Petani Muda Waturajo Kembangkan Semangka, Harap Dukungan Serius Pemerintah

More articles

Ende, Investigasi.News — Di tengah anggapan bahwa sektor pertanian kurang diminati generasi muda, sekelompok petani muda di Dusun Waturajo, Desa Mbuliwaralau Utara, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende, NTT, justru menunjukkan geliat berbeda dengan mengembangkan budidaya semangka secara serius.

Mereka serius mengembangkan budidaya semangka, sekaligus berencana menjalin kerja sama dengan program MBG sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi lokal berbasis pertanian.

Kelompok tani muda ini lahir dari inisiatif pemuda desa yang ingin mengubah cara pandang terhadap pertanian. Tidak lagi sekadar bertani secara konvensional, mereka mulai mengelola lahan secara lebih produktif, terorganisir, dan berorientasi pasar.

“Kami ingin membuktikan bahwa anak muda juga bisa berhasil di sektor pertanian, asal dikelola dengan baik dan didukung,” ungkap salah satu anggota kelompok tani saat ditemui di lokasi.

Sejak mulai bekerja pada Februari lalu, mereka telah mengelola lahan dengan komoditas utama semangka. Hasilnya mulai terlihat, dengan sekitar 1.100 buah semangka yang kini memasuki masa produksi dan direncanakan panen pada Mei mendatang.

Namun, proses tersebut tidak berjalan tanpa hambatan. Pada tahap awal pengolahan lahan, mereka terpaksa menyewa traktor karena tidak memiliki alat sendiri. Kendala ketersediaan traktor bahkan sempat menghambat proses pembajakan tanah.

Di sisi lain, kerja sama dengan program MBG dinilai memberikan dampak positif, terutama dalam rencana kemitraan untuk penyaluran hasil panen. Kelompok ini menargetkan hasil semangka dapat disuplai melalui jaringan tersebut sebagai langkah awal memperluas pasar.

Meski demikian, para petani muda menilai dukungan yang ada masih bersifat terbatas dan belum menyentuh kebutuhan mendasar mereka secara menyeluruh.

Rencana pengembangan ke depan pun sudah disusun. Selain semangka, mereka berencana menanam jagung dalam skala lebih luas. Namun, lagi-lagi persoalan alat menjadi hambatan utama, khususnya ketersediaan mesin pertanian untuk pengolahan dan penanaman jagung.

“Kami mau tanam jagung lebih banyak, tapi terkendala mesin. Kalau skala besar, tidak mungkin kerja manual terus,” kata salah satu petani muda.

Temuan di lapangan menunjukkan bahwa semangat dan potensi kelompok tani muda ini cukup besar. Mereka juga mulai melirik pengembangan ekonomi kreatif berbasis hasil pertanian, seperti pengolahan produk turunan untuk meningkatkan nilai tambah.

Selain itu, keterlibatan anak muda dalam promosi melalui media sosial menjadi modal penting. Namun keterbatasan fasilitas dan minimnya pendampingan membuat potensi tersebut belum dimaksimalkan.

Hingga saat ini, minimnya intervensi konkret—baik dalam bentuk bantuan alat pertanian, akses permodalan, pelatihan, maupun perluasan jaringan pemasaran—masih menjadi catatan serius.

Para petani berharap pemerintah tidak hanya hadir melalui program jangka pendek, tetapi juga menyediakan dukungan berkelanjutan yang tepat sasaran. “Kalau kami dibiarkan berjalan sendiri, tentu berat. Tapi kalau didukung serius, ini bisa berkembang dan jadi contoh bagi desa lain,” tegas mereka.

(Severinus T. Laga)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest