OPINI  

Hari Buku dan Asa Memajukan Tradisi Literasi

Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Moderasi dan Toleransi Beragama” dan Penggiat Komunitas Cereng Menulis

OPINI – BUKU adalah jendela dunia, membacanya berarti membuka peluang bagi pembaca untuk mendapatkan berbagai ilmu pengetahuan dan wawasan, baik yang pernah maupun yang baru diperolehnya. Membaca buku merupakan salah satu bagian tak terpisahkan dari tradisi literasi. Tradisi literasi sendiri mencakup baca, tulis, hitung, analisa, publikasi dan kemampuan untuk menemukan solusi berbagai masalah dengan potensi atau keterampilan yang dimiliki. Literasi juga mencakup aspek pendidikan, ekonomi, budaya, kebangsaan, teknologi, media dan masih banyak lagi.

Dalam konteks Indonesia, membaca seperti juga menulis, merupakan dua tradisi yang sangat urgen atau penting. Sebab dari situlah kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia ditopang kualitas pengetahuan dan wawasannya. Secara global, hari ini Sabtu 23 April 2022 diperingati sebagai Hari Buku Sedunia (HBS). HBS juga dikenal dengan Hari Buku (HB) dan Hak Cipta Sedunia (HCS) dan Hari Buku Internasional (HBI). Ia merupakan hari perayaan tahunan yang jatuh pada tanggal 23 April yang diadakan oleh UNESCO untuk mempromosikan peran membaca, penerbitan, dan hak cipta.

Mengenai tradisi baca di Indonesia, ada beberapa fakta yang cukup meresahkan dan perlu penanggulangan yang melibatkan semua elemen. Hal paling tidak seperti yang dipublikasi oleh website resmi Kementrian Informasi dan Komunikasi (kominfo.go.id), prtama, UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca.

Riset berbeda bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 silam, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.

Kedua, 60 juta penduduk Indonesia memiliki gadget, atau urutan kelima dunia terbanyak kepemilikan gadget. Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 silam jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Dengan jumlah sebesar itu, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika Serikat. Bila pada 2018 saja demikian, tentu pada 2022 ini sudah semakin meningkat jumlahnya.

Ironisnya, meski minat baca buku rendah tapi data wearesocial per Januari 2017 silam mengungkap orang Indonesia bisa menatap layar gadget kurang lebih 9 jam sehari. Tidak heran dalam hal kecerewetan di media sosial orang Indonesia berada di urutan ke 5 dunia. Jakarta bahkan dikategori sebagai kota yang warganya paling cerewet di dunia maya karena sepanjang hari, aktivitas kicauan dari akun Twitter yang berdomisili di ibu kota Indonesia ini paling padat melebihi Tokyo dan New York. Laporan ini berdasarkan hasil riset Semiocast, sebuah lembaga independen di Paris.

Salah satu yang menakjubkan, warga Jakarta tercatat paling cerewet menuangkan segala bentuk unek-unek di Twitter lebih dari 10 juta tweet setiap hari. Di posisi kedua peringkat dunia kota teraktif di Twitter ialah Tokyo. Menyusul di bawah Negeri Sakura ada warna Twitter di London, New York dan Sao Paulo yang juga gemar membagi cerita. Bandung juga masuk ke jajaran kota teraktif di Twitter di posisi enam. Dengan demikian, Indonesia memiliki rekor dua kota yang masuk dalam daftar riset tersebut.

Coba saja bayangkan, ilmu minimalis, malas baca buku, dan enggan menulis, tapi sangat suka menatap layar gadget berjam-jam, ditambah lagi dengan label lain sebagai warga paling cerewet di media sosial. Karena itu pula, jangan kaget bila negeri kita ini jadi sasaran empuk untuk info provokasi, hoax, dan fitnah. Kecepatan jari untuk langsung like dan share konten semacam itu bahkan melebihi kecepatan otaknya. Padahal informasinya belum tentu benar, bahkan cenderung provokatif dan memecah belah bangsa.

Sebagai masyarakat global yang akrab dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi kita tentu tidak bisa membatasi siapapun untuk berselancar di berbagai media terutama di akun media sosial masing-masing. Hal yang perlu kita lakukan adalah mengisi media sosial dengan konten yang bermutu, inspiratif dan bermanfaat. Dalam batasan tertentu hal ini paling tidak bisa menyeimbangi hoax dan hal-hal negatif lainnya yang kerap hadir di dunia maya terutama media sosial.

Sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakat global, sebetulnya kita masih memiliki peluang untuk membenahi sekaligus memajukan tradisi literasi kita. Saya berpendapat bahwa tradisi literasi akan mengalami pembenahan dan kemajuan berarti sangat ditentukan oleh empat elemen penting yaitu, pertama, pendidikan keluarga dan keteladanan orangtua. Kedua, tradisi lembaga pendidikan seperti sekolah dan perguruan tinggi. Ketiga, keteladanan dan kebijakan pemimpin. Keempat, produktifitas para penulis dalam berkarya.

Pertama, pendidikan keluarga dan tradisi orangtua. Pendidikan keluarga merupakan lembaga pendidikan paling tua dalam sejarah umat manusia. Dari sisi waktu, pertemuan anggota keluarga di lembaga ini cukup panjang. Bila kesempatan ini dimanfaatkan untuk membaca, misalnya, maka ia sangat berdampak pada terjaganya terjaganya tradisi literasi terutama baca. Pendidikan keluarga adalah pendidikan pertama dan utama bagi anak. Tradisi baca orangtua akan menjadi contoh bagi anak untuk memajukan tradisi baca di keluarga.

Kedua, tradisi lembaga pendidikan seperti sekolah dan perguruan tinggi. Selain di lingkungan keluarga, tradisi baca juga mestinya menjadi tradisi para pelajar di berbagai lembaga pendidikan dasar dan lanjutan. Begitu juga di perguruan tinggi, tradisi baca mesti menjadi tradisi utama mahasiswa dan para dosen. Pada saat yang sama, para siswa, guru dan dosen dibiasakan untuk membangun tradisi menulis. Bukan sekadar mencatat pelajaran, penelitian kelas dan standar pembelajaran tapi juga menulis artikel dan buku.

Ketiga, keteladanan dan kebijakan pemimpin. Para pemimpin di berbagai lembaga dan level pemerintahan juga mesti giat membaca. Mereka jangan sekadar mengandalkan informasi media massa lalu melupakan buku sebagai gudang informasi perihal teori dan segala macamnya tentang hal-hal yang berkaitan dengan kebijakan dan urusan publik. Pada saat yang sama, kebijakan publik di berbagai level pemerintahan juga mesti mengarah pada upaya penguatan tradisi literasi. Termasuk dengan mengapresiasi para aparatur sipil negara (ASN) yang aktif menulis artikel dan buku, serta menopang tradisi membaca di instansinya.

Keempat, produktifitas para penulis dalam berkarya. Pembenahan tradisi baca sekaligus tulis tentu mesti berawal dari penulis. Sebab merekalah penentu hadirnya karya tulis yang bermutu dan berkualitas. Penulis perlu lebih giat lagi dalam berkarya, sehingga karya tulisnya semakin banyak dan menarik bagi siapapun untuk membacanya. Penulis yang baik tentu bukan sekadar aktif menulis tapi juga aktif membaca. Menguatnya tradisi baca pada para penulis akan mendorong mereka untuk semakin giat menulis, baik dalam bentuk artikel, puisi dan cerita pendek atau cerpen maupun dalam bentuk buku.