SASTRA  

Hikmah Menolong Penjual Semangka

Kisah sederhana yang akan disajikan pada tulisan dibawah ini, akan menjadikan sedikit inspirasi untuk tingkah dan perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi singkat cerita, hampir tiap libur sekolah atau libur akhir pekan atau hari pasar, berjualan semangka dengan teman-teman yang lebih tua dan yang sebaya saat sama-sama masih duduk disekolah Dasar kala itu.

Pekerjaan itu dilakukan apabila hari panas, kalau hari hujan tidak akan laku. Yang membuat hati ini sering sedih jadi pedagang semangka, kadang sempat nangis di los pasar yang sepi, karena baru saja semangka nya dibelah hujan datang, itu sangat pedih.

Semangka diambil dari agen, tidak semua agen itu semangkanya berkualitas, kadang ada yang kurang bagus, selain kualitas kadang harga juga bervariasi.

Salah satu agen semangka, yang dagangannya kurang bagus. Dan teman-teman banyak lari dari beliau, karena beliau ibuk-ibuk dan juga jualan sendirian. jadi teman-teman ada setelah ambil barang kadang dibelah dan dijual, setelah itu dengan banyak alasan tidak kembali ke situ lagi untuk stor. Semangka beliau memang agak kurang bagus dari semangka agen yang lain.

Saya kadang ambil semangka dari beliau karena saya kasihan. Melihat tidak ada pengencer yang mau ambil ke beliau, hanya yang mau beli untuk dimakan saja yang membeli. Jadi setiap sore itu barang beliau banyak tersisa, bisa dibayangkan berapa tergopo-goponya beliau mengangkat semangka ke mobil menuju kampung halaman beliau di daerah Tanjung Mutiara Kabupaten Agam.

Beliau tidak percaya sama semua pengencer semangka karena sudah sering dibohongi, padahal tidak semua pengencer itu yang pembohong masih ada beberapa orang yang jujur penjual semangka itu. Saya takut juga minta barang ke beliau takut tidak diberi dan hati akan sedih.

Suatu sore beliau sedang berkemas untuk pulang saya hampiri beliau, kami sudah saling kenal dan saya ada jual semangka beliau tapi saya bayar diawal, karena beliau tidak mau hutang sama pengencer walaupun ke saya belum pernah beliau katakan tapi saya takut untuk mencoba berhutang, semua pengencer sering merendahkan beliau bahkan kalau hujan datang tidak ada yang mau menolong.

Saya datang membantu beliau setiap mau tutup, kelihatannya beliau memang butuh untuk dibantu, hampir tiap hari pasar kalau mau pulang beliau saya bantu, akhirnya beliau bilang suatu hari” Ril ambilah semangka ke saya katanya, harga akan saya murahkan, dan kalau hujan setelah semangka dibelah buat ril bayar minggu depannya, saya jawab Insyaallah.

Hikmah menolong beliau,
Kalau kami pengencer semangka itu jualan pertama kalau habis dan beruntung langsung makan dulu di warung ibuk Linan dan bisa dibayar langsung dan bisa juga dibayar sore. Tapi saya selalu setiap sore, karena keuntungan pertama saya akan belikan Ikan dan kebutuhan lain untuk dimasak nenek di rumah, bos semangka itu juga makan ditempat Ibuk Linan.

Waktu itu saya baru duduk di kelas VI Sekolah Dasar, kategori masih kecil jadi pedagang tapi ini faktor ekonomi dan kemauan.

Semenjak saya sering bantu beliau, hampir tiap hari saya makan tempat Ibuk Linan beliau sudah bilang ke ibuk Linan bahwa setiap saya makan beliau yang bayar,makan waktu itu 300.00 kalau nambah 350.00, dan tempat makan itu yang murah dan enak makanya semua pedagang makan disitu, kadang beliau juga sering belikan saya beras dan ikan asin dibawakan dari Tiku.

Hampir semua teman sama pengencer bilang saya ini sanaknya bos semangka itu dan saya sering beli semangka beliau untuk dijual walaupun kwalitasnya kurang sedikit tapi saya merasa kasihan karena beliau banyak menolong saya.

Kira-kira, hampir satu bulan lebih semangka langka karena banyak yang sakit, semua pengencer pusing tidak bisa berjualan, yang ada hanya bos semangka yang sayang sama saya tadi, karena beliau punya kebun sendiri. Pengencer takut dan malu minta barang sama beliau, karena diantara mereka ada yang berlaku tidak sopan selama ini pada bos tersebut, ada yang sering mengeluarkan kata-kata tidak sopan, sering merendahkan beliau, tapi dasar pengencer yang tidak tahu diri dan tidak tahu terima kasih.

Akhirnya tiba saatnya Allah mengangkat derajat bos semangka yang rendah hati itu dengan tidak mengeluarkan semangka orang lain sedangkan semangka si bos itu tetap ada.

Kesimpulan kisah nyata ini, janganlah kita merendahkan orang lain karena ada saatnya kita butuh pertolongan orang tersebut. Mari kita perbaiki diri jangan sampai amalan-amalan kita hangus karena kita sering meremehkan orang lain dan merendahkan orang lain. Kita gunakan amanah nikmat kesehatan ini untuk memperbanyak kran-kran amal kita.