Situbondo, investigasi.news – Genap satu tahun pasangan Bupati dan Wakil Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo dan Ulfiyah, memimpin Kabupaten Situbondo. Momen ini dimaknai sebagai waktu evaluasi menyeluruh terhadap arah pembangunan dan capaian program prioritas yang telah dijalankan.
Dalam keterangannya, Mas Rio menegaskan bahwa fondasi utama kepemimpinannya bersama Mbak Ulfi adalah keberpihakan pada masyarakat kecil. Sejak awal, keduanya bersepakat bahwa pengentasan kemiskinan harus menjadi prioritas sebelum melangkah ke program-program lain yang bersifat simbolik.
Menurut Mas Rio, kemiskinan merupakan persoalan mendasar yang berdampak pada hampir seluruh aspek kehidupan warga, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga akses terhadap lapangan kerja. Karena itu, strategi pembangunan difokuskan pada upaya konkret yang bisa menekan angka tersebut.
Hasilnya, dalam lima bulan pertama masa jabatan, angka kemiskinan di Situbondo tercatat turun sebesar 0,34 persen. Penurunan ini disebut sebagai capaian awal yang memberikan optimisme terhadap arah kebijakan yang ditempuh.
Tidak hanya itu, indikator ekonomi makro lainnya juga menunjukkan perbaikan. Pertumbuhan ekonomi daerah mengalami peningkatan, tingkat pengangguran terbuka menurun, dan gini ratio membaik sebagai tanda berkurangnya kesenjangan pendapatan.
Mas Rio mengakui, perjalanan tahun pertama tidak sepenuhnya mulus. Latar belakang politik yang dimilikinya bersama Mbak Ulfi membuat keduanya harus beradaptasi dengan sistem birokrasi pemerintahan yang memiliki dinamika tersendiri.
Ia menyebut tahun pertama sebagai fase pembelajaran dan konsolidasi internal. Banyak hal teknis yang perlu dipahami agar kebijakan yang dirancang bisa dieksekusi secara efektif di lapangan.
Dalam proses tersebut, Mas Rio memilih pendekatan kolaboratif. Ia tidak serta-merta melakukan perombakan besar di jajaran organisasi perangkat daerah, melainkan membangun komunikasi intensif untuk menyamakan persepsi.
Menurutnya, perubahan yang berkelanjutan tidak bisa dibangun dengan langkah drastis semata. Diperlukan integrasi antara visi politik kepala daerah dan kemampuan teknis aparatur birokrasi.
Seiring berjalannya waktu, ia menilai sinergi tersebut mulai terbentuk. Aparatur pemerintahan dinilai semakin memahami arah kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat.
Mas Rio juga menegaskan bahwa dirinya tidak ingin terjebak pada euforia penghargaan atau proyek-proyek fisik semata. Baginya, ukuran keberhasilan terletak pada data yang menunjukkan perbaikan kualitas hidup masyarakat.
Ia bahkan mengaku lebih bangga memaparkan angka penurunan kemiskinan dan pengangguran dibandingkan meresmikan bangunan megah. Menurutnya, pembangunan fisik hanyalah sarana, bukan tujuan akhir.
Dalam suasana santai, ia sempat melontarkan candaan bahwa hampir semua program sudah terealisasi dalam satu tahun ini—“kecuali mendatangkan Sheila On Seven.” Namun ia menegaskan, esensi kepemimpinan adalah kerja nyata, bukan hiburan.
Selain sektor ekonomi, perhatian pemerintah daerah juga tertuju pada isu lingkungan, terutama pengelolaan sampah. Masalah ini dinilai berpengaruh langsung terhadap kualitas hidup dan kesehatan masyarakat.
Pemkab Situbondo mendorong perubahan pola pikir masyarakat agar mulai memilah sampah dari rumah. Edukasi dilakukan melalui desa, sekolah, hingga kelompok masyarakat agar kesadaran tumbuh secara kolektif.
Di sisi kebijakan, optimalisasi bank sampah dan TPS3R diperkuat untuk mengurangi beban tempat pembuangan akhir. Skema ini juga diharapkan membuka peluang ekonomi baru berbasis pengelolaan sampah.
Mas Rio menilai persoalan lingkungan tidak bisa diselesaikan pemerintah sendiri. Diperlukan kolaborasi lintas sektor, termasuk dukungan swasta dan partisipasi aktif masyarakat.
Ia menghubungkan kebersihan lingkungan dengan efisiensi biaya kesehatan. Lingkungan yang sehat diyakini dapat meningkatkan produktivitas warga sekaligus berkontribusi pada pengurangan kemiskinan.
Dalam evaluasi internal, pemerintah juga memetakan titik-titik rawan penumpukan sampah dan membenahi sistem pengangkutan. Langkah ini diharapkan membuat penanganan lebih cepat dan terukur.
Mas Rio mengakui bahwa tantangan ke depan masih besar. Namun ia optimistis, dengan pendekatan bertahap dan konsisten, Situbondo akan bergerak menuju pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Menutup refleksi setahun kepemimpinannya, Mas Rio menegaskan bahwa seluruh agenda pembangunan bermuara pada satu cita-cita: menghadirkan kesejahteraan yang nyata dan merata bagi seluruh masyarakat Situbondo. (Agus)








