Setiap perjalanan hidup—baik dalam profesi, pertemanan, maupun pengabdian—tidak ada yang benar-benar mulus. Begitu juga menjadi seorang broker tanah. Ini bukan sekadar soal jual-beli properti, tapi tentang keteguhan hati, kesabaran, dan kejujuran dalam menjemput rezeki yang telah Allah tetapkan.
Setiap hari, saya memposting tanah-tanah titipan orang di media sosial, berharap ada calon pembeli yang tertarik. Tapi, seperti rezeki pada umumnya, tak ada yang pasti. Kadang dalam satu bulan tak ada satu pun yang terjual. Kadang pula, hanya berselang beberapa jam setelah posting, sudah ada yang menawar dan serius membeli. Tapi tak jarang pula, tanah yang sudah puluhan kali saya tunjukkan tak kunjung cocok di mata pembeli.
Yang paling menyakitkan adalah ketika semuanya sudah sampai di tahap akhir—perjanjian jual beli di notaris—namun dibatalkan sepihak. Ada juga yang menyebarkan fitnah, menuduh saya menaikkan harga tanah, padahal tidak. Ada yang menuduh saya tidak mempromosikan tanah mereka, padahal usaha sudah maksimal. Tuduhan-tuduhan ini terkadang datang dari orang yang saya hormati, yang sebelumnya saya anggap tidak mungkin mengecewakan saya.
Begitulah dinamika dunia perantara. Tidak semua orang memahami betapa beratnya perjuangan di balik layar. Tapi saya memilih untuk tetap sabar. Saya tanamkan dalam diri: jujur dan sabar adalah kunci utama bertahan sebagai broker. Karena saya yakin, kebohongan hanya akan menjauhkan rezeki dan membuat Allah murka. Dan rezeki yang berkah hanya akan datang kepada mereka yang menjaga integritas.
Sudah lebih dari sepuluh tahun saya menekuni profesi ini. Setiap tanah yang hendak dijual, sebisa mungkin saya bersihkan terlebih dahulu, agar calon pembeli yakin dan tidak ragu. Mungkin itulah yang membedakan saya dengan sebagian broker lain. Tapi meski sudah lelah membersihkan, mempromosikan, dan mendampingi, tak jarang tanah tersebut akhirnya dijual orang lain setelah masa titip jual berakhir. Saya tetap legawa—itu bukan rezeki saya.
Saya percaya, Allah telah menetapkan rezeki masing-masing hamba-Nya. Dan menerima itu semua dengan ikhlas adalah cara terbaik agar hati tidak tenggelam dalam kekecewaan.
Dalam menjalani profesi ini, saya juga tidak pernah lupa menyisihkan sebagian penghasilan untuk berbagi. Sebagian besar saya salurkan ke Panti Asuhan Putra Muhammadiyah Lubukbasung dan Pondok Pesantren Alquran Darul Inqilabi Lubukbasung. Bahkan ketika sedang tidak ada pemasukan, saya tetap memaksa diri untuk memberi—bukan hanya dalam bentuk materi, tapi juga tenaga dan waktu.
Setiap kali menerima titipan tanah, saya niatkan dalam hati bahwa ada rezeki orang lain yang harus saya bagi. Terutama untuk anak-anak yatim dan santri. Dengan niat itulah saya percaya bahwa Allah akan membuka jalan rezeki lebih luas.
Bagi saya, menjadi broker bukan sekadar soal keuntungan, tapi tentang keberkahan. Karena rezeki yang membawa manfaat bagi orang lain adalah rezeki yang tidak akan pernah putus.
Oleh: Hasneril, SE








