Ajibarang, Investigasi.news — Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, semangat kerja keras dan kemandirian masih melekat kuat pada sosok Narwin (58), warga Desa Kalibenda RT 006/001, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas. Sejak usia 16 tahun, Narwin sudah meniti jalan hidup yang diwariskan orang tuanya — memproduksi gula merah dari air kelapa secara tradisional.
“Dulu waktu masih sekolah, saya sudah ikut ayah dan ibu membuat gula merah. Kami hidup sederhana, tapi selalu diajarkan untuk bekerja jujur dan tidak bergantung pada orang lain,” kenang Narwin saat ditemui Investigasi.news, Jumat (17/10/2025).
Setelah kedua orang tuanya meninggal dunia, Narwin meneruskan usaha keluarga itu dengan peralatan sederhana. Ia memanjat pohon kelapa sendiri untuk mengambil nira, lalu memasaknya di dapur kecil menggunakan tungku kayu bakar dari batang pohon kebun miliknya. Proses memasak air kelapa itu memakan waktu hingga lima jam, sampai cairan nira benar-benar kental dan siap dicetak menjadi gula merah.
Dalam satu kali produksi, Narwin mampu menghasilkan sekitar 7 kilogram gula merah, yang dijual ke warung-warung sekitar dengan harga Rp16.000 per kilogram. Dengan hasil itu, ia bisa memperoleh pendapatan sekitar Rp112.000 per hari, cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarganya.
Bersama sang istri, Rastri, Narwin kini hidup sederhana bersama satu anaknya yang masih duduk di kelas 3 SMA Negeri 1 Ajibarang. Tiga anak lainnya telah tamat sekolah dan merantau ke luar daerah untuk bekerja. Meski hidup serba pas-pasan, keluarga ini tetap memegang teguh prinsip kerja keras dan kejujuran.
Namun, Narwin mengaku perjuangannya tidak mudah. Ia masih terkendala modal dan peralatan produksi yang terbatas. “Saya ingin punya alat masak yang lebih besar dan efisien supaya hasilnya lebih banyak. Sekarang semua masih manual, tapi saya tetap berusaha karena ini warisan keluarga,” tuturnya.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Banyumas dapat memberikan perhatian dan dukungan nyata kepada pelaku usaha kecil seperti dirinya. “Sampai sekarang belum pernah ada pejabat yang datang melihat langsung produksi kami. Padahal gula merah ini bisa jadi kebanggaan Banyumas kalau dibina dan diberi modal,” ujarnya dengan nada harap.
Pantauan Investigasi.news di lokasi, suasana rumah produksi Narwin begitu sederhana. Asap dari tungku kayu bakar mengepul, sementara Narwin dan istrinya tampak tekun mengaduk cairan nira yang mendidih. Kehangatan keluarga berpadu dengan semangat pantang menyerah dari tangan-tangan yang bekerja demi manisnya kehidupan.
Narwin berharap Pemkab Banyumas dapat menyalurkan bantuan modal, pelatihan usaha, dan pendampingan bagi pelaku UMKM lokal, agar produksi gula merah di Ajibarang bisa berkembang pesat. Ia juga berharap produk tradisional seperti gula merah air kelapa mendapat tempat di pasar yang lebih luas.
“Kalau ada bantuan dari pemerintah, saya ingin mengembangkan usaha ini dan membuka lapangan kerja bagi warga sekitar. Gula merah ini bukan hanya untuk dijual, tapi juga bagian dari identitas Banyumas yang harus dilestarikan,” ujarnya penuh keyakinan.
Kisah hidup Narwin adalah potret perjuangan warga kecil yang berjuang dengan tangan sendiri, menjaga tradisi, dan membangun harapan di tengah keterbatasan. Dukungan nyata dari pemerintah daerah akan menjadi energi baru bagi para pelaku usaha mikro seperti dirinya untuk terus bertahan dan berkembang.
Octa








