Malang, investigasi.news– Aktivitas pergerakan masyarakat yang terus meningkat membuat lalu lintas Kota Malang semakin padat dari waktu ke waktu. Kepadatan di sejumlah ruas utama menjadi sinyal kuat bahwa ekosistem transportasi kota harus beradaptasi lebih cepat. Menjawab tantangan tersebut, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang kini mempercepat modernisasi infrastruktur transportasi sebagai bagian dari persiapan menuju kelas kota metropolitan.
Kepala Dishub Kota Malang, Widjaja Saleh Putra, menegaskan bahwa perubahan status kota membawa konsekuensi besar pada standar layanan mobilitas publik.
“Ini hal yang tidak bisa dihindari karena status kelasnya berubah. Kami harus mendukung itu,” ujar Widjaja (9/12).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, per April 2025 jumlah kendaraan roda dua yang keluar-masuk Kota Malang mencapai hampir 420 ribu unit per hari. Sementara kendaraan roda empat mencapai 250 ribu unit. Volume sebesar ini menunjukkan bahwa kapasitas infrastruktur tidak lagi boleh stagnan.
“Pemenuhan disesuaikan dengan anggaran. Mana yang super prioritas, mana yang prioritas,” ujar Widjaja, yang akrab disapa Jaya.
Salah satu fokus percepatan adalah sektor pengendalian lalu lintas, terutama pada kesiapan simpang jalan. Saat ini Kota Malang memiliki 18 titik Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL). Namun 5–6 di antaranya masih bekerja secara manual dan belum terintegrasi ke Area Traffic Control System (ATCS).
“ATCS sudah ada, tetapi titik yang terintegrasi masih kurang 5–6,” jelas Widjaja.
Dishub telah mengajukan penambahan titik ATCS dan fasilitas keselamatan lainnya. Namun, pengadaan perangkat baru masih menunggu ketersediaan ruang fiskal daerah.
Evaluasi kebutuhan dilakukan secara berkala sehingga saat anggaran tersedia, proses penyempurnaan sistem lalu lintas bisa langsung dijalankan tanpa menunggu perencanaan ulang. Dishub menegaskan bahwa percepatan modernisasi ini bukan hanya persiapan administratif, tetapi langkah strategis untuk memastikan Kota Malang benar-benar siap naik kelas.
“Kalau infrastrukturnya siap, mobilitas bisa tertata, dan masyarakat merasakan manfaatnya,” tutup Widjaja.
Guh






