Malut, Investigasi.news – Seandainya harus diberikan kritik terhadap organisasi pemuda terbesar ini adalah belum concernnya mereka pada keadaan pemuda marginal. Misalnya, teringat pada generasi muda yang menjadi pengangguran kampung miskin, bagian dari jati diri KNPI. Mereka menjadi asing dalam rumusan program kerja dan seolah-olah secara historis maupun praktis menjadi kurang relevan.
Oleh karena itu, KNPI tak terlalu terpanggil untuk melakukan sesuatu yang sifatnya kultural. (A. Malik Ibrahim)
Banyaknya masalah Kesenjangan sosial, juga Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang ada di Kabupaten Kepulauan Sula saat ini menjadi BIG PROBLEM dalam mewujudkan Kesejahteraan, Keadilan dan Kemakmuran bagi masyarakat Kabupaten Kepulauan Sula yang ada di pulau Sulabesi dan Mangoli sekaligus menjadi penghambat utama dalam kemajuan suatu daerah menjadi PR bagi tiap-tiap stakeholder terutama Pemerintah Daerah.
Kritikan ini hendak saya berikan kepada Pengurus Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Kepulauan Sula dibawah Kepemimpinan Rifai Umasugi dan Samsul Agus Banapon. Saya merasa peran KNPI Kepulauan Sula mengalami kemandulan, mati suri hingga nyaman dalam pangkuan penguasa. Tak lupa saya juga mengutip beberapa tulisan daripada tokoh pemuda dan tokoh aktivis yang cenderung peduli terhadap masalah sosial.
Sekilas meneropong perjalanan berbagai organisasi kepemudaan dan organisasi kemasyarakatan yang ada di Republik Indonesia wabil khusus di Kabupaten Kepulauan Sula Provinsi Maluku Utara, mengulas berbagai bentuk kekusutan, tindakan pengingkaran, serta beragam inkonsistensi sikap yang dipertontonkan organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan tanpa merasa berhianat pada masyarakat, menjadi diskusi yang menarik untuk dipertanyakan.
Fenomena yang sangat nampak terlihat saat ini dalam praktek mengungkap dan menakar kembali peran organisasi Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), yang tidak lain adalah sebagai wadah berhimpunnya kaum pemuda. Tentunya, sebagai suatu wahana pemersatu para pemuda dan pemudi, KNPI mestinya mampu mengambil peran vitalnya dalam mengakomodir, mencerdaskan, mensolidkan, mengasah rasa solidaritas kaum muda, serta mendamaikan segala pertentangan yang muncul ditengah-tengah masyarakat.
Jika menggali kebijakan dan agenda yang dilakukan KNPI Kabupaten Kepulauan Sula, hingga saat ini rasanya KNPI masih menutup mata dengan ketimpangan sosial yang dihadapi masyarakat. Padahal, kehadiran KNPI dan perannya begitu besar dibutuhkan masyarakat.
Masalah seperti kelangkaan BBM, masalah sampah yang tak kunjung selesai, masalah Pendidikan, Ekonomi, Kesehatan, Pembangunan Infrastruktur dan yang lainnya yang merugikan masyarakat, sayangnya KNPI tak mampu hadir menjadi agen terdepan dan mendatangkan solusi dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat. KNPI semestinya berpihak pada masyarakat sebenarnya, bukan kembali menjadi bagian yang berbeda dan memusuhi masyarakat, atau secara perlahan-lahan mendorong masyarakat pada jurang pembodohan, rekayasa, dan pembohongan massal.
Begitupun, sangat sulit kita temukan KNPI Sula yang melakukan kegiatan dan
melibatkan seluruh komponen masyarakat, turut berdemonstrasi bersama-sama masyarakat, bekerja bersama dengan masyarakat, serta berupaya untuk meningkatkan partisipasi masayarakat dalam kerja-kerja kepemerintahan. KNPI, harus mampu merumuskan program dan kegiatan yang mampu mengakomodasi aspirasi serta prakarsa anggota maupun masyarakat sekitarnya, sehingga keberadaannya benar-benar dirasakan dan dibutuhkan.
KNPI Sula yang seharusnya menjadi Navigasi bagi OKP Cipayung Plus di Kepulauan Sula serta pemuda untuk mengawal agenda serta kebijakan pemerintah daerah yang pro terhadap kepentingan rakyat malah menjadi pembantu dan pesuruh partai politik serta elit birokrasi demi kepentingan kelompok. Peran KNPI ditingkat daerah seharusnya mampu memberikan pengaruh positif bagi OKP yang ada. Saya pun menyayangkan jika organisasi ini hanya dijadikan alat untuk mencapai momentum semata demi membantu para penguasa melanggengkan kedzaliman mereka terhadap masyarakat.



















