Malut, Investigasi.News-, Tujuan utama reses anggota DPD-RI adalah untuk mengunjungi daerah pemilihan (dapil) guna menyerap, menghimpun, dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat serta memantau pelaksanaan kebijakan di daerah. Kegiatan ini merupakan kewajiban konstitusional di luar masa sidang untuk memastikan kepentingan daerah terwakili di tingkat pusat, namun hal demikian sangat berbeda 180 derajat dengan yang dilakukan Dr. Graal Taliawo bersama timnya yang melakukan reses di Kabupaten Kepulauan Sula, pasalnya banyak masyarakat yang mengeluh hanya ’dikasih pusing’ oleh senator yang dikenal dengan ’politik gagasannya’.
Dari informasi yang dihimpun media ini minimal ada 3 agenda Dr. Graal yang kemudian batal dan berimbas kepada kekecewaan masyarakat.
Yang pertama janji menggelar reses di Desa Pohea, tapi ketika ditawarkan balai Kecamatan sebagai titik reses, staf dari Dr. Graal infonya menolak dengan alasan tidak tersedia budget untuk menyewa balai Kecamatan, padahal baik gedung balai Kecamatan dan sound sistem disediakan secara gratis oleh pemerintah Kecamatan Sanana Utara, alhasil masyarakat kecewa.
“Kita siapkan tempat yang baik, dan masyarakat siap hadir tapi entah bagaimana maunya mereka”, ujar Camat Sanana Utara M. Iwan Usia.
Kemudian yang kedua, rencana Dr. Graal reses di Desa Kou, Kecamatan Mangoli Timur, disana pemerintah Desa dan Masyarakat sudah menyiapkan makanan dan berbagai kebutuhan reses anggota DPD-RI ini, terkahir malah batal, jelas masyarakat disana sangat kecewa.
“Kita sudah masak dan menyiapkan berbagai hidangan, tapi terakhir malah tidak datang”, pungkas salah satu masyarakat Desa dengan nada kecewa.
Yang terkahir atau yang ke-3, rencana senator ini menyapa insan Pers di Sula, awalnya sudah disampaikan stafnya di Caffe J di Desa Fatce, belakangan begini tempat dialihkan ke Caffe B di Fagudu, terakhir berubah lagi mau digelar di Pantai Wai Ipa, alhasil insan pers juga kecewa dan memboikot agenda Dr. Graal.
“Harusnya diatur dengan baik, komunikasi juga pakai etika, kita saling menghormati lah, bukan malah seperti ini”, tegas salah satu jurnalis di Sula.
Insan Pers menilai, komunikasi yang dibangun oleh Dr. Graal maupun para stafnya sangat tidak konsisten, yang kemudian menjadi preseden buruk bagi masyarakat di Kepulauan Sula.



















