Agam – Malam yang seharusnya menjadi waktu beristirahat berubah menjadi petaka bagi Murni Nurcahayani (50), warga Jorong Lambeh, Nagari Ampek Koto, Kecamatan Palembayan. Rumah kayu yang selama ini menjadi tempat berteduh dan menyimpan seluruh kenangan keluarganya hangus dilalap api dalam kebakaran yang terjadi pada Jumat (19/6/2026) sekitar pukul 21.15 WIB.
Kobaran api yang cepat membesar membuat bangunan rumah tidak dapat diselamatkan. Warga sekitar berupaya memadamkan api sambil menyelamatkan barang-barang yang masih bisa dievakuasi. Setelah berjibaku bersama petugas, api akhirnya berhasil dikendalikan dan tidak merembet ke bangunan lain.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kebakaran tersebut meninggalkan luka mendalam bagi korban. Rumah beserta sebagian besar harta benda yang dikumpulkan selama bertahun-tahun musnah dalam hitungan jam. Kerugian ditaksir mencapai Rp100 juta.
Di tengah suasana duka yang menyelimuti keluarga korban, Pemerintah Kabupaten Agam melalui Dinas Sosial bergerak cepat turun ke lokasi. Tim Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial (Linjamsos) langsung melakukan asesmen sekaligus menyerahkan bantuan kebutuhan dasar kepada korban.
Pekerja Sosial Dinas Sosial Agam, Feri Dunda, S.IP, didampingi Endri Fiondra, SH, menyerahkan bantuan berupa beras, telur, minyak goreng, gula pasir, teh, mi instan, makanan siap saji, terpal, tikar, kitchen kit, dan family kit.
“Bencana datang tanpa memberi tanda. Karena itu negara harus menjadi pihak pertama yang hadir ketika masyarakat kehilangan tempat berlindung dan rasa aman. Bantuan ini kami serahkan agar korban dapat segera memenuhi kebutuhan paling mendasar sambil menata kembali kehidupannya,” ujar Feri.
Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Agam, Azmar, menegaskan bahwa musibah kebakaran bukan hanya soal bangunan yang terbakar, tetapi juga tentang hilangnya rasa aman, kenyamanan, dan harapan yang selama ini dibangun keluarga korban.
“Ketika sebuah rumah terbakar, yang hilang bukan sekadar dinding dan atap. Di dalamnya ada hasil kerja bertahun-tahun, ada kenangan keluarga, ada rasa tenang yang mendadak lenyap. Karena itu, tugas kami bukan hanya mengantarkan bantuan, tetapi memastikan korban merasakan bahwa mereka tidak sedang menghadapi musibah ini sendirian,” kata Azmar.
Menurutnya, kehadiran pemerintah dalam situasi darurat harus lebih dari sekadar formalitas administrasi.
“Kecepatan penanganan sangat menentukan kondisi psikologis korban. Saat seseorang kehilangan rumahnya dalam satu malam, yang paling dibutuhkan bukan hanya logistik, tetapi juga kepastian bahwa ada tangan yang siap membantu mereka bangkit kembali. Itulah yang ingin kami hadirkan melalui respons cepat ini,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Agam, Villa Erdi, mengatakan setiap musibah yang menimpa warga merupakan panggilan kemanusiaan yang harus dijawab dengan tindakan nyata, bukan sekadar rasa prihatin.
“Kami memahami bahwa tidak ada bantuan yang mampu menggantikan seluruh kerugian yang dialami korban. Namun yang ingin kami pastikan adalah masyarakat tidak merasa ditinggalkan ketika cobaan datang. Dalam situasi seperti ini, pemerintah harus hadir bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga membawa harapan bahwa kehidupan masih bisa dibangun kembali,” ujar Villa Erdi.
Ia menegaskan, Dinas Sosial Agam akan terus berkoordinasi dengan pemerintah nagari, kecamatan, TKSK, dan berbagai pihak terkait untuk memastikan kebutuhan korban pascakebakaran dapat ditangani secara berkelanjutan.
“Musibah memang tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya bisa diperingan melalui kepedulian dan gotong royong. Kami percaya kekuatan masyarakat Agam selalu lahir dari kebersamaan. Karena itu kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut memberikan dukungan kepada keluarga korban agar dapat segera bangkit dari masa sulit ini,” tuturnya.
Penyaluran bantuan turut disaksikan oleh TKSK dan perangkat Jorong Lambeh yang sejak awal ikut mendampingi proses penanganan korban.
Daji







