Pidie Jaya, Investigasi.news – Banjir bandang yang melanda Pidie Jaya telah berlalu. Bahkan, saat ini telah memasuki hari ke-70 pascabencana. Masyarakat terlihat mulai bangkit; infrastruktur, sarana umum, serta fasilitas lainnya secara berangsur-angsur menunjukkan perkembangan. Namun, ada satu hal yang luput dari perhatian, yakni kondisi balai pengajian yang turut mengalami kerusakan akibat banjir pada akhir November tahun lalu.
Berdasarkan hasil investigasi yang diperoleh media ini, beberapa balai pengajian hingga kini belum dapat kembali melaksanakan aktivitas belajar mengajar karena kondisi bangunan yang rusak dan masih berlumpur. Di antaranya adalah Balai Pengajian Mabahaq milik Tgk. Herinaldi di Desa Meunasah Bie dan Balai Pengajian Nurul Huda milik Ustazah Nurhayati di desa yang sama.
Sebelum diterjang banjir, kedua balai pengajian tersebut aktif melaksanakan proses belajar mengajar bagi anak-anak di lingkungan sekitar. Namun, pascabencana, bangunan balai pengajian mengalami kerusakan dan tertimbun lumpur.
Tgk. Herinaldi kepada kontributor Investigasi menyampaikan bahwa hingga saat ini pihak yang menunjukkan kepedulian hanyalah satu organisasi kemasyarakatan, yakni Banser. Mereka secara sukarela membersihkan balai pengajian tersebut selama dua hari hingga tuntas. Sementara itu, dari pihak lain, termasuk pemerintah setempat, belum ada bantuan nyata.
“Belum ada satu pun, Pak, kecuali ormas Banser yang menurunkan puluhan relawannya. Sementara dari pemerintah (Badan Dayah) hanya sebatas pendataan saja,” ujarnya.
Menurut Tgk. Herinaldi, saat ini pihaknya sangat membutuhkan mikrofon, sound system (pengeras suara), pompa air, tikar, serta lampu, karena peralatan sebelumnya rusak akibat tertimbun lumpur.
Hal serupa disampaikan Ustazah Nurhayati (Netti), pimpinan Balai Pengajian Nurul Huda. Ia mengatakan bahwa balai pengajian yang dipimpinnya membutuhkan perbaikan lantai dan dinding yang telah rusak.
“Kami membutuhkan perbaikan lantai dan dinding agar anak-anak bisa belajar dengan nyaman. Insyaallah, dalam waktu dekat proses belajar mengajar akan dibuka kembali,” katanya.
Diharapkan kepada pemerintah, selain memprioritaskan dayah-dayah dan pondok pesantren besar, balai pengajian di tingkat desa juga mendapat perhatian yang sama. Sebab, dari balai pengajian desa inilah putra-putri Pidie Jaya pertama kali mengenal huruf Alif dan Ba.
(Herry)


















