Pasar Payakumbuh Membara, Pedagang Curiga Ada Unsur Kesengajaan dan Kelalaian

More articles

Payakumbuh, Investigasi.news – Kebakaran besar kembali melanda kawasan Pusat Pertokoan Pasar Payakumbuh Blok Barat pada Selasa (26/8/2025) subuh. Amukan api menghanguskan sekitar 300 unit toko, kios, dan paluang. Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan kerugian besar bagi pedagang, tetapi juga memunculkan dugaan kuat adanya unsur kesengajaan maupun kelalaian.

Ketua Ikatan Pedagang Pasar Payakumbuh (IP3), H. Esa Muhardanil, dalam jumpa pers di Balai Wartawan Luak Limopuluah, Selasa sore, menegaskan bahwa kebakaran kali ini bukan kejadian tunggal. Sebelumnya, sudah terjadi tujuh kali percobaan maupun insiden kebakaran di kawasan pasar, meski sebagian berhasil digagalkan petugas ronda.

“Ini bukan kebakaran pertama. Sudah tujuh kali terjadi, ada yang bisa dicegah, tapi ada juga yang sempat menghanguskan beberapa petak toko. Kali ini lebih parah, 300 unit terbakar habis,” tegas H. Esa, didampingi pengurus IP3, di antaranya Ady Surya dan John Bahar.

Menurutnya, pola kebakaran kali ini berbeda dari sebelumnya. Jika dulu sumber api berasal dari bawah, kali ini api justru muncul dari atas sehingga sulit dipadamkan.
“Sekarang dibakar dari atas, sehingga tidak bisa diantisipasi petugas ronda maupun pedagang,” ungkapnya.

Ia juga memaparkan sejumlah indikasi mencurigakan dari kejadian-kejadian sebelumnya. Di Blok Timur, ditemukan upaya pembakaran dengan menaruh gulungan obat nyamuk di atas sekring listrik agar menimbulkan korsleting. Di Blok C, sempat terjadi kebakaran di tiga titik sekaligus, yang beruntung cepat diketahui ronda malam. Bahkan, toko milik pedagang bernama Kenalan dan H. Yusri pernah jadi sasaran api.

H. Esa juga menyinggung bahwa sebelum peristiwa kebakaran, Pemko Payakumbuh sempat membahas rencana revitalisasi Pasar Payakumbuh bersama konsultan Universitas Bung Hatta (UBH). Konsep yang pernah diusulkan mantan Wali Kota Payakumbuh, Riza Falepi, yaitu pembangunan pasar delapan tingkat, kembali diangkat.

“Dulu kami minta Pemda membeli toko-toko pedagang terlebih dahulu, tapi dijawab biayanya terlalu besar. Sekarang konsep itu dipakai lagi dengan istilah revitalisasi,” ujarnya dengan nada tegas.

IP3, kata Esa, tidak menolak pembangunan, namun meminta Pemda memperhatikan kondisi nyata pasar saat ini. “Kami tidak menolak pembangunan. Tapi tolong tata dulu pasar supaya pembeli ramai, jangan sampai kami dikorbankan,” tukasnya.

Hal yang makin menambah kecurigaan pedagang adalah soal CCTV milik Pemko. Menurut H. Esa, dua bulan sebelum kebakaran, CCTV di kawasan pertokoan tersebut justru dibongkar tanpa alasan yang jelas.
“Ini janggal. Sebelum kebakaran, CCTV milik Pemko dibongkar. Kami menduga ada pihak-pihak yang sengaja melemahkan sistem pengawasan pasar,” ujarnya.

IP3 menegaskan harapan agar kepolisian tidak tinggal diam. “Kami minta Kapolres dan jajarannya mengusut tuntas kebakaran ini. Ada indikasi kuat unsur kesengajaan atau kelalaian dari pihak-pihak tertentu. Pedagang jangan terus jadi korban,” pungkasnya.

Yon

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest