Malut, Investigasi.news – Jelang memasuki waktu sholat Maghrib untuk daerah Kepulauan Sula dan sekitarnya aliran listrik selalu padam, hal demikian sudah sering kali dikeluhkan warga yang menjadi pelanggan PLN ranting Sanana, namun boro-boro berbenah untuk meningkatkan layanan, PLN Sanana malah belum bisa mengatasi keluhan pelanggan, yang artinya sampai kini hampir setiap waktu sholat Maghrib lampu selalu mati, padahal pelanggan selalu membayar iuran listrik sesuai waktu yang ditentukan, sedikit saja abai pasti berhadapan dengan pemutusan jaringan oleh pihak PLN, ini tentu sebuah bentuk ketidakadilan yang dirasakan pelanggan PLN ranting Sanana.
Merasa kecewa dengan pelayanan PLN Sanana, seorang Dosen STAI Babussalam Sula (akademisi) menulis Sebuah surat cinta yang berisi singgungan (kritikan-red) atas kinerja PLN Ranting Sanana dalam melayani pelanggannya, berikut Surat Cinta Mohtar Umasugi untuk Ka. PLN Ranting Sanana dan jajarannya.
Kepada Yth
Kepala PLN Ranting Sanana
Di.
Tempat.-
Dengan Hormat !
Semoga Allah SWT selalu meridhoi aktifitas Bapak keseharian.
Setiap warga pasti ingin menikmati waktu magrib dengan khusyuk, baik untuk beribadah, berkumpul bersama keluarga, atau sekadar melepas penat setelah seharian beraktivitas. Namun, di kabupaten kepulauan Sula, khususnya Kecamatan Sanana dan sekitarnya dalam wilayah pulau Sulabesi momen sakral ini sering terganggu oleh pemadaman listrik berulang kali terjadi di waktu magrib. Seolah menjadi agenda rutin, listrik padam justru di saat yang paling dibutuhkan, menambah kesan bahwa kenyamanan pelanggan bukanlah prioritas utama bagi PLN.
Sebagai pelanggan setia yang selalu membayar tagihan tepat waktu, saya merasa berhak mendapatkan pelayanan yang lebih baik. Namun, realitasnya, pemadaman listrik sering terjadi tanpa pemberitahuan yang jelas. Lebih mengecewakan lagi, pemadaman ini tidak hanya berlangsung beberapa menit, tetapi bisa berjam-jam, menghambat aktivitas masyarakat, terutama yang bergantung pada listrik untuk bekerja atau berusaha.
Saya pun bertanya-tanya, apa sebenarnya penyebab dari pemadaman yang terus berulang ini?
Apakah karena kurangnya perawatan jaringan, kapasitas daya yang tidak memadai, atau ada faktor lain yang belum terungkap?
Yang pasti, PLN sebagai penyedia listrik seharusnya memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan situasi ini kepada pelanggan, bukan sekadar meminta pengertian dan permohonan maaf tanpa solusi yang nyata.
Kekecewaan masyarakat semakin memuncak karena pemadaman yang kerap terjadi di waktu Maghrib terasa ironis. Ini adalah waktu krusial bagi banyak orang untuk menjalankan ibadah, memulai kegiatan malam, atau sekadar menikmati kebersamaan keluarga. Namun, yang didapat justru kegelapan dan ketidakpastian.
Sebagai pelanggan, saya hanya ingin PLN lebih transparan dan profesional dalam menjalankan tugasnya. Jika memang ada gangguan teknis, sampaikan dengan jelas. Jika pemadaman memang tak terhindarkan, lakukan dengan jadwal yang terencana dan informasikan sebelumnya. Kami hanya ingin hak kami sebagai pelanggan dihormati, sebagaimana kewajiban kami untuk membayar listrik pun selalu dipenuhi.
Jika masalah ini terus berlanjut tanpa solusi konkret, bukan tidak mungkin kepercayaan masyarakat terhadap PLN akan semakin luntur. Sebab, pelayanan yang buruk bukan hanya soal ketidaknyamanan, tetapi juga mencerminkan buruknya tata kelola yang bisa berdampak lebih luas. Sudah saatnya PLN lebih serius dalam menangani masalah ini, sebelum kekecewaan berubah menjadi ketidakpercayaan yang lebih dalam.
Terima kasih
Fagudu, 11 februari 2025
Mohtar Umasugi (Akademisi/Pelanggan PLN Ranting Sanana)








