Menguri-uri Budaya Bangsa, Korem 071/Wijayakusuma Dukung Festival Dalang Anak dan Remaja Se-Eks Karesidenan Banyumas

Purwokerto, investigasi.news – Menguri-uri budaya bangsa sebagai wahana pelestarian seni budaya bangsa Indonesia, Korem 071/Wijayakusuma sebagai satuan komando kewilayahan dibidang pembinaan wilayah turut mendukung digelarnya festival dalang anak dan remaja se-eks Karesidenan Banyumas Tahun 2022 yang diselenggarakan Korem 071/Wijayakusuma berkolaborasi dengan Pepadi ( Persatuan Pedalangan Indonesia ) Korwil eks karesidenan Banyumas.

Festival dalang anak dan remaja yang diselenggarakan ini bentuk apresiasi Korem 071/Wijayakusuma dengan kalangan pekerja seni pemerhati pedalangan di wilayah Banyumas dalam rangka untuk me-regenerasi generasi muda bangsa dalam melestarikan budaya adiluhung bangsa khususnya kesenian wayang. Disamping itu, festival dalang anak dan remaja ini juga dalam rangka menyemarakkan hari jadi ke-61 Korem 071/Wijayakusuma.

Danrem 071/Wijayakusuma Kolonel Inf Yudha Airlangga, S.E., dalam sambutannya mengatakan melestarikan budaya Indonesia bagi generasi muda bangsa sangat penting, karena budaya tersebut digali menjadi satu nilai-nilai Pancasila dimana Pancasila menjadi dasar negara kita, Idiologi kita, dan salah satu tugas TNI-Polri yang hadir ditengah masyarakat sebagai wahana membina ketahanan Idiologi Pancasila dan harus terus tumbuh dalam kehidupan masyarakatnya.

Seperti yang terjadi saat ini di wilayah Timur Tengah yaitu terjadinya perpecahan, sehingga “Salah satu yang dapat mengikat agar tidak terjadi perpecahan, adalah budaya bangsa. Banyak ragamnya, ada bahasa, adat istiadat dan nilai-nilai yang harus kita lestarikan dalam budaya bangsanya”, paparnya.

Diterangkan Danrem, dengan kegiatan ini, walaupun sepintas kita lihat dilaksanakan secara sederhana, namun arti dan makna dari kegiatan ini yang dapat dilihat oleh seluruh warga bangsa ini akan sangat berarti. Karena nanti, kegiatan ini akan ditayangkan dan disiarkan melalui media sosial, media online maupun media elektronik”, terangnya.

Menurut orang nomor satu di Wijayakusuma ini, bahwa yang membuat segan bangsa lain terhadap bangsa Indonesia adalah kemanunggalan TNI, Polri dan masyarakatnya. “Kemanunggalan TNI, Polri dan masyarakat merupakan senjata ampuh untuk mempertahankan NKRI. Walaupun negara lain mempunyai peralatan tempur yang serba canggih dan tentara yang hebat, namun bila tidak didukung oleh masyarakatnya maka tidak akan berarti, sama halnya dengan kita, bila masyarakat atau rakyatnya tidak mendukung terhadap TNI dan Polri, maka kita tidak bisa menegakkan kedaulatan dan keutuhan NKRI, dan negara ini akan bubar”, jelasnya.

Karenanya, dengan diselenggarakannya kegiatan festival dalang anak dan remaja ini, untuk melestarikan budaya bangsa dilingkungan generasi muda. Disamping itu, kegiatan ini juga untuk meramaikan HUT Korem 071/Wijayakusuma yang ke-61 yang jatuh pada 1 September beberapa hari lalu.

Dikatakan pula, penyelenggaraan kegiatan tersebut didukung oleh elemen masyarakat baik dari Pemerintah Daerah maupun Polri agar kegiatan ini dapat berjalan dengan baik.

Mantan Dansat-81/Gultor Kopassus ini mengatakan kegiatan yang diikuti dalang-dalang kecil ini untuk mencari bibit-bibit dalang muda untuk melanjutkan melestarikan budaya adiluhung bangsa dari generasi sebelumnya agar budaya bangsa yang salah satunya pewayangan ini dapat terus tumbuh kembangkan ditengah gempuran budaya luar.

Sementara itu, Korwil Pepadi eks Karesidenan Banyumas Bambang Barata Aji mengatakan, kegiatan yang diselenggarakan ini mengacu akan diselenggarakannya kegiatan yang sama di tingkat Jawa Tengah pada tanggal 10 s.d 11 September 2022 dan tingkat nasional pada tanggal 22 s.d 24 September 2022 mendatang. “Menindaklanjuti hal itu, dengan komunikasi dan dukungan yang baik kami dengan Danrem 071/Wijayakusuma serta dengan Pemerintah Daerah Banyumas dan steakholder lainnya, kegiatan ini dapat dilaksanakan saat ini. “Formatnya dalam penyelenggaraan ini, lomba namun kalau lomba kriterianya terlalu banyak. Mengingat banyak kriteria dalam lomba dan waktu yang singkat, kami selenggarakan saja acara pementasan yang penting guyub dan gayeng. Terima kasih Danrem 071/Wijayakusuma, Wakil Bupati Banyumas, Kapolresta Banyumas dan elemen lainnya atas dukungan yang diberikan pada kami”, ungkapnya.

