Literasi, Jalan Sunyi yang Mencerahkan Peradaban

TRADISI literasi adalah salah satu tradisi yang penting dalam mencapai salah satu tujuan bernegara yaitu “… mencerdaskan kehidupan bangsa…” seperti yang ditegaskan dalam pembukaan konstitusi negara kita, Undang-Undang Dasar 1945. Literasi bukan saja baca dan tulis, tapi juga hitung, analisa, bahkan publikasi serta kemampuan untuk menghadirkan solusi atas berbagai masalah yang ada atau muncul di tengah masyarakat.

Berkaitan dengan hal itu, hari ini Sabtu 16 April 2022, saya mendapatkan kesempatan untuk menghadiri acara “Sarasehan Literasi” yang diadakan oleh “Bale Literasi”, Lombok-NTB dan bertema “Dinamika Literasi di Wilayah Indonesia Timur”. Pada sambutannya Mohamad Saipul Watoni selaku Founder “Bale Literasi” menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi ruang temu yang positif dan inspiratif. “Kegiatan ini sangat diharapkan memberi wawasan yang lebih luas dan bermanfaat bagi peserta sekaligus upaya pengembangan literasi di kawasan timur Indonesia,” ungkapanya.

Ada beberapa penggiat dan penggerak yang didaulat menjadi narasumber pada acara yang diselenggarakan melalui zoom meeting ini, yaitu (1) Muh. Jaelani Alpansori, M.Pd. (Akademisi, Penggiat Literasi) (2) Maksimus Masan Kian (Penulis dan Ketua PGRI Kab. Flores Timur-NTT), (3) Ishlahudin, M.Pd. (Ketua MGMP Lombok Timur-NTB), dan (4) Dr. Khaerus Syahidi (Akademisi).

Pada kesempatan ini Pak Alpan menyampaikan materi “Publikasi dan Fleksibilitas Literasi”. Menurutnya, literasi terkait dengan banyak hal, mislanya, literasi sejarah, ekonomi, pendidikan tulis-menulis dan sebagainya. Walau demikian, secara umum literasi bertujuan untuk mencerdaskan dan mencerahkan masyarakat luas, termasuk para penggiatnya sendiri. “Literasi bertujuan untuk mencerdaskan masyarakat agar tidak terjebak pada informasi atau konten hoax. Membaca adalah bagian dari praktik literasi. Bisa dalam bentuk buku, koran, media online dan lain sebagainya. Menulis juga merupakan bagian dari literasi”, jelasnya.

Menurutnya, literasi berkaitan juga dengan publikasi ilmiah. Ada banyak ragam publikasi ilmiah diantaranya artikel populer yang dipublikasi di koran, media online, dan majalah. Lalu, artikel ilmiah biasanya dipublikasi di jurnal ilmiah yang ber-ISSN, terakreditasi, dan scopus. Hal lain, ada juga dalam bentuk buku yang diterbitkan oleh penerbit ber-ISBN dan masuk kategori HAKI. Selanjutnya, ada juga yang berbentuk laporan penelitian yang biasanya disampaikan di forum seminar.

Jurnal ilmiah sendiri ada yang berskala lokal, biasanya belum ber-ISSN. Lalu ada juga yang berskala nasional yang biasanya pasti sudah ber-ISSN. Kemudian, ada yang terakreditasi yang biasanya sudah ber-ISSN atau sinta, dan ada yang berskala internasional seperti scopus dan lain sebagainnya. Pak Alpansori pun berbagi motivasi menulis untuk para peserta yang beragam profesi ini. “Menulis seperti juga aktivitas lain, pada awalnya mesti dipaksa. Mislanya karena kebutuhan karir, tugas sekolah atau akademik, dan lain sebagainya. Tapi kalau sudah biasa menulis, maka biasanya akan terus tertarik untuk menulis hingga menghasilkan karya tulis”, ungkapnya.

