Pidie Jaya, investigasi.news – Bencana banjir telah surut. Namun ancaman justru dibiarkan menggantung di depan mata. Kawat Telkom menjuntai liar di sepanjang jalan dan depan rumah warga di Pidie Jaya—tanpa pengamanan, tanpa peringatan, dan tanpa kepedulian.
Ironisnya, sejak hari pertama banjir hingga lebih dari satu bulan setelahnya, kawat-kawat milik perusahaan telekom pelat merah itu tetap dibiarkan menjuntai rendah, seakan sengaja dipasang untuk menjerat siapa pun yang melintas.
Berdasarkan pantauan Investigasi, kondisi paling mengkhawatirkan ditemukan di Desa Meunasah Bie Meurah Dua. Di titik ini, kawat Telkom membentang sepanjang jalan umum, berada tepat di ketinggian leher orang dewasa, dan berpotensi mengancam nyawa setiap saat.
Lebih parah lagi, situasi ini bukan terjadi sehari atau dua hari. Fakta di lapangan menunjukkan, kawat berbahaya tersebut telah dibiarkan sejak banjir melanda hingga Sabtu, 27 Desember 2025—artinya, sudah lebih dari satu bulan tanpa penanganan apa pun.
Anehnya, kawat-kawat itu seolah tak bertuan. Tidak ada tanda perbaikan, tidak ada petugas, dan tidak ada upaya pengamanan. Pertanyaannya kemudian, apakah kawat ini sengaja dibiarkan menunggu korban?
Ataukah perbaikan baru akan dilakukan setelah ada warga yang terluka, tersangkut, atau bahkan kehilangan nyawa? Atau justru karena Telkom adalah anak perusahaan BUMN, sehingga merasa kebal dan bebas bertindak semaunya di lapangan?
Kekhawatiran warga pun tak lagi bisa disembunyikan. Mereka hidup berdampingan dengan ancaman setiap hari.
“Udah lama sekali, Bang, menjuntai di depan ruko kami sejak pertama banjir. Ini kalau kita lalai sedikit saja, bisa kena leher atau tersandung. Kalau kawat ini ditarik ke atas sebenarnya bisa, tapi dibiarkan seperti ini sangat berbahaya,” ujar Akop, warga setempat, sambil menunjuk kawat yang menjulur rendah.
Kini, pertanyaan besar menggantung bersama kawat itu:
Apakah Telkom benar-benar buta, atau sengaja memilih menutup mata?
(Herry)






