Ruteng, Investigasi.News,-Dalam beberapa waktu terakhir, publik kembali digemparkan oleh pemberitaan mengenai seorang imam sekaligus dosen di Unika Santo Paulus Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur yang tersandung masalah moral (dosen dan mahasiswi). Sebagai warga gereja dan masyarakat, saya sepenuhnya mendukung proses hukum dan proses internal gerejawi yang harus berjalan transparan dan adil. Kebenaran tidak boleh dinegosiasikan, dan pelanggaran apa pun bentuknya, memang perlu ditangani secara serius demi keadilan bagi korban dan pemulihan martabat lembaga.
Namun di sisi lain, saya tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan bahwa satu skandal sering kali mengubur seribu kisah keteladanan. Media dengan cepat menempatkan kasus kontroversial di garis depan, tetapi kisah heroik para imam yang bekerja dalam senyap jarang sekali mendapat ruang serupa. Seolah-olah satu kejatuhan lebih bernilai berita daripada ribuan pengabdian.
Padahal, banyak imam setiap hari berjibaku memperjuangkan pendidikan, melayani di pelosok terpencil, menjaga komunitas kecil yang sering terlupakan, serta menjadi sumber penghiburan bagi mereka yang hidup dalam kesulitan. Ada imam yang mengajar anak-anak desa. Ada yang berjalan kaki berjam-jam untuk misa di kampung-kampung jauh. Ada yang merawat lansia terlantar, membuka ruang belajar, membangun koperasi kecil, atau bahkan menjadi “jaring pengaman sosial” ketika tidak ada siapa pun yang datang membantu.
Ironisnya, jasa-jasa seperti itu jarang diangkat menjadi berita. Mungkin karena tidak sensasional. Tidak memantik klik. Tidak menjual. “Keteladanan” tampaknya kalah daya tarik dibandingkan drama dan kontroversi. Saya tidak meminta media menutup-nutupi kasus, itu jelas keliru. Justru transparansi sangat penting agar gereja dan masyarakat bisa terus membersihkan diri dan memperbaiki struktur. Namun saya berharap keseimbangan: bahwa publik juga layak mengetahui betapa banyak imam yang hidup dengan integritas tinggi, yang setiap hari berusaha menjadi wajah belas kasih (welas asih) dan berbaju pelayanan.
Sebab ketika ruang pemberitaan hanya diisi oleh sisi gelap, kita tergoda untuk menyimpulkan bahwa gelap itulah keseluruhan cerita. Padahal tidak. Ada begitu banyak cahaya, hanya saja tidak diberi panggung. Jika kisah-kisah inspiratif dituturkan, masyarakat akan memiliki gambaran lebih utuh tentang pelayanan imam, dan para imam sendiri akan menerima dorongan moral untuk terus menjaga integritas mereka.
Pada akhirnya, kita perlu bertanya: apakah kita ingin membangun budaya publik yang hanya menghukum kejatuhan, atau juga menghargai kebaikan?
Saya memilih keduanya: mendukung proses hukum tanpa kompromi, tetapi juga memperjuangkan agar suara-suara keteladanan tidak lagi tenggelam dalam hiruk-pikuk sensasionalisme. Karena gereja dan masyarakat luas tidak hanya hidup dari berita buruk; kita bertumbuh dari harapan, inspirasi, dan teladan.
Oleh: Eugen Sardono, Seorang Penulis, Penggiat Budaya, dan Pengajar di Westin International School








