Ende, Investigasi.News – Kabupaten Ende mencatatkan diri sebagai peringkat kedua partisipasi Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) se-Provinsi NTT. Angka 59 persen itu tampak mencolok, membanggakan, dan terlihat sebagai bukti keberhasilan. Namun, realitas lapangan jauh lebih kompleks daripada sekadar statistik. Begitu roda kendaraan memasuki pesisir Pantai Ndori, kilau statistik tersebut mulai memudar. Di balik deretan angka, negara kembali menemukan paradoks lama: kebijakan hadir, tetapi belum sepenuhnya menjangkau.
Berdasarkan laporan Dinas Kominfo Kabupaten Ende, Gubernur NTT Melki Laka Lena pernah mengunjungi Puskesmas di Kecamatan Detusoko, Ende (04/04/2025). Kehadiran Gubernur bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan inspeksi terhadap akar persoalan, yakni validitas data kesehatan. “Kami meminta Camat Detusoko mendata ulang tahun warga secara menyeluruh,” tegasnya di hadapan petugas kesehatan. Instruksi ini menandai perubahan pola, dari program yang menunggu warga datang menjadi strategi proaktif. “Cek kesehatan gratis bukan hanya hadiah,” tambahnya, “tetapi bentuk cinta pemerintah kepada rakyat.”
Dalam perayaan Hari Kesehatan Nasional ke-61 Tingkat Kabupaten Ende di Puskesmas Rewarangga, Kecamatan Ende Timur, Plt. Kadis Kesehatan Ende, dr. Mariane Evelyn Pani, MPH, memaparkan capaian membanggakan: 28 puskesmas terakreditasi, dua fasilitas baru siap beroperasi, dan partisipasi CKG yang menembus 59 persen (Kominfo Kabupaten Ende). Dalam sambutan Menkes yang dibacakan Wakil Bupati Ende, Dr. Dominikus Minggu, CKG disebut sebagai upaya menggeser budaya medis dari kuratif ke preventif. Namun, di banyak desa, paradigma itu belum berubah. Warga tetap datang ke puskesmas hanya ketika sakit. Di titik inilah petugas lapangan—bidan, perawat, promotor kesehatan—menjadi penentu keberhasilan.
Angka tersebut meredup ketika dibandingkan dengan beberapa daerah di Kecamatan Ndori. Dalam investigasi lapangan, Bidan Suryanti Sarini menggambarkan fakta yang tidak tercatat dalam grafik. “Kadang yang datang hanya delapan atau sembilan orang. Ada yang antusias, tetapi banyak yang belum mengerti. Jaringan juga sering hilang, jadi informasi tidak sampai,” ujarnya saat diwawancarai (19/11/2025). Ketika Suryanti bersama beberapa bidan dan petugas kesehatan mengunjungi sejumlah kampung dan desa sekali sebulan, ruangan layanan tampak sepi.
Wajah sebenarnya program ini muncul ketika tenaga kesehatan bekerja melampaui prosedur untuk menutup celah yang ditinggalkan sistem. Kesenjangan di Ndori bukan hanya digital, tetapi juga kultural dan ekonomi. Seorang warga Wolomage, Desa Mole, mengaku tidak pernah menerima informasi program. “Saya sibuk kerja proyek. Kalau sakit baru ke puskesmas,” ujarnya. Seorang ibu di Desa Wonda menyampaikan hal serupa. “Di sini jaringan sering mati. Kalau ada program begitu, kami tidak tahu.” Mereka bukan menolak layanan kesehatan; mereka hanya tidak pernah benar-benar melihatnya hadir. Infrastruktur digital yang lemah, literasi kesehatan rendah, jadwal kerja agraris yang padat, dan pola sosialisasi birokratis tidak menyentuh akar komunitas.
Fakta ini memunculkan pertanyaan filosofis: “Apakah sebuah kebijakan bisa disebut berhasil jika mereka yang paling membutuhkan justru tidak tersentuh manfaatnya?” Petugas kesehatan telah bekerja pada ruang yang tidak dijangkau kebijakan. Untuk menutup celah itu, sejumlah langkah telah diterapkan, tetapi belum efektif. Pertama, sosialisasi multi-saluran: bukan hanya media sosial, tetapi juga pengeras suara masjid atau gereja, mobil keliling, hari pasar, posko bulanan, dan rapat RT. Kedua, keterlibatan tokoh komunitas—tokoh adat, ketua lingkungan, pendeta, pastor, dan kelompok pemuda—sebagai simpul komunikasi yang paling dipercaya. Ketiga, basis data komunitas: instruksi Gubernur tentang pendataan ulang warga harus diadopsi seluruh kecamatan. Dengan data yang presisi, petugas dapat mengundang warga satu per satu, bukan sekadar menunggu.
Angka 59 persen partisipasi CKG di Ende adalah kabar baik, tetapi bukan kabar lengkap. Statistik hanyalah kulit luar. Di dalamnya ada jurang informasi, hambatan jaringan, dan ritme hidup masyarakat yang tidak pernah disesuaikan dengan cara negara menyampaikan pesan. Kesaksian warga menunjukkan bahwa di balik setiap angka ada manusia yang menunggu dijangkau. Pada akhirnya, pekerjaan rumah pembangunan selalu sama: mengubah prestasi statistik menjadi keberhasilan yang sungguh-sungguh dirasakan rakyat.
Severinus T. Laga








