Perjuangan Mohtar Umasugi Meraih Gelar Doktor di Universitas Muhammadiyah Parepare: Kisah Inspiratif dari Kepulauan Sula

More articles

Malut, Investigasi.news-, Perjuangan Mohtar Umasugi yang di Sapa Bang Mo dalam meraih gelar doktor di Universitas Muhammadiyah Parepare-Sulawesi Selatan merupakan cerminan nyata dari dedikasi, ketekunan, dan semangat tinggi dalam menuntut ilmu ditengah berbagai tantangan, khususnya dalam konteks pendidikan tinggi Islam di Maluku Utara. Melalui perjalanan akademiknya, Bang Mo tidak hanya menegaskan komitmen pribadi untuk mengembangkan diri secara intelektual, tapi juga memperlihatkan aspirasi untuk berkontribusi pada kemajuan pendidikan Islam yang berakar pada nilai-nilai keislaman sekaligus modernitas.

Universitas Muhammadiyah Parepare sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam memiliki peran strategis dalam membentuk intelektual Muslim berkemajuan yang mampu menjawab tantangan zaman. Meraih gelar doktor di institusi tersebut tentu bukanlah hal yang mudah dan membutuhkan proses panjang, mulai dari penguasaan ilmu yang mendalam, penelitian yang kritis, hingga kemampuan mengaplikasikan hasil riset dalam konteks akademik serta sosial yang lebih luas. Proses ini juga menuntut kerja keras yang konsisten, manajemen waktu yang baik, dan komitmen tinggi untuk menuntaskan tugas akhir berupa disertasi doktoral.

Bagi Bang Mo, perjalanan studinya diperkirakan sarat dengan tantangan, baik secara akademik maupun non-akademik. Sebagai seorang akademisi yang berkecimpung dalam bidang pendidikan Islam, ia harus mampu menyeimbangkan tuntutan studi dengan tanggung jawab profesional, sosial, dan mungkin keluarga.

Pendekatan multidimensional ini memerlukan kedisiplinan dan kebijaksanaan dalam mengelola energi agar studi doktoralnya dapat selesai dengan hasil optimal.

Sekilas Tentang Mohtar Umasugi

Mohtar Umasugi adalah sosok pria paruh baya kelahiran Desa Waisakai, Kecamatan Mangoli Utara Timur, Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara, Beliau lahir pada tanggal 11 Februari 1962. Berawal dari kehidupan sederhana didaerah terpencil, beliau menapaki jalan panjang dan penuh semangat untuk meniti karir di dunia pendidikan, yang hingga kini tetap menjadi ladang perjuangannya. Kisah hidup Mohtar menggambarkan bagaimana ketekunan, keikhlasan, dan cinta terhadap ilmu pengetahuan mampu membuka jalan menuju derajat akademik tertinggi dari sebuah Madrasah menuju perguruan tinggi. Awal Perjalanan Akademik dan Kiprah di Dunia Pendidikan Mohtar memulai karirnya sederhana, dari ruang-ruang kelas madrasah di wilayah asalnya, hingga terus berkarya sebagai pendidik yang berdedikasi. Tidak takut dengan keterbatasan, beliau melanjutkan studinya di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate, sehingga berhasil meraih gelar strata satu (S1). Semangat belajar yang tak pernah padam memantapkan langkahnya untuk meraih gelar strata dua (S2) yang berhasil diselesaikan pada tahun 2015. Ini merupakan bukti konkret dari niat kuatnya untuk terus memperdalam ilmu demi menjadi akademisi yang mumpuni dan mampu memberi manfaat kepada masyarakat luas.

Semangat Belajar Bahkan di Usia Paruh Baya

Di usia yang tidak lagi muda, malah pada akhir tahun 2021, Bang Mo semakin menunjukkan sikap pantang menyerah. Beliau mengambil langkah berani melanjutkan studi program doktoral di Universitas Muhammadiyah Parepare, sebuah perguruan tinggi di Provinsi Sulawesi Selatan. Langkah ini bukan hanya soal gelar, tetapi lebih pada komitmen beliau untuk terus belajar dan berkontribusi secara intelektual dalam pendidikan Islam, khususnya dari sudut pandang keilmuan dan pengembangan sosial.
Sebagai rekan pejuang Doktoral, saya melihat dengan perjuangannya, Terlihat Bang Mo menghadapi berbagai dinamika, seperti keterbatasan fasilitas, kebutuhan biaya pendidikan, hingga tekanan mental dan fisik akibat beban studi dan aktivitas lainnya. Namun, dengan tekad kuat dan dukungan lingkungan, ia berhasil melewati proses tersebut, membuktikan bahwa kegigihan dan niat tulus dalam menuntut ilmu akan selalu membuka jalan menuju keberhasilan. Keberhasilan meraih gelar doktor Melalui Yudisium Pasca Promosi Doktor di Universitas Muhammadiyah Parepare tanggal 13 Oktober 2025 ternyata bukan hanya sebuah pencapaian pribadi, melainkan juga prestasi yang menginspirasi komunitas akademik dan masyarakat luas. Gelar ini menjadi simbol integritas ilmiah dan panggilan moral bagi Bang Mo untuk terus berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan Islam di tanah air. Melalui perannya sebagai dosen dan Wakil Ketua Satu STAI Babussalam Sula, ia dapat menularkan semangat belajar, kreativitas, dan inovasi kepada generasi muda dan sesama akademisi. Lebih jauh lagi, perjuangan akademik Mohtar Umasugi adalah wujud nyata bagaimana perguruan Tinggi STAI Babussalam Sula di daerah terpencil seperti di Kabupaten Kepulauan Sula dapat menghasilkan intelektual yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab sosial yang tinggi. Ini sangat penting dalam konteks memperkuat posisi pendidikan Islam sebagai pilar pengembangan sumber daya manusia bangsa yang berkarakter, moderat, dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Kepedulian Sosial dan Peran Aktif di Masyarakat

