Kota Solok, Investigasi.News – Aroma tradisi dan semangat kebersamaan menyatu dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-55 Kota Solok. Pada tahun 2025 ini, Pemerintah Kota Solok di bawah kepemimpinan Wali Kota Dr. Ramadani Kirana Putra bersama Wakil Wali Kota H. Suryadi Nirdal, S.H., menghadirkan Festival Malamang sebagai salah satu agenda unggulan yang digelar meriah di Halaman Kantor Kerapatan Adat Nagari Kota Solok.

Sebagai simbol dimulainya rangkaian kemeriahan, Festival Malamang secara resmi dibuka langsung oleh Wali Kota Solok yang didampingi para pemangku kepentingan (stakeholder) Pemerintah Kota Solok. Dalam sambutannya, Wali Kota menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada seluruh Bundo Kanduang yang turut menyemarakkan HUT Kota Solok melalui lomba malamang.

“Festival ini bukan sekadar perlombaan, tetapi juga wujud kecintaan kita terhadap tradisi Sumatera Barat sekaligus pengikat silaturahmi antarwarga. Kami berharap kegiatan ini berlangsung lancar, penuh sportivitas, dan membawa kebanggaan bagi Kota Solok,” ujar Wali Kota.

Suasana semakin semarak ketika Festival Malamang diikuti oleh kaum Bundo Kanduang dari 13 kelurahan se-Kota Solok. Kepulan asap dari bara api dan harum lemang yang sedang dimasak menciptakan daya tarik tersendiri, menggoda selera masyarakat yang melintasi kawasan Jalan Lubuak Sikarah. Festival ini pun menjelma menjadi tontonan budaya sekaligus pengalaman kuliner khas yang memikat.

Tak hanya bernilai hiburan, Festival Malamang juga sarat makna sejarah dan budaya. Tradisi malamang telah tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTbI) sejak tahun 2021, dengan domain adat istiadat, ritus, serta perayaan masyarakat. Malamang merupakan teknik memasak khas menggunakan bambu yang dibakar di atas bara api—sebuah proses yang sarat filosofi dan kebersamaan.
Malamang sendiri merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Sumatera Barat yang lazim dilakukan oleh kaum ibu. Tradisi ini berakar pada ajaran Syekh Burhanuddin, dan kerap diselenggarakan dalam momentum keagamaan, khususnya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Lemang dibuat dari perpaduan beras ketan putih dan santan, dimasukkan ke dalam bambu, lalu dimasak secara perlahan di atas tungku pembakaran khusus.

Hingga kini, tradisi malamang telah berlangsung selama ratusan tahun dan terus dilestarikan dari generasi ke generasi. Melalui Festival Malamang, Pemerintah Kota Solok tidak hanya merayakan usia kota yang ke-55, tetapi juga memperkuat identitas budaya sekaligus mempromosikan kekayaan tradisi lokal sebagai daya tarik wisata budaya Kota Solok.
(Wahyu)