Dikatakan Bambang, seni mempunyai daya menghidupi, tidak ada yang kebetulan didunia ini. Begitupula dengan dilaksanakan kegiatan ini, Korem 071/Wijayakusuma yang baru memperingati hari jadinya yang ke-61 ini, sangat mendukung kegiatan ini. “Wijayakusuma itu pusakanya Prabu Kresna, dan Wijayakusuma itu mempunyai daya untuk menghidupi. Hal ini berarti, Korem 071/Wijayakusuma mempunyai daya menghidupi masyarakat Banyumas dan seluruh wilayah jajaran Korem 071/Wijayakusuma, dan untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI”, ungkapnya.

Wakil Bupati Banyumas, Drs.H.Sadewo Tri Lastyono mengatakan, penyelenggaraan kegiatan ini mendapat dukungan Danrem 071/Wijayakusuma dan harus ada setiap tahunnya. Sebagai wahana, untuk menguri-uri melestarikan budaya adiluhung bangsa.

Dikatakan, wayang adalah wayang kulit dan wayang lainnya merupakan tinggalan budaya luhur budaya adiluhung bangsa Indonesia. “Wayang digunakan saat wali songo menyebarkan agama Islam dibumi Nusantara sekitar 30 an tahun. Bisa diterima masyarakat, hal ini karena Walisongo berkolaborasi dengan budaya asli Nusantara. Bandingkan dengan Belanda yang menjajah selama 350 tahun, tetapi budaya yang dibawa Walisongo merupakan budaya yang di kolaborasikan dengan penyebaran agama Islam oleh Walisongo. Sehingga agama Islam dapat berkembang dan menjadi agama mayoritas dibumi Nusantara atau NKRI sekarang. Tapi tetap dasar negara kita Pancasila dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa”, jelasnya.

Dikatakan, selama orang bertuhan itu berarti boleh hidup di Indonesia. Bertuhan dalam artian yang positif, agama apapun boleh namun tidak boleh menghujat agama lain dan bahkan ada hujatan-hujatan sesama muslim.

Wakil Bupati menghimbau agar hal seperti itu tidak terjadi di NKRI, seperti halnya dengan wayang yang ditengarai oleh banyak orang dibid’ah-bid’ahkan. Wakil Bupati tidak setuju akan hal itu, hal ini karena wayang kulit adalah budaya warisan adiluhung bangsa sebagai penanaman nilai-nilai kehidupan masyarakat bangsa Indonesia.

“Kita tidak anti budaya asing, akan tetapi kita harus mengutamakan budaya kita sendiri budaya NKRI”, tegasnya.

Sadewo berharap, festival dalang anak dan generasi muda ini dapat dilaksanakan setiap tahunnya sebagai tameng agar budaya bangsa wayang kulit ini tidak diambil bangsa lain serta untuk menangkal keterpengaruhan generasi muda akan budaya luar. “Semoga dengan adanya kegiatan ini dapat menuntun warisan dari wayang khususnya menuju kelestarian dan terwariskan baik kepada anak cucu kita. Saya berharap, festival wayang ini dapat memperdalam kecintaan kita terhadap budaya asli daerah kita”, harapnya.

Menurut Sadewo, begitu luhur makna yang terkandung dalam wayang dan sangat disayangkan apabila makna ini hilang begitu saja tergerus kemajuan jaman. Hal ini, karena orang lain banyak yang mengambil dari budaya kita.Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau 17 ribu lebih, dengan berbagai ragam suku bangsa, agama, adat istiadat dapat dipersatukan dalam satu bingkai NKRI dengan Bhinneka Tunggal Ikanya dan dasar negara Pancasila. Tidak seperti yang terjadi saat ini diwilayah Timur Tengah, walaupun kental dengan agama, namun bila tidak diimbangi dengan adanya budaya bangsa dapat menimbulkan perpecahan dalam satu bangsa. Budaya suatu bangsa, disamping agama dan kultur ataupun etnis, sangat diperlukan guna memperkokoh kedaulatan negara”, paparnya.

Festival dalang se-eks Karesidenan Banyumas, diikuti para dalang-dakang muda dari berbagai wilayah di eks Karesidenan Banyumas dan bahkan dari luar wilayah eks Karesidenan Banyumas.