Situbondo, investigasi.news – RSUD Abdurrahem Situbondo terus menunjukkan perubahan signifikan sejak dipimpin oleh Direktur baru, dr. Sudharmono. Melalui program 100 hari kerja, berbagai langkah pembenahan dilakukan untuk mempercepat layanan dan meningkatkan kualitas fasilitas.
Dalam wawancara dengan media investigasi.news (7/12) pada hari-hari pertama kepemimpinannya, dr. Sudharmono langsung melakukan evaluasi menyeluruh terhadap alur pelayanan yang selama ini dianggap belum optimal. Evaluasi tersebut melibatkan seluruh kepala unit agar strategi pembenahan dapat berjalan lebih terarah dan menyentuh kebutuhan yang paling mendesak.
Salah satu fokus utama adalah reformasi sistem administrasi. Prosedur layanan yang sebelumnya berbelit kini diringkas, sementara proses pendaftaran pasien perlahan diarahkan menuju sistem digital untuk mengurangi antrean manual.
Direktur menegaskan bahwa percepatan administrasi merupakan fondasi penting dalam menciptakan pelayanan yang efisien. “Pasien datang ke rumah sakit membutuhkan kepastian dan kecepatan. Maka hal pertama yang kami benahi adalah alur administrasi agar pasien tidak lagi menunggu terlalu lama,” ujar dr. Sudharmono.
Selain administrasi, pembenahan Instalasi Gawat Darurat (IGD) menjadi prioritas strategis. Penataan ulang ruang IGD serta sistem triase baru mulai diberlakukan agar proses penanganan pasien lebih cepat dan tepat sasaran sesuai tingkat kegawatannya.
Perubahan tersebut juga mencakup penambahan peralatan medis penunjang. Beberapa alat yang sebelumnya tidak berfungsi optimal kini diperbaiki, sementara sejumlah perangkat baru telah diajukan melalui pengadaan untuk meningkatkan kapasitas penanganan emergensi.
Tidak berhenti di IGD, peningkatan kenyamanan ruang rawat inap juga masuk dalam program 100 hari. Beberapa ruangan mendapat perbaikan pencahayaan, penyegaran interior, serta penguatan standar kebersihan yang menjadi keluhan umum masyarakat.
dr. Sudharmono menilai kenyamanan ruang rawat sangat berpengaruh pada proses pemulihan pasien. “Lingkungan yang baik membantu pasien lebih cepat pulih. Karena itu kami betul-betul memperhatikan aspek kenyamanan dan kerapian ruangan,” ujarnya.
Dorongan perubahan ini juga dibarengi dengan pembentukan budaya kerja baru. Seluruh pegawai diminta meningkatkan kedisiplinan, keramahan, serta kecepatan merespon kebutuhan pasien. Direktur menegaskan bahwa perubahan tidak akan maksimal tanpa komitmen sumber daya manusia.
Sejumlah pelatihan internal mulai dilaksanakan, baik untuk tenaga medis maupun non-medis. Pelatihan tersebut bertujuan memberikan pemahaman baru tentang standar pelayanan yang lebih profesional, cepat, dan berorientasi pada keselamatan pasien.
Di sektor lain, manajemen mulai memperketat pengawasan stok obat agar tidak terjadi kekosongan yang dapat menghambat pelayanan. Pengelolaan stok kini dilakukan dengan sistem yang lebih terkoordinasi antara instalasi farmasi dan masing-masing poli.
Untuk rawat jalan, rumah sakit mulai menerapkan sistem antrian berbasis digital agar waktu tunggu pasien lebih terkontrol. Pasien dapat memantau pergerakan antrean dari layar informasi yang disediakan sehingga pelayanan terasa lebih transparan.
Selama proses pembenahan ini, dr. Sudharmono membuka ruang komunikasi lebih luas dengan masyarakat. Kritik dan masukan dari pasien dijadikan acuan dalam penyempurnaan layanan. Langkah ini menurutnya penting agar rumah sakit tetap bergerak sesuai kebutuhan nyata.
“Kami ingin RSUD Abdurrahem menjadi rumah sakit yang didukung, bukan hanya dikunjungi karena terpaksa. Karena itu suara masyarakat kami jadikan bahan evaluasi utama,” tegasnya.
Dengan berbagai progres yang dicapai selama 100 hari, RSUD Abdurrahem kini memasuki fase baru pembenahan jangka panjang. Transformasi yang telah dimulai diharapkan menjadi pondasi kuat menuju pelayanan kesehatan yang lebih modern, efisien, dan terpercaya bagi masyarakat Situbondo. (Agus)






