Agam, investigasi.News — Pemerintah terus memperluas jangkauan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai langkah nyata meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Program ini tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.
Sosialisasi program MBG kembali digelar di Aula Pasar Rakyat Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, beberapa waktu lalu. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Anggota Komisi IX DPR RI Ade Rizki Pratama, Direktorat Promosi dan Edukasi Gizi Badan Gizi Nasional (BGN) Rahma Dewi Auliya Sari, serta ratusan masyarakat setempat.
Dalam sambutannya, Ade Rizki Pratama menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis merupakan langkah strategis pemerintah dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia agar mampu bersaing dengan negara maju.
“Presiden bisa membangun jalan dan infrastruktur dalam tiga tahun, tapi membangun anak-anak yang cerdas, sehat, dan siap menghadapi masa depan membutuhkan waktu jauh lebih lama,” ujar Ade Rizki di hadapan peserta sosialisasi.
Ia menekankan bahwa program MBG hadir untuk memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi seimbang, terutama bagi mereka yang belum tercukupi di rumah.
“Makan bergizi gratis bukan berarti mewah atau berlebihan, melainkan memenuhi unsur gizi yang tepat. Fokusnya adalah kecukupan gizi, bukan sekadar rasa,” tambahnya.
Selain berdampak pada peningkatan gizi masyarakat, program MBG juga membawa efek domino bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Pemerintah mendorong agar seluruh bahan pangan yang digunakan bersumber dari potensi lokal, mulai dari petani, nelayan, hingga pelaku UMKM.
“Jika Sentra Produksi Pangan Gizi (SPPG) berkembang di setiap daerah, roda ekonomi akan berputar di tingkat lokal. Produk pertanian dan perikanan masyarakat terserap, dan kesejahteraan pun meningkat,” jelas Ade Rizki.
Sementara itu, Rahma Dewi Auliya Sari dari BGN menuturkan bahwa Program Makan Bergizi Gratis juga memiliki dampak luas terhadap penurunan angka stunting dan anemia, serta membuka peluang kerja baru bagi masyarakat.
“Satu dapur SPPG bisa memberdayakan puluhan ibu rumah tangga sebagai relawan, sementara petani dan UMKM mendapat pasar baru. Artinya, program ini bukan hanya soal gizi, tapi juga pemberdayaan ekonomi,” ungkap Rahma Dewi.
Menurutnya, pelaksanaan MBG dilakukan secara terpadu melalui sinergi antara BGN, BUMDes, koperasi, dan masyarakat lokal untuk membentuk rantai pasok pangan yang berkelanjutan.
“Mari bersama mendukung Program Makan Bergizi Gratis. Dengan gizi yang cukup, anak-anak kita tumbuh sehat, kuat, dan siap mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045,” tutupnya.
Fachri Koto






