Perjalanan dengan ANS: Kenangan, Pelayanan, dan Rasa Kekeluargaan

More articles

Lubuk Basung, 20 September 2025 – Ada yang berbeda setiap kali menumpang bus AKAP legendaris asal Ranah Minang: ANS. Bagi banyak perantau, bus ini bukan sekadar moda transportasi, melainkan juga bagian dari perjalanan hidup, penuh cerita dan kenangan.

Pagi itu, tepat pukul 08.00 WIB, saya memulai perjalanan dari loket ANS di Lansano, Lubuk Basung, Kabupaten Agam. Sesampainya di sana, saya disambut hangat oleh Romi, teman lama sekaligus agen bus. Sambutan ramahnya membuat suasana menjadi akrab sejak awal. Tak lama kemudian, saya berkenalan dengan asisten driver, Jimi, serta driver kedua, Uda Can. Meski baru berjumpa, keakraban terjalin seolah kami sudah lama bersahabat.

Bus yang akan saya tumpangi kali ini adalah ANS kelas Always Active Luxury. Interiornya bersih, terawat, dan nyaman. Saya sempat teringat masa lalu, ketika sekitar tahun 1980 saya pernah bekerja sebagai pencuci bus ANS yang kala itu masih berwarna putih biru dengan kaca besar. Nostalgia itu semakin hidup ketika Uda AN, petugas loket yang sudah lama mengenal sejarah ANS, membenarkan cerita lama saya.

Setelah semua penumpang naik, bus bergerak meninggalkan Lubuk Basung menuju Pool ANS di Jalan Khatib Sulaiman, Padang. Perjalanan terus berlanjut hingga ke Lubuk Buaya, di mana sosok sopir senior ANS, Mak Eri, bergabung. Nama beliau begitu dikenal di kalangan pecinta bus lintas Sumatera–Jawa, baik di jalan raya maupun di komunitas pecinta bus di media sosial.

Sebelum berangkat, Mak Eri tak lupa mengecek kebersihan lorong bus dan pendingin udara, sebuah kebiasaan disiplin yang menunjukkan standar pelayanan tinggi.

Perjalanan terasa nyaman dengan ritme berhenti yang teratur. Sekitar pukul 16.00 WIB, bus singgah di Rumah Makan Palapa, Muaro Takung, Kabupaten Sijunjung. Suara Jimi yang ramah mengingatkan penumpang untuk turun makan, lalu kembali tepat waktu. Sore itu, semua berjalan tertib.

Berhenti untuk shalat juga menjadi bagian dari perjalanan. Pukul 18.40 WIB, bus menepi di sebuah SPBU yang memiliki musala. Perjalanan malam pun dilanjutkan, hingga sekitar pukul 02.00 dini hari bus kembali berhenti untuk makan di Rumah Makan Wisata Minang.

Pagi menjelang, sekitar pukul 05.00 WIB, bus singgah di Betung untuk shalat Subuh. Kru bus pun ikut menunaikan ibadah bersama penumpang. Momen sederhana ini menciptakan rasa kebersamaan di antara kami.

Menjelang siang, pukul 10.14 WIB, kami makan di Rumah Makan Bagadang 3, Lampung Selatan. Meski ada penumpang yang lambat makan atau masih ke kamar kecil, kru bus dengan sabar menunggu dan mengingatkan tanpa tergesa-gesa.

Hasneril bersama sopir II yang biasa dipanggil Uda Can

Sekitar pukul 14.15 WIB, bus masuk ke dalam kapal penyeberangan. Kapal berangkat pukul 14.55 WIB, dan tepat pukul 17.00 WIB kami sudah menjejak daratan Jawa. Tanpa terasa, perjalanan dilanjutkan hingga akhirnya tiba di Terminal Poris, Tangerang, pukul 19.55 WIB.

Sesaat sebelum turun, saya bersalaman dengan Mak Eri di balik kemudi, juga dengan Jimi yang setia mendampingi sepanjang perjalanan. Dari awal hingga akhir, pelayanan kru bus terasa hangat, santun, dan penuh rasa kekeluargaan. Seolah-olah bukan hanya penumpang, tetapi serasa seperti dunsanak sendiri.

Perjalanan panjang bersama ANS kali ini benar-benar memberi kesan mendalam. Pelayanan yang ramah, disiplin waktu, serta perhatian terhadap kenyamanan dan ibadah penumpang membuat perjalanan lintas Sumatera–Jawa ini terasa ringan.

Terima kasih kepada seluruh kru ANS dengan julukan Always Active Luxury. Semoga di kesempatan lain kita bisa kembali bertemu di perjalanan penuh cerita ini. Malam itu saya turun dari bus dengan perasaan puas, dan hanya ada satu harapan: semoga bisa kembali menumpang ANS Always di lain waktu.

Penulis: Hasneril, S.E

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest