Lubukbasung, investigasi.news — Pondok Pesantren Alquran Darul Inqilabi tengah diliputi suasana haru. Siang itu, di bawah terik matahari yang kian menyengat karena hujan tak kunjung turun, tiga orang santri tampak duduk di depan asrama. Mereka tak banyak bicara, sesekali tertawa, lalu diam merenung. Dalam hitungan hari, mereka harus meninggalkan pondok yang telah menjadi rumah kedua selama bertahun-tahun.
Mereka adalah tiga sahabat karib yang tak terpisahkan sejak duduk di kelas tujuh. Selalu bersama ke mushala, belajar, berdiskusi, bahkan dalam momen-momen kecil seperti makan atau bersih-bersih asrama. Persahabatan mereka menjadi panutan di mata adik-adik kelas — kompak, ramah, dan santun.
Setiap bulan Ramadhan, mereka selalu berdiskusi tentang materi ceramah, saling berbagi ilmu dan mengisi kegiatan dakwah di berbagai tempat. Ketiganya dikenal tak hanya karena kedisiplinan dan prestasinya, tetapi juga karena adab dan akhlak yang terjaga.
Kini, momen perpisahan itu benar-benar datang.
Mereka adalah Muhammad Ismail Hasan, Alif, dan Difo.
Ismail berasal dari Kamang. Ia adalah putra dari Hasneril yang juga bagian dari pondok.
Alif berasal dari Lubuk Sao. Kedua orang tuanya juga mengajar di pondok, menjadikan suasana belajar dan mengabdi seakan menjadi napas sehari-harinya.
Sementara Difo, berasal dari Pasaman. Ia dikenal tenang, bijak, dan mampu mencairkan suasana saat sahabat-sahabatnya berselisih kecil.
Rencananya Muhammad Ismail Hasan dan Alif lanjut mondok ke Pondok PADI Pusat yang berada di Banjarmasin Kalimantan Selatan sedangkan Difo tetap di Lubukbasung masuk MAN.
Kini, langkah mereka akan berbeda arah, Namun jejak mereka akan tetap membekas — dari suara azan yang dulu menggema di mushala, hingga senyum dan salam khas mereka saat lewat di depan para ustaz dan pengurus pondok, selalu membungkuk dengan penuh hormat.
Menjelang hari-hari terakhir di pondok, mereka sering diminta satu hal oleh para guru dan pembina: “Jaga adab, jaga perilaku.” Itulah bekal utama yang akan mereka bawa melangkah ke dunia luar.

Perpisahan memang tak terhindarkan, namun bukan akhir dari segalanya. Persahabatan mereka, nilai-nilai yang mereka bawa, dan kenangan selama menuntut ilmu di Pondok Pesantren Alquran Darul Inqilabi akan menjadi bekal yang tak ternilai harganya.
Semoga langkah mereka selalu diberkahi. Dan semoga suatu saat, mereka kembali — bukan lagi sebagai santri, tetapi sebagai penerus perjuangan dakwah dan pendidikan di pondok tercinta ini.
Penulis: Daji