Berikutnya, Pak Maksimus menyampaikan materi “Guru Kampung Dalam Giat Literasi di Ujung Timur Pulau Flores NTT”. Kali ini ia mengawali dengan bercerita tentang kondisi sekolah dan tradisi literasi di kampung halamannya di Flores Timur-NTT. Di tempat ini, selain fasilitas sekolah yang masih sederhana atau terbelakang, para siswa pun masih belum akrab dengan buku. Bahkan menurutnya, para guru dan siswa pun pada awalnya tidak paham literasi. “Begitulah kondisi ril kawasan kami di Indonesia timur, tepatnya di Flores-NTT”, ungkapnya.

Menurutnya, pengalaman selama ini menjelaskan suatu catatan penting dan inspiratif bahwa komunitas dan mengunakan media sosial seperti facebook secara positif bisa menjadi jembatan dalam menguatkan kegiatan positif termasuk membangun tradisi literasi di kawasan yang tertinggal dalam banyak aspek. “Kami mengenalkan buku dan menyampiakan bahwa ini ada buku yang bisa dibaca selain buku pelajaran. Inilah salah satu gerakan literasi yang paling sederhana dan praktis”, lanjutnya.

Menurutnya, kemajuan literasi sangat ditentukan oleh kemampuan kita dalam membangun gerakan literasi di daerah yang jauh dari fasilitas memadai. Ia pun bercerita bahwa setelah mengenalkan buku, ia bersama para penggerak literasi lainnya juga mengenalkan dunia tulis menulis pada anak-anak sekolah di tempatnya berdomisili. Di sini mereka membantu anak-anak juga masyarakat sekitar dalam hal membaca buku dan menulis secara produktif. “Kami menyemangati mereka untuk giat membaca dan menulis. Ruang belajarnya bukan saja di sekolah, tapi juga di alam termasuk di pantai. Mereka juga belajar di kebun, sehingga mereka menulis tentang alam atau semesta”, tegasnya.

Kini, aktivitas mengajak para guru di pelosok untuk mnulis dan punya karya tulis yang terpublikasi sudah menjadi agenda rutin. Para siswa di sekolah juga diajak untuk menekuni hal yang sama. Awalnya mereka menulis di mading sekolah, lalu menulis di majalah dan berikutnya ada juga menulis buku. “Kami mengenalkan pada mereka tradisi menulis, aktif membaca hingga menulis artikel juga buku. Diantara mereka ada yang diundang di berbagai forum sebagai apresiasi dari lembaga atau institusi terkait, baik tingkat daerah maupun tingkat nasional”, ungkapnya.

Berikutnya, Pak Ishlahudin menyampaikan materi “Fenomena Literasi di Lombok Timur Pada Dua Bencana”. Kali ini ia bercerita tentang perkembangan literasi sekolah di Lombok Timur. Menurutnya, gerakan literasi sekolah (GLS) di daerah ini masih dalam tahapan merangkak. Hal ini disebabkan oleh respon para pihak trekait yang kagetan dengan program ini. Namun belakangan, GLS sudah membaik dan mendapat respon yang semakin baik. Hal ini ditandai dengan berbagai kegiatan literasi di berbagai sekolah yang sudah mulai menggeliat.

“Pada awalnya butuh adaptasi dengan pembiasaan di sekolah. Namun karena adanya konsolidasi dan pengarahan, belakangan sudah ada perbaikan dan kemajuan. Pada masa awal pandemi memang nyaris tak ada kegiatan, namun belakangan sudah mulai menggeliat lagi. Bahkan literasi bukan saja pada tradisi baca-tulis, tapi sudah berkembang pada seni, budaya, bahasa dan senagainya,” ungkapnya.

Pak Khaerus Syahidi didaulat menjadi narasumber terakhir yang menyampaikan materi “Literasi Sains Di Sekolah”. Menurutnya, literasi sains adalah tindakan untuk memahami sains dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai penggiat literasi sains maka seseorang mesti memahami tiga dimensi literasi sains yaitu konten, proses dan aplikasinya, sehingga benar-benar memahaminya dari aspek teori hingga dampaknya.