Selain fokus pada pendidikan, Mohtar Umasugi juga dikenal aktif dalam ruang sosial masyarakat. Beliau tidak hanya membatasi diri di dunia akademik, tetapi juga hadir secara nyata sebagai pendakwah di berbagai mimbar sholat Jumat, serta panggung diskusi terbuka. Kepemimpinannya tidak sebatas di satu bidang, melainkan menjangkau organisasi sosial, keagamaan, dan kemasyarakatan. Saat ini beliau menjabat sebagai Koordinator Presidium Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) Kabupaten Kepulauan Sula dan Ketua ORDA Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) di wilayah yang sama.

Kontribusi Besar dalam Pengembangan Pendidikan Islam di Kepulauan Sula

Semangat belajar dan pengabdian sosial yang melekat dalam diri Mohtar membuatnya tidak hanya sebagai individu yang berkarya sendiri, tetapi juga sebagai pelopor perubahan institusional. Bersama para kolega, beliau mendirikan Yayasan Babussalam Sanana, sebuah instrumen perjuangan yang sangat penting untuk membuka akses pendidikan tinggi di daerahnya. Usaha ini membuahkan hasil ketika pada bulan Juni 2010, berdirilah Perguruan Tinggi Keagamaan Islam satu-satunya di Kabupaten Kepulauan Sula, yaitu Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Babussalam Sula, yang diresmikan melalui SK Kementerian Agama Republik Indonesia.

Filosofi dan Makna Perjuangan Akademik Mohtar Umasugi

Perjuangan Bang Mohtar meraih gelar doktor bukan sekadar tentang pencapaian akademis, melainkan simbol keteguhan hati menghadapi keterbatasan dan tantangan. Melalui perjalanan studinya yang penuh liku, mulai dari pendidikan dasar di lingkungan madrasah hingga jenjang doktoral di perguruan tinggi terkemuka, beliau mencerminkan pribadi yang tidak pernah berhenti belajar dan berjuang. Ini adalah pesan inspiratif bagi semua, bahwa kemauan keras dan kerja keras mampu menembus sekat lingkungan terpencil dan keterbatasan usia. Dampak dan Harapan Kedepan Keberhasilan akademik Mohtar Umasugi adalah harapan besar bagi kemajuan pendidikan Islam di Kepulauan Sula dan sekitarnya. Gelar doktor yang diraihnya menjadi modal intelektual yang sangat penting untuk memajukan pendidikan, membimbing generasi muda, dan menguatkan peran organisasi kemasyarakatan serta keagamaan. Diharapkan kiprah beliau dapat terus menginspirasi kaum muda di daerah tertinggal untuk menempatkan pendidikan sebagai jalan utama menuju perubahan sosial yang lebih baik. Perjuangan dan kisah hidup Bang Mohtar Umasugi ini merupakan contoh sempurna dari prinsip bahwa keberhasilan sejati lahir dari kerja keras, kesabaran, dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan latar belakang sederhana dan usia yang sudah tidak muda lagi, semangat beliau mengenyam pendidikan tinggi dan berkontribusi sosial menjadi pelajaran berharga tentang nilai keikhlasan dan ketulusan dalam menuntut ilmu dan melayani umat.
Mengakhiri tulisan ini saya menyimpulkan bahwa, perjuangan Mohtar Umasugi meraih gelar doktor di Universitas Muhammadiyah Parepare menegaskan bahwa pendidikan tinggi adalah ladang pengabdian dan perjuangan tanpa henti. Kesuksesannya membuktikan bahwa dengan niat ikhlas, kerja keras, dan dukungan yang memadai, hambatan akademik dan sosial dapat diatasi. Ini sekaligus menjadi teladan bagi para akademisi, mahasiswa, dan masyarakat luas di Kepulauan Sula bahwa menuntut ilmu adalah jalan mulia yang membawa perubahan positif untuk diri sendiri dan lingkungan.

Oleh: Dr. Sahrul Takim, S.Pd.I., M.Pd.I (Ketua STAI Babussalam Sula).

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest