Malut, Investigasi.News-, Setelah mengikuti diskusi lepas di Grup WA Munara Kongres mengenai kandidat Ketua PP HPMS untuk Kongres 22 Desember 2025 nanti, saya melihat dinamika yang cukup menarik. Sebagian anggota grup menanggapi isu ini dengan sangat serius, mempertimbangkan kapasitas kandidat, rekam jejak, serta arah organisasi ke depan. Sementara sebagian lainnya merespons dengan nada humoris, mencairkan suasana dan menjaga diskusi tetap hangat dan penuh keakraban.
Dua corak respons ini mencerminkan wajah asli keluarga besar HPMS: kritis, cair, namun tetap memiliki rasa saling menghargai dalam perbedaan. Yang serius mengingatkan bahwa organisasi sebesar HPMS membutuhkan pemimpin yang tidak hanya populer, tetapi juga visioner. Sementara yang humoris menjaga agar dinamika tidak berubah menjadi ketegangan. Keduanya adalah energi yang, jika dikelola dengan baik, dapat memperkaya proses demokrasi internal HPMS.
Namun di balik semua itu, ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan: HPMS memiliki tanggung jawab moral dan sejarah terhadap pemekaran Kabupaten Kepulauan Sula. Organisasi ini bukan hanya wadah berkumpulnya mahasiswa dan alumni, tetapi bagian dari aktor sejarah yang turut memperjuangkan identitas dan masa depan Sula. Karena itu, siapapun kandidat yang didiskusikan, dan bagaimana pun gaya diskusi yang berlangsung, sudah seharusnya kita semua mengedepankan akal sehat dalam berpikir.
Akal sehat diperlukan agar pembahasan tidak terjebak pada euforia kandidat, bukan pula pada candaan semata, tetapi pada kesadaran bahwa memilih Ketua PP HPMS adalah memilih arah perjuangan. Kita membutuhkan pemimpin yang paham sejarah organisasi, mengerti nilai perjuangan pendahulu, dan mampu menerjemahkannya menjadi agenda konkret untuk pembangunan Sula hari ini dan ke depan.
Dalam analisis saya, dinamika yang muncul di grup ini sebenarnya adalah tanda baik—sebuah wujud bahwa kesadaran politik dan keorganisasian sedang hidup. Namun kesadaran itu harus diarahkan pada tujuan yang lebih besar: menjaga marwah HPMS sebagai organisasi yang lahir dari spirit perubahan dan bertanggung jawab atas masa depan daerah yang pernah diperjuangkannya.
Pada akhirnya, diskusi ini bukan sekadar adu nama atau adu kandidat, tetapi ajakan untuk kembali pada akal sehat dan nurani sejarah. Agar dari proses inilah lahir Ketua PP HPMS yang mampu membawa organisasi ini tetap tegak dalam moral perjuangan dan relevan dalam dinamika pembangunan Kepulauan Sula.
Penulis: Mohtar Umasugi






