Malang, investigasi.news – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) resmi menyelesaikan renovasi Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, dengan total anggaran sebesar Rp 357 miliar. Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, mengungkapkan bahwa proyek besar ini tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga menjaga nilai sejarah dan kemanusiaan yang melekat pada stadion tersebut.
“Saya sengaja datang ke Stadion Kanjuruhan untuk melihat hasil renovasi. Prosesnya panjang, karena kami ingin memastikan bahwa nilai sejarah di tempat ini tetap hidup dan menjadi pengingat bagi generasi mendatang. Saat ini, stadion sedang dalam proses serah terima kepada Pemerintah Kabupaten Malang,” jelas Dody pada Minggu (19/1/2025).
Renovasi yang berlangsung sejak 4 September 2023 hingga 31 Desember 2024 ini dilakukan sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) dan telah diverifikasi kelayakannya oleh FIFA. Dody menegaskan bahwa stadion ini dipersiapkan untuk bertahan hingga 30-40 tahun ke depan.
“Semua sudah diperbaiki dan dicek oleh FIFA. Insya Allah, stadion ini akan menjadi tempat yang layak dan aman untuk digunakan dalam waktu panjang,” tambahnya.
Renovasi Stadion Kanjuruhan juga menjadi simbol penghormatan atas tragedi yang pernah terjadi di tempat ini. “Stadion ini bukan hanya soal fisik bangunan, tetapi juga tentang menjaga sejarah kemanusiaan. Kita tidak bisa mengukur nilai nyawa manusia dengan uang. Ini adalah warisan untuk anak cucu kita,” ujar Dody.
Proyek renovasi mencakup pembongkaran dan perkuatan struktur, renovasi bangunan stadion, lansekap, lintasan atletik, lapangan sepak bola, hingga instalasi mekanikal, elektrikal, dan perpipaan (MEP). Stadion kini memiliki kapasitas 21.603 tempat duduk, dengan Tribun Barat menampung 108 kursi VVIP, 2.465 VIP, 134 kursi media, dan 16 kursi difabel. Tribun Timur, Utara, dan Selatan masing-masing menyediakan ribuan tempat duduk.
Salah satu elemen penting yang dipertahankan adalah Gate 13, yang kini difungsikan sebagai museum. Selain itu, sebuah monumen dibangun untuk mengenang tragedi kelam di stadion ini dan sebagai pengingat agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Jawa Timur, Airyn Saputri Harahap, menjelaskan bahwa perkuatan struktur menjadi prioritas utama renovasi. “Struktur stadion sudah tidak layak, sehingga dilakukan perkuatan mulai dari micropile, pilecap, tiebeam, hingga jacketing kolom dan balok. Namun, kami tetap mempertahankan elemen-elemen bersejarah sebagai bentuk penghormatan,” tutup Airyn.
Dengan renovasi yang selesai, Stadion Kanjuruhan diharapkan menjadi ruang olahraga yang aman, modern, dan penuh makna sejarah, mengukuhkan posisinya sebagai salah satu ikon penting di Jawa Timur.
Guh


















