SASTRA  

Karena Jadi Pedagang Es Batu Di Bulan Ramadhan Nama Jadi Terkenal

Setiap memasuki bulan Ramadhan saya jadi pedagang Es batu. Diusia yang masih kecil dan terbilang waktunya menikmati masa kanak-kanak, dan masih duduk di Sekolah Dasar saya sudah dikenal oleh orang banyak dikampung-kampung saat itu. Yang paling banyak tahu nama saya ketika bulan Ramadhan, karena apabila bulan ramadhan datang, yang menjual Es batu ke kampung-kampung hanya saya.

Setiap bulan ramadhan, setiap jam 15.30 wib saya sudah stembay di rumah pengusaha Es dan masih saudara, saya biasa memanggil beliau dengan sebutan mama. Sampai di rumah, mama dan papa sudah sibuk memasukan Es batu ke dalam tabung untuk saya bawa dengan gerobak, saya jualan Es beliau dari kelas V SD sampai kelas VI SD.

Setelah semua Es dimasukan ke dalam tabung, setelah itu langsung dimasukan ke dalam gerobak yang tingginya sama dengan saya, dan untuk memasukan ke gerobak saya tidak sendiri karena berat dan itu ada yang membantu, waktu itu gerobak ada dua, satunya saya yang bawa, dan satunya lagi bayu yang bawa dan masih saudara.

Bulan ramadhan minggu pertama saya jualan hanya berkisar 3 kilometer sudah habis. Waktu itu saya tahu dimana yang harus berteriak supaya orang keluar dan dimana harus berhenti, dan saya juga tahu dimana anak-anak yang banyak.

Rata-rata anak sebaya saya jadi pelanggan, mereka senang kalau melihat gerobak biru itu lewat, gerobak itu bagus warnanya biru laut, pendorongnya yang selalu ramah, sopan dan selalu ingin cari kawan, bahkan kalau ada yang hanya melihat saja tidak membeli, besoknya juga melihat lagi dan tidak membeli juga, dalam pikiran saya, mungkin anak ini ingin Es Batu tapi tidak punya uang, lalu saya beri gratis aja, kalau dia baca tulisan ini pasti dia akan ingat tukang es yang baik itu, mungkin orang yang pernah saya beri itu sudah ada yang sukses.

Beda dengan penilaian orang tua-tua melihat gerobak biru itu lewat, ada yang merasa kasihan karena gerobak dengan pendorongnya sama tinggi, kadang kalau hujan es banyak berlebih, kadang berhenti di warung tidak sempat belanja karena tidak punya uang, karena hari hujan es tak laku tentu uang untuk belanja tidak ada di warung.

Kalau ramadhan tinggal separoh, jualan Es nya sudah mulai agak jauh jarak tempuhnya, kadang bisa sampai 15 kilometer jalan kaki sambil mendorong gerobak karena pembeli sudah mulai berkurang.

Bisa dibayangkan pahitnya pulang malam es banyak tinggal di rumah adik sudah menunggu uang bersama nenek, kadang bon ke mama minimal untuk belanja adik-adik, mereka tahu saya bawa uang pulang laku tidak laku es nya mereka tidak tahu karena waktu itu usia mereka masih kecil-kecil belum mengerti, kadang waktu pulang malam ada orang kasihan dia tanya masih ada es batunya kalau ada dia beli, saya tahu orang itu beli hanya karena kasihan melihat saya yang mendorong gerobak sudah bercampur antara keringat dan air mata.

Sepanjang jalan yang dilalui menjual es banyak yang tahu siapa penjual es batu itu. sekarang kalau ada saya ke daerah yang pernah dilalui dulu kalau ketemu orang yang usianya di atas saya atau sebaya saya akan tanya tahukan dengan penjual es batu 38 tahun yang lalu, dan penjual es itu adalah saya yang dulu sering lewat disini, kalau bulan ramadhan jual es batu kalau diluar ramadhan jual es makanan, jadi hampir tiap orang lihat gerobak biru itu lewat dengan pendorongnya penulis sendiri.

Hikmah yang ingin saya bagi di sini adalah, jangan sekali-kali malu dan putus asa melakukan usaha sekecil apapun. Karena kesuksesan ada Karena kerja keras dan keyakinan yang kuat.