Malut, Investigasi.news-, Ujian terbuka promosi doktor adalah puncak dari sebuah proses panjang, tetapi juga awal dari tanggung jawab baru. Gelar doktor tidak semata-mata mencerminkan keberhasilan akademik, melainkan representasi dari pergulatan intelektual, moral, dan spiritual seorang pencari ilmu. Dalam ruang sidang yang dipenuhi suasana ilmiah, saya merasakan bahwa setiap pertanyaan penguji bukanlah ujian atas kemampuan menjawab, tetapi ujian atas kedalaman berpikir, kematangan refleksi, dan konsistensi akademik yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Namun di balik euforia dan ucapan selamat yang datang dari berbagai penjuru, tersimpan kesadaran mendalam: bahwa menjadi doktor bukan tentang capaian pribadi, melainkan tentang kontribusi sosial. Di sinilah refleksi itu bermula pada pertanyaan mendasar: untuk apa ilmu ini, dan kepada siapa ia diabdikan?
Dalam tradisi akademik, seorang doktor diharapkan menjadi produsen pengetahuan (knowledge producer), bukan sekadar konsumen ilmu. Di titik inilah ethos ilmiah diuji, apakah penelitian yang dilakukan hanya berhenti pada naskah disertasi, ataukah ia menjelma menjadi kebijakan, inovasi, dan tindakan nyata bagi masyarakat. Refleksi ini membawa saya pada kesadaran baru bahwa ilmu pengetahuan tidak pernah netral; ia selalu memihak pada kemaslahatan atau justru bisa memperkuat ketimpangan, tergantung pada bagaimana ia digunakan.
Sebagai akademisi yang lahir dan berakar di daerah, saya memandang capaian doktoral bukan sekadar prestasi individual, tetapi aset sosial daerah. Setiap pengetahuan yang diperoleh harus kembali ke masyarakat, melalui pendidikan, riset terapan, dan advokasi kebijakan publik. Di sini, konsep human capital menemukan relevansinya: seorang doktor adalah investasi manusia yang diharapkan mampu meningkatkan kapasitas sosial dan ekonomi komunitasnya. Tetapi human capital tanpa social commitment hanyalah kebanggaan yang hampa.
Dalam konteks inilah, pesan tokoh pendidikan Kabupaten Kepulauan Sula, H. Abd. Rahman Kharie, S.Ag., M.Pd.I, terasa sangat relevan. Beliau pernah mengatakan:
“Ilmu yang sejati bukan hanya mengangkat derajat seseorang secara akademik, tetapi mengangkat martabat masyarakat di sekitarnya. Gelar tertinggi bukanlah yang ditulis di depan nama, tetapi yang terpatri dalam tanggung jawab sosial dan pengabdian.”
Pernyataan itu menjadi cermin moral bagi setiap akademisi, bahwa ilmu harus membumi dan menyentuh kehidupan nyata. Menjadi doktor di daerah seperti Kepulauan Sula berarti membawa misi ganda: memperkuat kapasitas akademik daerah sekaligus menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan melalui kerja nyata.
Refleksi ini menegaskan bahwa doktoral journey bukan sekadar perjalanan akademik, melainkan perjalanan spiritual menuju kesadaran tentang makna keberilmuan. Ilmu harus berjiwa profetik—memandu perubahan sosial, memperjuangkan kemanusiaan, dan menegakkan nilai keadilan. Di sinilah ilmu dan iman saling bertemu; bahwa setiap pengetahuan yang benar harus mengantarkan pada amal yang baik.
Hujan ucapan selamat yang membasahi ruang sosial media hari itu bukan sekadar ekspresi kebanggaan, tetapi juga simbol spiritual tentang turunnya rahmat dan amanah baru. Dari Parepare, di bawah langit yang basah, saya belajar bahwa menjadi doktor bukanlah akhir, melainkan awal dari babak pengabdian yang lebih berat.
Pada kesempatan yang penuh syukur ini, saya menyampaikan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada para promotor, ko-promotor, penguji, dan seluruh sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Parepare atas bimbingan, ilmu, dan kebijaksanaan yang telah diberikan. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada Hi. Abd. Rahman Kharie, S. Ag., M.Pd.I dan Istri, Ketua STAI dan sivitas akademika STAI Babussalam Sula, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Sula dan jajarannya, Kepala MAN 1 Sula, dewan guru dan staf tata usaha, rekan sejawat, para teman-teman di JS Coffe dan warkop Umakof, serta seluruh pihak yang telah memberi dukungan moral dan spiritual dalam perjalanan panjang ini.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Presidium dan Pengurus MD KAHMI Kepulauan Sula, para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan dunia pendidikan di Kabupaten Kepulauan Sula, saya menyampaikan penghargaan yang mendalam atas doa, dorongan, dan motivasi yang tidak pernah putus. Terima kasih juga kepada Istri dan anak-anak ku, segenap keluarga dan teman-teman yang telah menjadi bagian dari proses perjuangan ini, baik dalam suka maupun duka.
Dan tentu, saya menyadari bahwa dalam perjalanan akademik ini mungkin ada tutur kata, sikap, atau tindakan yang kurang berkenan di hati banyak pihak. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati, saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya.
Karena pada akhirnya, menjadi doktor bukan soal siapa yang paling tinggi ilmunya, tetapi siapa yang paling rendah hati dalam mengamalkan ilmunya, siapa yang paling tulus mengabdi, dan siapa yang paling ikhlas menerima setiap ujian sebagai jalan menuju kemuliaan ilmu.
Pare-Pare, 14 Oktober 2025.
Oleh: Mohtar Umasugi, yang baru saja menyelesaikan sidang promosi doktor di Universitas Muhammadiyah Parepare-Sulawesi Selatan.






