Peringatan Hari Susu Nasional, Pakar Undana: Semoga Susu Tak Lagi Jadi Barang Mewah!

More articles

Kupang, Nusa Tenggara Timur — Kamis (23/10/2025) Di negara dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa, segelas susu masih menjadi kemewahan bagi banyak keluarga. Konsumsi susu masyarakat Indonesia tercatat jauh di bawah rata-rata negara ASEAN. Padahal, di balik segelas susu tersimpan nutrisi penting yang berperan besar dalam tumbuh kembang anak, peningkatan daya tahan tubuh, hingga pencegahan stunting — masalah klasik yang masih menghantui negeri ini.

Data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa konsumsi susu nasional baru mencapai sekitar 16 liter per kapita per tahun, jauh di bawah negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand yang sudah mencapai 30–40 liter. Fenomena ini, menurut Prof. Dr. Ir. Apris A. Adu, S.Pt., M.Kes., Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, merupakan sinyal serius bagi masa depan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

“Susu merupakan kebutuhan dasar dalam masa pertumbuhan anak-anak kita. Hari ini kita melihat bahwa tingginya angka stunting juga salah satunya dipengaruhi oleh rendahnya konsumsi susu,” ujar Prof. Apris dalam rangka Peringatan Hari Susu Nasional, yang diperingati setiap bulan Oktober.


Faktor Ekonomi dan Persepsi Sosial

Menurut Prof. Apris, rendahnya konsumsi susu di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor yang saling berkaitan, mulai dari ekonomi hingga persepsi sosial.

“Masalah ekonomi tentu kembali pada kemampuan rumah tangga untuk membeli susu,” jelasnya.

Selain faktor ekonomi, masih terdapat persepsi keliru di masyarakat bahwa minum susu sama seperti minum teh atau kopi, padahal nilai gizinya jauh berbeda. Hal ini menunjukkan masih lemahnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya konsumsi susu.

“Kita harus mulai dari kesadaran. Anak-anak harus tumbuh dengan budaya minum susu,” tegasnya.


Dampak Langsung terhadap Generasi Muda

Rendahnya konsumsi susu berimplikasi langsung pada kondisi gizi dan perkembangan anak. Dalam perspektif kesehatan masyarakat, kekurangan asupan protein hewani seperti susu menjadi salah satu penyebab tingginya angka stunting di Indonesia.

“Susu bukan hanya minuman pelengkap, tapi sumber gizi utama yang menunjang perkembangan otak, tulang, dan gigi anak-anak agar tumbuh lebih sehat dan kuat,” tutur Prof. Apris.


Tantangan Produksi dan Keterbatasan Wilayah

Selain konsumsi, Prof. Apris juga menyoroti tantangan dalam produksi susu dalam negeri. Indonesia masih bergantung pada impor karena tidak semua wilayah memiliki kondisi yang mendukung untuk beternak sapi perah.

“Ternak sapi penghasil susu tidak bisa dikembangkan di semua daerah. Ia memerlukan suhu yang sejuk, seperti di kawasan Bogor,” jelasnya.

Di Nusa Tenggara Timur sendiri, peternakan sapi perah masih terbatas dalam skala kecil untuk konsumsi rumah tangga. Karena itu, pemerintah perlu menyiapkan bibit sapi unggul yang mampu beradaptasi dengan iklim lokal agar produksi susu meningkat dan berkualitas.


Tiga Strategi Peningkatan Konsumsi dan Produksi

Menurut Prof. Apris, diperlukan tiga strategi utama untuk memperkuat budaya minum susu sekaligus meningkatkan kemandirian produksi susu nasional:

  1. Edukasi Gizi Sejak Dini
    Edukasi harus dimulai dari keluarga dan sekolah. Pemerintah, akademisi, dan media perlu berkolaborasi membangun literasi gizi agar masyarakat memahami manfaat susu secara ilmiah dan praktis.
  2. Riset dan Inovasi Peternakan Lokal
    Akademisi memiliki peran penting menciptakan solusi berbasis riset untuk pengembangan peternakan sapi perah.

    “Hasil riset harus bisa dihilirisasi agar bermanfaat bagi industri dan masyarakat,” jelasnya.

  3. Kolaborasi Antar Sektor dan Pemerataan Akses
    Pemerintah, perguruan tinggi, LSM, dan media harus bersinergi agar anak-anak dari Sabang hingga Merauke memiliki akses terhadap susu bergizi dengan harga terjangkau.

    “Anak-anak dari pesisir hingga Pulau Rote harus bisa menikmati susu dengan harga murah dan kualitas baik,” tuturnya.


Membangun Generasi Sehat dan Cerdas

Sebagai akademisi dan ahli kesehatan masyarakat, Prof. Apris menegaskan bahwa peningkatan konsumsi susu bukan sekadar urusan gizi, melainkan investasi masa depan bangsa.

“Kita ingin menciptakan anak-anak Indonesia yang unggul, terampil, dan sehat — bukan hanya secara fisik, tapi juga mental,” ungkapnya.

Ia menutup pernyataannya dengan pesan kuat:

“Mari kita biasakan minum susu. Dengan memberikan asupan bergizi bagi anak-anak, kita sedang membangun generasi yang unggul, sehat, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045.”***

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest