Sebuah Pelajaran dari Silaturahmi dan Keikhlasan

More articles

Ada perjumpaan yang terasa singkat, tetapi meninggalkan jejak panjang di hati. Siang itu, hampir setahun sudah tidak bertemu dengan Bapak Syafrudin, S.S., mantan anggota DPRD Agam empat periode. Tiba-tiba beliau datang berkunjung ke ruang Humas DPRD Agam, tempat yang dahulu, ketika masih aktif di DPRD, hampir selalu disinggahinya. Kini beliau disibukkan dengan amanah baru, mendampingi Buya Mahyeldi, Gubernur Sumbar.

Kunjungan itu mengingatkan kembali satu kisah lama, sebuah peristiwa di awal tahun 2014 yang sampai hari ini masih terasa hangat, meski sudah bertahun berlalu. Kisah sederhana tentang sebuah mobil Kijang kapsul, tapi justru menjadi saksi betapa indahnya keikhlasan, persahabatan, dan takdir Allah yang selalu memberi jalan.

Kala itu, Bapak Syafrudin tengah bersiap menghadapi kampanye. Beliau meminta tolong mencarikan mobil rental sesuai harga yang disebutkan. Kebetulan saat itu saya memiliki mobil Kijang kapsul, satu-satunya yang tersisa setelah usaha toko onderdil saya jatuh bangkrut. Tanpa pikir panjang saya katakan,
“Pak, tidak usah rental. Pakai mobil saya saja. Tidak perlu sewa.”

Beliau terkejut, bahkan sempat memastikan kembali apakah saya serius. Saya jawab dengan mantap, “Serius, Pak. Ambil saja. Semoga bapak terpilih kembali.”

Akhirnya, kunci dan surat-surat mobil saya serahkan. Hampir delapan bulan lamanya mobil itu dipakai beliau selama masa kampanye hingga pemilu usai. Dan benar, berkat izin Allah, beliau kembali terpilih menjadi anggota DPRD. Selesai pemilu, mobil itu pun dikembalikan.

Tidak berhenti sampai di sana. Suatu ketika beliau sempat meminta bantuan mencarikan Avanza untuk dibeli. Tapi, tak lama setelah itu, beliau kembali menghubungi saya. Katanya, ada permintaan khusus dari anaknya yang justru ingin mobil lama yang dipakai selama delapan bulan itu. “Anak saya rindu mobil itu, mobilnya harus kembali,” ujarnya sambil tersenyum.

Saya pun menjawab, “Kalau itu permintaan anak bapak, saya siap saja. Ambil kembali mobil ini, Pak.” Maka disepakatilah harganya, dan mobil itu dibawa kembali oleh beliau ke Bukittinggi.

Yang membuat hati saya bergetar adalah, tak lama setelah mobil itu dibeli beliau, Allah justru memudahkan jalan. Tidak berselang lama, saya dipertemukan dengan seorang sahabat baik yang menolong sehingga saya bisa mendapatkan mobil Avanza dengan harga terbaik. Sungguh, seolah Allah langsung mengganti dengan yang baru, lebih baik, setelah saya ikhlas melepas yang lama.

Itulah bukti nyata bahwa rezeki tidak pernah tertukar. Apa yang kita lepaskan dengan ikhlas, Allah akan kembalikan dalam bentuk yang bahkan lebih indah dari perkiraan kita.

Dan dari semua pengalaman itu, ada satu hal yang tak bisa saya lupakan: sosok Bapak Syafrudin sendiri. Beliau orangnya ramah, rendah hati, dan penuh kehangatan. Tidak pernah berjarak meski telah duduk di kursi dewan selama empat periode. Beliau bisa bercengkerama dengan siapa saja, tanpa pilih-pilih. Tidak heran banyak orang betah berada di dekatnya.

Kisah ini mengajarkan bahwa silaturahmi yang dijaga dengan ketulusan akan berbuah berkah. Bahwa membantu orang dengan hati lapang, tanpa pamrih, akan selalu mendatangkan jalan keluar yang tidak pernah kita sangka. Dan bahwa rezeki memang milik Allah—kita hanya dititipkan, dan akan diganti pada waktunya sesuai kadar keikhlasan kita.

Semoga Bapak Syafrudin senantiasa diberi kesehatan oleh Allah SWT, bersama keluarga yang beliau cintai. Dan semoga kisah kecil ini bisa menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa kebaikan yang tulus tak akan pernah hilang. Ia akan selalu kembali, entah dalam bentuk rezeki, ketenangan hati, atau hubungan yang terjalin indah hingga akhir hayat.

Penulis: Hasneril, SE

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest