MALANG — Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Gondanglegi periode 2026–2031 resmi dilantik di Pondok Pesantren Al-Rifa’ie 2, Desa Ketawang, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Minggu (23/8/2026).
Pelantikan tersebut bukan sekadar pergantian kepengurusan. Momentum ini menjadi penanda dimulainya babak baru bagi MWCNU Gondanglegi untuk memperkuat kelembagaan, memperluas manfaat program kepada masyarakat, sekaligus membangun kemandirian ekonomi organisasi.
Selain jajaran pengurus MWCNU, sejumlah lembaga di bawah naungan MWCNU Gondanglegi juga turut dilantik. Di antaranya Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU), lembaga takmir masjid, serta Takmir Masjid An-Nahdhah.
Ketua Tanfidziyah MWCNU Gondanglegi, Muhammad Shodiq, S.Pd.I., mengatakan kepengurusan periode 2026–2031 merupakan periode kedua yang dipercayakan kepadanya. Sebelumnya, ia memimpin MWCNU Gondanglegi pada periode 2021–2026.
“Alhamdulillah, ini pelantikan untuk periode kedua. Perbaikan-perbaikan terus kami lakukan. Ke depan, MWCNU Gondanglegi juga ingin terus mendandani perekonomian agar organisasi bisa semakin mandiri,” ujar Shodiq.
Menurutnya, penguatan organisasi tidak hanya dilakukan di tingkat MWCNU. Struktur NU juga terus dikembangkan hingga tingkat ranting dan anak ranting sesuai kebutuhan serta kondisi masing-masing wilayah.
Keberadaan struktur organisasi hingga tingkat paling bawah tersebut dinilai penting agar program-program NU tidak berhenti di tingkat kepengurusan, tetapi benar-benar hadir dan dirasakan masyarakat.
“Ranting juga dapat mengembangkan kepengurusan hingga anak ranting sesuai kebutuhan dan kondisi wilayah masing-masing. Dengan begitu, program NU bisa semakin dekat dengan masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua PCNU Kabupaten Malang, KH Muhammad Hamim Kholili, berharap kepengurusan baru MWCNU Gondanglegi mampu menerjemahkan berbagai program yang telah direncanakan ke dalam kegiatan nyata.
Ia mengingatkan agar program organisasi tidak berhenti sebatas konsep maupun agenda di atas kertas. Menurutnya, program yang sederhana tetapi terlaksana dan memberikan manfaat akan jauh lebih berarti bagi masyarakat.
“Dalam periode kedua MWCNU Gondanglegi ini, kita harapkan program-program yang sudah dicanangkan bisa benar-benar dilaksanakan. Tidak perlu muluk-muluk terlalu tinggi, yang penting programnya bisa berjalan,” kata KH Hamim.
Ia mencontohkan gagasan kegiatan pengajian atau kegiatan keagamaan secara bergilir di desa-desa yang disampaikan Bupati Malang. Menurutnya, program tersebut realistis untuk dikembangkan melalui sinergi MWCNU bersama jajaran ranting.
“Seperti pengajian akbar yang dicetuskan Pak Bupati, itu sebenarnya bisa dilaksanakan oleh MWCNU dan ranting-ranting. Kita harapkan nanti bisa berjalan dengan baik,” tambahnya.
Bupati Dorong Perubahan dan Inovasi
Dalam sambutannya, Bupati Malang menekankan bahwa kepengurusan baru MWCNU Gondanglegi tidak boleh hanya melanjutkan rutinitas organisasi. Ia mendorong lahirnya perubahan, inovasi, serta kegiatan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Menurutnya, organisasi keagamaan harus mampu membaca kebutuhan masyarakat dan menghadirkan program yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Harus ada perubahan, harus ada inovasi, harus ada kegiatan yang tidak sama. Hari ini harus lebih baik dari kemarin,” tegasnya.
Bupati juga mendorong MWCNU Gondanglegi agar memperluas kegiatan di luar rutinitas organisasi. Salah satu gagasan yang ditawarkan adalah pelaksanaan pengajian keliling di desa-desa selama beberapa bulan dalam satu tahun.
Program tersebut dinilai dapat menjadi sarana mempererat hubungan antara pengurus NU, tokoh agama, pemerintah desa, serta masyarakat sekaligus memperkuat syiar keagamaan di tingkat akar rumput.
“Setelah dilantik, harus bergerak. Saya berharap MWCNU bisa bergerak ke depan dan membuat kegiatan yang manfaatnya dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Integritas Jadi Landasan Pengurus
Selain mendorong inovasi, Bupati Malang juga menekankan pentingnya integritas dalam menjalankan amanah organisasi. Menurutnya, pemimpin maupun pengurus harus memiliki komitmen kuat terhadap aturan dan nilai-nilai agama.
Ia menilai integritas menjadi salah satu fondasi penting untuk mencegah berbagai penyimpangan, termasuk korupsi dan pelanggaran terhadap aturan.
“Integritas itu, dalam bahasa agama, adalah takwa. Menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Apa yang dilarang agama dan aturan jangan dilakukan, sedangkan yang diperintahkan harus dijalankan,” jelasnya.
Pesan tersebut diharapkan menjadi pegangan bagi seluruh pengurus MWCNU Gondanglegi dalam menjalankan amanah organisasi selama lima tahun ke depan.
Pelantikan MWCNU Gondanglegi periode 2026–2031 pun menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara NU, pesantren, tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat.
Dengan kepengurusan baru, MWCNU Gondanglegi diharapkan tidak hanya semakin solid secara kelembagaan, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak kegiatan keagamaan, sosial, pendidikan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Tantangan ke depan tentu tidak ringan. Namun, dengan semangat perubahan, inovasi, integritas, dan kemandirian, MWCNU Gondanglegi diharapkan mampu menghadirkan keberadaan organisasi yang semakin nyata dan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat. (Teguh)








