ESSAY  

Lelah Itu Terbayar Dengan Senyuman Santri

Lelah memang, sebagai ASN tak hanya rutinitas wajib masuk dan pulang yang harus dipenuhi. Namun disisi lain ada hal yang patut juga untuk diperhatikan. Seperti biasanya, setiap pulang dari kantor kalau tidak terlalu malam saya berusaha untuk mampir dulu ke pondok Pesantren. Karena pada dasarnya pondok memang terletak 1 kilo sebelum sampai ke rumah.

Sore ini saya datang bawa sala ikan untuk mereka, ketika mobil yang saya lajukan akan masuk ke pekarangan pondok mereka (para santri) berlarian menghampiri dengan senyuman yang menjadi ciri kas masing-masingnya.

Mereka berebut ingin salaman, dan mereka bergantian menanyakan “ayah sehat, gimana ayah sehat dan ayah ada sehat, kata- kata mereka itulah membuat kelelahan seharian dengan banyaknya rutinitas seketika hilang begitu saja.

Setelah mereka semuanya salaman saya keluarkan satu kantong yang berisi sala ikan, semuanya merapat ke mobil dan kantong itu saya berikan ke salah satu santri yang akan mereka makan di waktu berbuka nanti.

Pondok Pesantren Darul Inqilabi Lubuk Basung. (foto:Daji)

Selesai memberikan kantong tersebut saya pamit untuk pulang karena jam sudah menunjukan 17,23 wib sudah hampir dekat waktu berbuka puasa, kalau mereka semua sudah mandi dan sudah bersih untuk menunggu waktu berbuka puasa. Namu lain halnya dengan saya yang masih memakai baju dari kantor dan harus pulang untuk bersih-bersih.

Lelah itu pasti, namun seiring berjalannya waktu, kenyamanan kehidupan dengan anak-anak pondok menjadi seperti penawar. Penawar itu ialah senyuman seorang santri bisa menaklukan kelelahan bekerja sehari penuh, itu baru senyuman mereka, belum lagi doa mereka untuk kita. Sungguh akan menjadi kerinduan di suatu saat nanti.

Penulis: Hasneril, SE