (6-11), (http://jurnal.umpalangkaraya.ac.id/ejurnal/suluh, diakses 5 Juli 2018).

 

Santy, Irtanti. 2014. Pola asuh orang tua mempengaruhi Temper Tantrum pada                                                                        Anak usia 2-4 tahun. Jurnal Ilmiah Kesehatan, (Online), 7 (12): 73-81 (http://journal.unusa.ac.id/index.php/jhs/article/view/53/48, diakses pada 7 Juli 2018).

spot_img
spot_img

Latest

spot_img