“Barang siapa melepaskan seorang Muslim dari kesulitan dunia, maka Allah akan melepaskannya dari kesulitan di hari kiamat.” (HR. Muslim)
Di salah satu kampus ternama di Sumatera Barat, duduk termenung seorang mahasiswa di sudut gedung. Tangannya memegang pena tanpa kertas, namun tatapan matanya kosong, seolah pikirannya tertinggal di tempat lain. Meski begitu, ia tetap menyapa siapa saja yang lewat, meladeni obrolan ringan seolah tak ada beban.
Satu per satu mahasiswa memasuki ruang kuliah, namun ia masih duduk di luar. Ketika seorang teman mengajaknya masuk, ia menjawab dengan senyum, “Nanti aku menyusul.” Tapi di balik senyum itu, tersembunyi sebuah beban besar: ia belum membayar uang kuliah, dan hari itu adalah batas akhir pembayaran.
Tak disangka, seorang sahabat yang memperhatikannya dari jauh menghampiri. Dengan lembut, sahabat itu berkata, “Minggu depan kita ujian. Kalau kamu tidak ikut, aku juga tidak akan ikut. Ini, pakai uang ini untuk bayar semester.”
Sang mahasiswa menolak halus, karena ia tahu sahabatnya pun tengah kesulitan. Namun sahabatnya meyakinkan, “Ini bukan uangku. Aku pinjam dari saudaraku di Padang. Bayar kapan saja. Yang penting kamu bisa ikut ujian.”
Akhirnya, dengan berat hati dan mata yang mulai berkaca-kaca, ia menerima. Bersama-sama, mereka masuk ke kelas. Tak lama, ketua kelas mengumumkan bahwa siapa pun yang belum membayar hingga sore, tidak bisa ikut ujian. Tapi kali ini, sang wakil ketua kelas — mahasiswa tadi — maju ke bendahara dan membayar.
Semua mahasiswa bersorak gembira karena kini seluruh kelas bisa ikut ujian. Di antara kerumunan itu, dua pasang mata saling bertemu. Sebuah senyum lebar dari sang sahabat memberi isyarat: “Aku di sini untukmu.”
Sepulang kuliah, perut lapar mendorong sang mahasiswa menuju warung. Tapi sebelum tiba, sahabatnya menarik tangan dan mengajaknya makan di tempat biasa mereka dulu. “Hari ini aku yang traktir. Jangan bilang tidak,” katanya sambil tersenyum.
Dengan haru, sang mahasiswa hanya bisa membalas dengan senyuman. Ia sadar, jika tadi ia yang harus membayar, mungkin hanya mampu membeli teh manis dan roti karena uangnya hanya tersisa Rp40.000—cukup untuk ongkos pulang.
Di tengah rasa syukurnya, ia berkata dalam hati: “Allah sungguh Maha Tahu. Ia kirimkan pertolongan lewat tangan sahabat.”
Sang sahabat berpesan, “Jangan pernah bilang pada siapa pun soal uang tadi. Biar cukup kita yang tahu.” Dan sang mahasiswa mengangguk penuh haru.
Oleh: Hasneril, SE






