Saudara Tak Sedarah, Disatukan Dalam Doa

More articles

Tidak semua saudara lahir dari rahim yang sama. Ada kalanya, Allah pertemukan dua jiwa dalam takdir yang berbeda, namun disatukan dalam kasih, doa, dan keikhlasan. Inilah kisah tentang bagaimana seseorang yang tak memiliki hubungan darah bisa menjadi saudara—lebih dari sekadar nama, lebih dari sekadar pertemuan sesaat.

Saya ingin membagikan sebuah kisah yang mungkin sederhana, tapi penuh makna. Kisah ini bermula dari tahun 2011 dan terus berlanjut hingga sekarang. Nikmat yang begitu besar telah Allah titipkan—persaudaraan tanpa ikatan darah yang justru terasa lebih tulus dan mengikat.

Saya lahir dari keluarga sederhana, anak seorang sopir bus. Kehidupan keras membentuk saya, dan rasa cinta terhadap dunia transportasi, khususnya bus, tumbuh dengan sendirinya. Mungkin karena dari sinilah saya besar—dari keringat dan jerih payah ayah mengemudi dari kota ke kota.

Saat ini saya tergabung dalam beberapa komunitas pecinta bus (busmania), tapi ada satu grup yang begitu membekas: komunitas bus ALS. Di sinilah cerita persaudaraan itu bermula.

Tahun 2019, saya menulis sebuah artikel berjudul “Kisah Anak Sopir Bis”. Kisah itu saya bagikan di media sosial, dan rupanya tulisan itu begitu menyentuh salah seorang sopir ALS bernama Andri, yang berasal dari Penyabungan, Sumatera Utara. Ia merasa kisah saya seperti cerminan dirinya sendiri. Sejak saat itu, komunikasi kami makin intens. Ia selalu titip salam untuk anak-anak di panti, bahkan untuk anak bungsu saya, Ismail. Ia selalu menyapa saya dengan hangat dan penuh hormat.

“Bang, doakan Andri ya. Semoga banyak sewa dan selamat di jalan.”
Kalimat itu sering ia kirimkan lewat WA. Dan saya selalu membalas, “InsyaAllah, Andri. Abang doakan.”

Saya benar-benar mendoakan dia dalam setiap salat saya. Hingga suatu hari, ia mengabari bahwa bus yang ia bawa dari Medan ke Sibolga kosong tanpa penumpang. Ia merasa cemas, tapi saya tenangkan dengan doa. Saya minta pada Allah agar Andri diberi kelancaran dan rezeki di jalan. Dan benar saja, sore harinya ia mengirim WA lengkap dengan foto: “Bang, alhamdulillah, penuh sewa!”

Bagi saya, ini bukan semata tentang doa yang dikabulkan. Tapi bagaimana ikatan batin terbentuk dari ketulusan saling mendoakan—tanpa pamrih, tanpa pertemuan. Andri bahkan pernah berkata, “Abang tetap sehat ya. Andri setiap salat selalu doakan abang. Kita ini saudara kandung ya bang, walau tak sedarah.”

Kata-kata itu menembus hati saya.

Kami sering merencanakan pertemuan. Tapi selalu saja ada halangan—saya ke Madina, Andri di jalan. Andri masuk ke Bukittinggi, saya sedang ada agenda lain. Hingga akhirnya, Jumat siang, 12 November 2021, Andri mengabari bahwa ia akan berhenti di Sanjai Rizki, Bukittinggi.
“Bang, kalau bisa Sabtu pagi kita ketemu ya.”
Saya jawab, “InsyaAllah.”

Usai Subuh, saya pamit ke istri untuk bertemu Andri. Hati saya berdebar. Sesampainya di Sanjai, saya lihat bus ALS dengan nomor pintu yang biasa Andri bawa. Saya hubungi, tapi yang mengangkat justru kernet. Saya minta disampaikan ke Andri bahwa abangnya datang. Tak lama, Andri turun dan berlari ke arah saya. Kami berpelukan seperti dua saudara kandung yang lama terpisah. Beberapa penumpang yang menyaksikan pertemuan itu pun ikut terharu.

Andri memperkenalkan saya kepada seluruh kru dan sopir lain sebagai abang kandungnya dari Padang. Kami makan bersama, berbincang, dan menghabiskan waktu sekitar dua jam. Sebelum berpisah, Andri berkata,
“Sampai kapan pun, Andri adik abang. Abang harus sehat. Andri akan selalu doakan abang. Salam untuk kakak dan Ismail ya bang.”

Kami berpisah, tapi bukan sebagai dua kenalan di dunia maya. Kami berpisah sebagai dua saudara yang dipertemukan oleh kehendak Allah, disatukan oleh doa, dan diikat oleh rasa kasih yang murni.

Sahabat,
Kita tak perlu sedarah untuk menjadi saudara. Terkadang, doa yang tulus, perhatian yang ikhlas, dan rasa empati yang dalam cukup untuk menyatukan dua hati dalam ikatan spiritual yang kuat.

Dan di sinilah, letak keimanan seorang Muslim diuji: sejauh mana kita mencintai dan mendoakan sesama saudara kita—meski tak pernah bersua. Karena bisa jadi, doa yang kita panjatkan untuk orang lainlah yang membuka pintu-pintu langit untuk kita sendiri.

Semoga Allah mengijabah setiap doa yang kita panjatkan untuk saudara kita. Dan semoga setiap rasa tulus yang kita berikan, menjadi jembatan menuju kasih sayang-Nya.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Oleh: Hasneril, SE

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest