Kota Malang, Investigasi.news– Dalam upayanya memperkuat denyut ekonomi kreatif Kota Malang, Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, menggagas pemanfaatan Kawasan Kayutangan Heritage sebagai etalase utama bagi produk-produk unggulan UMKM dari seluruh penjuru kota.
Tak berhenti di situ, Amithya juga mengusulkan pembentukan Klinik UMKM di setiap kelurahan — sebuah inovasi yang diharapkan menjadi ruang konsultasi, pendampingan, dan penguatan kapasitas bagi para pelaku usaha kecil agar tumbuh lebih tangguh dan berdaya saing.
Gagasan visioner tersebut ia sampaikan dalam acara “Penguatan serta Peningkatan Ekonomi Kreatif dan UMKM dalam Mendukung Program Dasa Bakti Wali Kota Malang” yang digelar di Ballroom Singasari, Alana Hotel, pada Senin (10/11/2025).
Acara yang dihadiri oleh Wakil Ketua I DPRD Kota Malang, H. Abdurrahman, serta Wakil Ketua II, Trio Agus Purwono, ini juga diikuti lebih dari 180 pelaku UMKM dan menampilkan beragam produk lokal yang mencerminkan semangat wirausaha warga Kota Malang.
Dalam paparannya, Amithya menyoroti Kayutangan Heritage sebagai ikon wisata baru Kota Malang yang kini kian memikat wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri. Menurutnya, geliat ekonomi di kawasan tersebut perlu dimanfaatkan sebagai panggung utama bagi produk-produk lokal.
“Kita punya potensi luar biasa di Kayutangan Heritage. Tempat ini bisa menjadi etalase UMKM Kota Malang, menampilkan hasil karya terbaik dari setiap kelurahan,” ujar Amithya penuh keyakinan.
Ia menegaskan bahwa wisatawan yang datang tidak hanya ingin menikmati suasana, tetapi juga mencari oleh-oleh khas yang merepresentasikan identitas kota. Karena itu, ia mendorong agar pengembangan kawasan dilakukan secara menyeluruh — tidak hanya di sisi selatan, tetapi juga utara — dengan menghadirkan etalase UMKM yang merata dari seluruh wilayah Kota Malang.
Dalam kesempatan itu, Amithya juga menekankan perlunya perubahan pola pikir (mindset) di kalangan pelaku UMKM agar lebih profesional dalam mengelola usahanya.
“Mindset ini sangat penting. Bagaimana pelaku UMKM memperlakukan produknya — mulai dari manajemen keuangan, pengemasan, branding hingga pemasaran — semuanya akan menentukan daya saing,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi UMKM yang telah memiliki katalog digital, dan mendorong agar setiap kelurahan memiliki portofolio produk lokal sebagai media promosi terpadu.
“Bayangkan kalau setiap kelurahan punya katalog digital. Saat ada event, tinggal buka — seperti punya guide book UMKM Kota Malang,” katanya sambil tersenyum.
Sebagai langkah konkret, Amithya mengusulkan pendirian Klinik UMKM di tiap kelurahan bekerja sama dengan Diskopindag Kota Malang. Klinik ini diharapkan menjadi sarana evaluasi dan pendampingan berkelanjutan.
“Klinik UMKM ini ibarat dokter usaha. Bisa diketahui apa penyakit kronisnya, bagaimana cara menyembuhkan, dan bagaimana menjaga agar tetap prima,” terangnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kehadiran Peraturan Daerah (Perda) tentang Pemberdayaan UMKM untuk memperkuat arah kebijakan dan memastikan pendampingan pemerintah berjalan hingga ke akar rumput.
Selain itu, Amithya mengajak BPR Tugu Artha agar lebih aktif menyalurkan pembiayaan kepada pelaku usaha.
“BPR Tugu Artha seharusnya bisa menjadi mitra strategis UMKM. Potensi besar ini harus ditangkap agar ekonomi lokal bisa tumbuh lebih cepat,” tegasnya.

Melalui berbagai gagasan dan langkah konkret, DPRD Kota Malang berkomitmen untuk terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif dan meningkatkan daya saing UMKM.
“Kami ingin hadir di tengah masyarakat, mendengar langsung, dan bergerak bersama. Karena kami percaya, UMKM adalah jantung ekonomi Kota Malang,” pungkas Amithya.
Program penguatan UMKM ini menjadi bagian dari sinergi antara DPRD Kota Malang dan Pemerintah Kota Malang dalam mewujudkan pembangunan ekonomi kreatif yang inklusif, berkelanjutan, dan berbasis potensi lokal. Melalui dukungan kebijakan dan inovasi daerah, diharapkan UMKM menjadi motor penggerak ekonomi yang membawa kemakmuran bagi seluruh warga kota.
Adv/Guh