Menurutnya, pembelajaran yang berbasis pada literasi sains akan memberi dampak ganda, bukan saja menguatkan pengetahuan tapi juga paham bagaimana cara mengaplikasikannya pada kehidupan yang lebih ril. Sehingga pendekatannya bukan saja pada aspek pengetahuan dan sikap tapi juga penekanan pada proses dan manfaatnya. “Literasi memang bermakna luas, selain pada aspek baca dan tulis juga pada aplikasi keilmuan tertentu yang berdampak baik bagi lingkungan sekitar”, ungkapnya.

Pada sesi tanya-jawab, beberapa peserta dari berbagai kota di seluruh Indonesia menyampaikan komentar, saran, apresiasi dan pertanyaan. Diantara poin pentingnya adalah bahwa kondisi literasi di Bali, NTB dan NTT masih jauh dari ideal. Selain sarana dan prasarana serta fasilitas seperti buku yang masih minim, sumber daya manusia (SDM) yang benar-benar berjuang pada dunia literasi masih sedikit dan terbatas. Di samping, apresiasi dan keterlibatan berbagai elemen pada upaya pengembangan sekaligus memajukan literasi masih tergolong rendah.

Kondisi semacam itu semakin meresahkan karena dunia literasi, terutama dunia menulis, masih dirasa dan dianggap jauh dari perolehan materi dan karir tertentu. Mereka yang terjun di dunia literasi adalah mereka yang benar-benar ingin berjuang untuk mencerdaskan dan mencerahkan anak bangsa, termasuk masyarakat sekitar lingkungan mereka yang benar-benar perlu pencerdasan dan pencerahan. Untuk itu, kita sangat berharap agar pemerintah baik daerah maupun pusat, perlu memberi perhatian prioritas dan khusus pada mereka yang memilih jalan literasi di daerah yang jauh dari fasilitas yang memadai.

Sebagai orang kampung asli Cereng, Desa Golo Sengang, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat-NTT yang kini masih berdomisili dan berkarir di Cirebon-Jawa Barat, saya merasakan bagaimana kondisi kawasan timur Indonesia, terutama NTT, yang benar-benar masih jauh dari kemajuan. Oleh karena itu, untuk pengembangan dan memajukan literasi perlu keterlibatan semua elemen, sehingga ia menjadi gerakan kolekif atau semesta. Tradisi literasi merupakan salah satu kunci penting pembangunan. Bila saat ini tradisi ini terus digiatkan maka dampaknya akan dirasakan pada belasan bahkan puluhan tahun yang akan datang.

Hal lain, para penggerak literasi mesti menjadi teladan. Para guru dan penulis, misalnya, mesti menjadi teladan terbaik dalam membangun dan mengembangkan tradisi literasi. Mereka mesti gila baca dan gila tulis, kapan dan di mana pun. Tak ada hari tanpa membaca dan menulis. Bila perlu, para penggerak mesti punya fokus dan terget yang tertulis, misalnya, setiap pekan mesti membaca minimal satu buku, setiap bulan mesti menerbitkan satu buku, dan begitu seterunya. Secara khusus, untuk menulis buku bisa dilakukan secara bersama-sama dalam bentuk antologi tulisan atau artikel.

Literasi adalah tradisi yang menantang namun sangat mungkin ditekuni oleh siapapun. Menantang, sebab di sini tak ada materi atau uang. Memproduk konten dan nilai-nilai kebaikan yang terpublikasi dan terinternalisasi pada banyak orang adalah fokus literasi. Substansinya adalah penyadaran kolektif tentang pentingnya belajar bersama untuk memanfaatkan seluruh potensi yang dimiliki dalam melahirkan manfaat pada lingkungan dan masyarakat luas, bahkan bagi bangsa dan negara. Literasi pun sejatinya bisa ditekuni oleh siapapun, lintas latar belakang dan profesi. Hal ini telah dilakoni oleh para ilmuan dan penulis lintas zaman. Mereka telah meninggal namun pemikiran dan karya mereka masih hidup dan menggerakkan manusia lintas zaman. Ya, walau literasi benar-benar sunyi dari materi atau uang, namun ia mampu mencerdaskan dan mencerahkan manusia lintas peradaban dan zaman!

Oleh: Syamsudin Kadir
Penggiat Komunitas Cereng Menulis