Malut, Investigasi.News – Sudah terlalu sering kita mendengar kata-kata Iman, Ilmu, dan Amal di forum-forum kaderisasi HMI. Tetapi, mari kita jujur—berapa banyak dari kita yang benar-benar menghidupkannya dalam gerak sehari-hari? Apakah tiga pilar ini masih menjadi nafas perjuangan, ataukah hanya tinggal slogan yang kita ucapkan tanpa makna?
Prof. Dr. Nurcholish Madjid—Cak Nur—pernah memberi kita warisan besar: Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP). Di dalamnya, tiga pilar ini bukan sekadar teori, tetapi kerangka hidup yang membentuk jati diri kader HMI. Iman sebagai pondasi moral, ilmu sebagai cahaya perjuangan, dan amal sebagai ujian nyata keduanya.
Cak Nur mengingatkan bahwa iman adalah jangkar yang menjaga agar perjuangan tidak terseret arus kepentingan sesaat. Namun, hari ini, kita menyaksikan sebagian kader mudah tergoda oleh kompromi politik, bahkan rela menukar idealisme dengan keuntungan sesaat. Iman yang seharusnya menjadi benteng, kini kerap retak ketika diuji oleh godaan kekuasaan.
Ilmu adalah kekuatan yang membedakan kader HMI dari aktivis biasa. Tetapi, kita juga harus mengakui, gairah intelektual itu kini mulai memudar. Diskusi yang dulu tajam kini berganti basa-basi; riset dan kajian mendalam kalah oleh kesibukan seremonial. Padahal, Cak Nur mengajarkan bahwa ilmu bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk membebaskan umat dari kebodohan dan ketidakadilan.
Amal yang benar adalah amal yang dirancang dengan visi dan dipandu oleh ilmu. Tetapi, realitas di lapangan menunjukkan banyak gerakan yang bersifat reaktif, tanpa kajian, dan akhirnya tidak berumur panjang. Kita bergerak, tetapi tanpa arah strategis yang jelas—seperti kapal yang berlayar tanpa kompas.
Cak Nur mengingatkan, iman tanpa ilmu akan kaku, ilmu tanpa iman akan buta, dan amal tanpa keduanya akan hampa. Sayangnya, di banyak cabang dan komisariat, keseimbangan ini hilang. Kita terjebak dalam dikotomi: ada yang sibuk berpikir tanpa bergerak, ada yang giat bergerak tanpa berpikir, dan ada yang kehilangan keduanya.
Jika kita benar-benar ingin menghidupkan kembali HMI sebagai agent of change dan guardian of values, maka kita harus kembali ke gagasan besar Cak Nur. Kita harus menjadikan iman sebagai orientasi moral yang tak tergoyahkan, ilmu sebagai pemandu strategi, dan amal sebagai bukti komitmen kita kepada umat dan bangsa.
NDP bukan sekadar dokumen; ia adalah janji kita kepada sejarah. Janji bahwa kita akan menjadi generasi yang memadukan kekuatan spiritual, intelektual, dan sosial dalam satu tarikan nafas perjuangan. Dan janji itu hanya akan hidup jika kita berhenti menjadikan iman, ilmu, dan amal sebagai kata-kata manis, dan mulai menjadikannya sebagai darah yang mengalir dalam setiap denyut gerakan kita.
Hari ini, saya mengajak seluruh kader HMI di mana pun berada: Mari kita rebut kembali ruh perjuangan ini. Mari kita hidupkan kembali gagasan besar Cak Nur. Mari kita buktikan bahwa Iman, Ilmu, dan Amal bukan sekadar semboyan—tetapi jalan hidup.
Oleh: Mohtar Umasugi








