Manggarai Timur,Investigasi.News-“Pulang bukan soal tempat, tapi soal jiwa yang ingin menyatu dengan tanah pertama yang mengajarkan hidup. Tempat yang banyak memberikan hidup bagi orang di Barat.” The Beauty of Home, the Burden of Neglect: Returning to an Unfinished Village”. Every time I return to my village in eastern Indonesia, I feel the same warmth, the smell of woodsmoke from my mother’s kitchen, the familiar curve of the hills, and the slow, unhurried greetings from neighbors who still remember my name (Setiap kali saya pulang ke kampung di Timur Indonesia, selalu ada rasa hangat yang tak tergantikan; aroma asap dapur ibu, lekuk bukit yang tak berubah, dan sapaan tetangga yang masih mengenal nama saya). Itulah yang selalu saya syukuri ketika kembali ke Kampung Weleng, Lamba Leda, Flores, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Liburan mengajariku lelah mengejar dunia, kampung mengajakku duduk, menatap sawah, meruput kopi di tengah hamparan lingkungan yang “belum disentuh oleh tangan investor yang jahil dan kotor”, sambil belajar diam. Pulang ke kampung bukan mundur tetapi kembali merawat akar yang hampir patah.
Di tengah rasa syukur, ada juga sebuah kekesalan, “The joy of coming home and the pain of being left behind”. Muncul sebuah keprihatinan dan kegelisahan ketika melihat pembangunan di Weleng, Lamba Leda, Manggarai Timur. Jangankan diskursus infastruktur yang memadai, masyarakat saja kesulitan mendapatkan air bersih. Tidak adanya air bersih di kampung adalah persoalan serius yang menyentuh hak dasar manusia. Ini bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga soal keadilan sosial, kesehatan, dan martabat.
Ada sebuah gejala mencerminkan realitas banyak daerah di Indonesia, terutama di wilayah Timur dan pelosok, jalan raya yang rusak, berlubang, atau bahkan belum diaspal memang tidak layak disebut fasilitas umum jika tidak memenuhi fungsi dasarnya, menghubungkan dan memudahkan akses masyarakat. Wilayah Timur kerap diposisikan sebagai “yang lain” (the other), eksotis, terbelakang, penuh konflik sehingga tidak dianggap setara. Psikologi politik melihat ini sebagai bentuk “dehumanisasi” ringan atau pengurangan empati, yang membuat kebijakan terhadap mereka tidak mendesak atau dianggap tidak prioritas.
Sejak Era Orde Baru (1966–1998), pembangunan di Indonesia sangat terpusat di Pulau Jawa, terutama di Jakarta. Banyak wilayah di Timur Indonesia memiliki akses yang sulit, terbatasnya jalan raya, pelabuhan, bandara, hingga jaringan internet. Biaya logistik yang tinggi membuat investasi swasta tidak masuk. Ini menciptakan lingkaran setan, tanpa infrastruktur, minim investasi, pembangunan lambat dan tetap terpinggirkan. Bapak Prabowo, sesekali datanglah ke Weleng, Lamba Leda, Manggarai Timur. Pak, rakyat di Weleng butuh jalan yang layak dan air bersih, bukan perdebatan soal ijazah mantan presiden yang menghabiskan energi dan anggaran negara. Kami berharap Bapak bisa mengalihkan perhatian ke persoalan nyata yang dihadapi masyarakat pinggiran seperti kami. Tolong sesekali datang ke Weleng dan dengarkan langsung suara kami.
Pembangunan yang merata adalah harapan kami semua, bukan perdebatan yang tak kunjung usai. Dengarkan suara dari pelosok dan pinggiran. Di balik gemerlap pembangunan kota-kota besar, masih ada Weleng, sebuah kampung yang menanti sentuhan pembangunan sejati. Jalanannya rusak parah, air bersih sulit didapat, dan fasilitas dasar lainnya masih jauh dari kata memadai.
Sebagai bagian dari bangsa ini, penulis adalah Masyarakat kampung Weleng tidak meminta kemewahan, hanya hak dasar yang seharusnya didapat setiap warga negara, akses jalan yang layak, air bersih.
Penulis tahu Bapak memiliki komitmen untuk mewujudkan keadilan sosial. Maka dari itu, dengan lantang saya mengajak Bapak sesekali turun langsung ke Kampung Weleng, melihat dan merasakan sendiri bagaimana kehidupan di pinggiran yang sering terlupakan.
Dengarkan suara yang dilantangkan anak Timur, bukan hanya di ruang rapat atau media, tapi di lapangan, di antara debu jalan berlubang dan sumur yang kering. Suara itu adalah suara harapan, suara perubahan, dan suara keadilan yang menanti untuk diwujudkan. Penulis berharap kepemimpinan Bapak, pembangunan yang merata bukan sekadar janji, tapi bisa menjadi kenyataan. Mari bersama-sama membangun Indonesia yang tidak meninggalkan satu pun anak bangsanya di pinggiran.
Salam hormat dari seorang anak muda kampung Weleng, Lamba Leda, Manggarai Timur. Di negeri yang luas ini, ada suara-suara yang sering tidak terdengar. Suara-suara dari pinggiran, dari kampung-kampung yang jauh dari gemerlap kota, dari tempat-tempat yang pembangunan dan kemajuan seolah lupa singgah. Saya ingin menyuarakan suara tersebut, suara dari margin yang terabaikan.
Kita sering bicara soal pembangunan nasional, pertumbuhan ekonomi, dan kemajuan teknologi. Tapi, apa artinya semua itu jika anak-anak di kampung saya masih sulit mendapatkan air bersih? Apa artinya kemajuan jika jalan menuju kampung kami penuh lubang dan berlumpur, membuat kami terisolasi? Apa artinya janji kesejahteraan jika kami masih harus berjuang tiap hari hanya untuk kebutuhan dasar? Suara dari margin bukan suara yang lemah. Ia adalah suara penuh harapan, kekecewaan, tetapi juga kekuatan untuk berubah. Kami ingin negara ini bukan hanya milik kota besar dan elite, tapi milik semua rakyatnya.
Pemerintah dan para pemimpin harus lebih sering turun ke lapangan, melihat langsung kehidupan kami. Jangan hanya melalui laporan statistik atau janji kampanye. Mari dengarkan kami, pahami kami, dan wujudkan keadilan pembangunan yang sesungguhnya. Karena suara dari pinggiran adalah suara kita semua. Suara yang tak boleh lagi diabaikan. Ingat! “Kami tak bisa melawan dengan senjata, tapi suara kami berhak didengar.”
Oleh: Eugen Sardono, Seorang Penulis, Penggiat Budaya, dan Pengajar di Westin International School








