Kawata dan 16 Desa Pulau Mangoli: Menjaga Tanah, Laut, dan Martabat di Tengah Gempuran Tambang

More articles

Malut, Investigasi.News – Bertani di Desa Kawata bukan sekadar persoalan pangan. Ia adalah persoalan makna, sejarah, dan keberlanjutan hidup. Dalam lanskap agraris-pesisir yang kaya, bertani telah menjadi cara masyarakat menyambung tubuh dengan tanah, merawat keluarga, dan mewariskan nilai-nilai leluhur. Namun kini, tanah yang penuh berkah itu mulai digerus logika tambang-yang hanya mengenal tonase dan hektar.

Di tengah ancaman 10 perusahaan tambang yang mengincar 16 desa di Pulau Mangoli, Kawata menjadi simbol perlawanan. Dari hasil kebun kopra yang fluktuatif, masyarakat telah menghasilkan ratusan sarjana, membangun infrastruktur desa, hingga menopang kehidupan sosial desa. Produksi kopra Kepulauan Sula mencapai 30.466 ton per tahun-potensi besar yang mestinya dikembangkan, bukan dikorbankan.

Nama-nama ladang seperti Kawata Wailal, Nasa Waisum, Wai Sanakam, Nasa Jara Boya, hingga Uf Nana adalah bukan sekadar lokasi di peta. Mereka adalah ruang spiritual dan sejarah kerja keras: tempat ayah menanam pohon untuk anaknya, tempat nira disadap dan kelapa dijemur di bawah langit yang sama yang menaungi generasi demi generasi.

Kabong (kebun) bukan hanya soal pangan, tetapi juga gotong royong, seperti dalam tradisi walima. Hasil panen diberikan sukarela kepada warga yang sedang menikah atau berduka. Di sini, tanah bukan aset ekonomi semata. Ia adalah tubuh tempat manusia berpijak dan kembali.

Namun logika tambang datang membawa truk, suara bor, ledakan, dan pencemaran air-mengancam keharmonisan yang dibangun ratusan tahun. Tapi masyarakat Kawata tidak menyerah. Mereka tetap menanam di Nasa Jara Boya, tetap menyadap di Bisau, dan tetap menjemur kelapa di Uf Nana. Mereka tahu, tanpa tanah, tak ada masa depan.

Setiap batang kelapa kini jadi simbol perlawanan. Setiap biji cokelat di Wai Langka adalah doa agar anak-anak bisa hidup dari tanah sendiri, bukan dari upah tambang yang singkat dan tak sepadan. Ladang-ladang Kawata adalah ruang belajar, ruang cinta, dan ruang peradaban yang tidak bisa ditukar dengan konsesi.

Fat Kasur dan Rompong: Laut, Dapur, dan Ruang Sakral yang Terancam

Bagi nelayan Kawata, laut bukan hanya bentang air. Ia adalah dapur bersama, tempat anak-anak tumbuh dengan cerita tentang Fat Kasur, Fat Tabob, Fat Gawan, hingga Rompong. Lokasi-lokasi itu bukan titik koordinat, tapi memori hidup yang dijaga dari generasi ke generasi.

Fat Gawan adalah tempat migrasi kakap dan kerapu, Pas Batina tempat harapan digantung di arus yang deras, Rompong-alat tangkap tradisional-simbol teknologi lokal yang bersahabat dengan laut. Semua ini bukti bahwa laut Kawata adalah ekosistem yang dikelola dengan rasa hormat.

Tapi ancaman datang dari darat: limbah tambang, lumpur merah, dan pencemaran air mengalir ke laut melalui sungai dan kanal alami. Jika laut rusak, rantai makanan hancur. Bagi nelayan Kawata, ini bukan skenario abstrak-ini ancaman langsung terhadap piring makan dan masa depan anak-anak mereka.

Mereka tahu laut bukan milik satu orang. Mereka tahu kapan berhenti agar ikan tumbuh. Maka, penolakan tambang adalah jeritan laut yang tak bisa bersuara.

Di Tanah dan Laut Kawata, Nilai Diperjuangkan

Sebagaimana tanah dijaga oleh petani, laut dijaga oleh nelayan. Dalam satu simpul kesadaran, masyarakat Kawata berdiri sebagai penjaga dua ruang sakral: tanah dan laut. Di sanalah diletakkan harapan atas masa depan yang berdaulat dan adil.

Perjuangan Kawata hari ini bukan hanya untuk desa mereka. Ini adalah perjuangan 16 desa lain di Pulau Mangoli—dari Buya, Johor, Dofa, hingga Jere, Naflo, Paslal, Trans Modapuhi, dan lainnya—yang berada dalam ancaman 83.635,94 hektare, atau sekitar setengah dari luas total Pulau Mangole. Kawata adalah tapal batas antara dua dunia: dunia yang memilih mengejar keuntungan jangka pendek dan dunia yang memilih setia pada akar, air, dan tanah.

Oleh: Aliansi Masyarakat Kawata Totak Tambang (AMKTT)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest