BREBES, investigasi.news – Komitmen TNI dalam membangun desa tidak hanya terbatas pada pembangunan fisik, tetapi juga pada penguatan kualitas sumber daya manusia dan perlindungan keluarga. Bertempat di Balai Desa Cikuya, Kecamatan Banjarharjo, Satgas TMMD Reguler ke-127 Kodim 0713/Brebes memfasilitasi kegiatan Sosialisasi Pencegahan Kekerasan Seksual pada Anak, Kamis (12/02/2026).
Bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3KB) Kabupaten Brebes, kegiatan ini menyasar para ibu rumah tangga dan penggerak PKK Desa Cikuya sebagai benteng utama perlindungan anak di lingkungan keluarga.
Hadir dalam kegiatan tersebut, perwakilan DP3KB Kab. Brebes, Ibu Nur Laela, Amd., didampingi Babinsa Koramil 14/Banjarharjo Sertu Nanang, Kepala Desa Cikuya Bapak Sekod, serta puluhan kader PKK setempat.
Dalam paparannya, Ibu Nur Laela menekankan pentingnya orang tua memberikan edukasi kesehatan reproduksi sejak dini kepada anak. Salah satu poin utamanya adalah mengenalkan batasan tubuh dan bagian pribadi yang tidak boleh disentuh oleh orang lain.
“Orang tua harus membangun komunikasi terbuka agar anak berani bercerita. Kita juga harus waspada terhadap modus manipulasi atau relasi kuasa yang sering digunakan pelaku untuk menjebak anak, termasuk memantau penggunaan internet mereka,” tegas Nur Laela.
Selain pencegahan, sosialisasi ini juga memperkenalkan Program Kesejahteraan Sosial Anak Integratif (PKSAI). Program ini berfungsi sebagai wadah perlindungan khusus bagi anak-anak yang rentan serta menjadi jalur resmi untuk melaporkan kasus kekerasan kepada pihak berwajib.
Terkait penanganan, narasumber menekankan bahwa jika terjadi kasus, hal terpenting yang harus dilakukan adalah memberikan rasa aman, pendampingan psikologis, dan proses pemulihan yang menyeluruh bagi korban, bukan justru memberikan stigma negatif.
Sertu Nanang berharap, melalui edukasi ini, Desa Cikuya dapat menjadi lingkungan yang ramah anak dan memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi terhadap segala bentuk ancaman kekerasan.
“Pembangunan fisik jalan dan jembatan penting, namun membangun kesadaran hukum dan perlindungan terhadap anak jauh lebih krusial untuk masa depan desa ini,” ungkapnya.
Kegiatan berlangsung interaktif dan ditutup dengan sesi diskusi bersama para ibu PKK yang tampak antusias memahami prosedur pelaporan dan pencegahan dini di lingkungan RT/RW masing-masing.(pen0713)






